Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Bou Tebo Mondo Lo (bahasa Lio:hal ”berkumpul bersama”).


Ungkapan bou tebo mondo lo dilakukan atau diadakan oleh seisi kampung secara bersama-sama yang dalam proses upacaranya diketuai oleh kepala suku daerah setempat. Ungkapan ini biasanya dilakukan apabila masyarakat setempat mengadakan suatu kegiatan secara bersama-sama.

Di suatu wilayah di Nusa tenggara Timur tepatnya di kota Ende, terdapat suatu ungkapan yang dimaksudkan untuk melakukan sesuatu secara bersama agar kesatuan dalam hidup bermasyarakat semakin kuat. Ungkapan ini biasanya terjadi atau dilakukan pada saat masyarakat di kampung-kampung akan mengadakan suatu kegiatan bersama seperti dalam hal pernikahan, pembuatan rumah dan membuka ladang baru.

Dalam suatu kegiatan bersama, orang Ende-Lio sangat menghormati dan menghargai rasa kebersamaan. Ungkapan bou tebo mondo lo menjadi semacam batu dasar dalam kebersamaan mereka. Ungkapan ini akan sangat nyata ketika orang Lio melakukan suatu kegitan secara bersama-sama. Kebersamaan yang mereka jalin akan membuahkan hasil yang baik ketika mereka melakukan sesuatu.

Pada suatu kesempatan apabila ada anggota masyarakat yang hendak melakukan pernikahan atau hendak membuka ladang baru, mereka bersama-sama berkumpul dalam rumah adat untuk membicarakan bagaimana mereka harus melakukan sesuatu untuk membantu salah satu anggota masyarakat tersebut yang akan melangsungkan pernikahan atau yang akan membuka ladang baru. Pembicaraan biasanya dimulai oleh kepala suku kemudian ditanggapi oleh masyarakat kampung. Pembicaraan yang dilakukan oleh kepala suku biasanya dimulai dengan suatu ungkapan di mana ungkapan tersebut merupakan suatu bentuk motivasi agar masyarakat dapat bersama-sama dengan sehati-sejiwa dalam membantu salah satu anggota masyarakatnya ketika hendak melukakan suatu upacara.

Pertama-tama yang diucapkan oleh kepala suku biasanya demikian; “bou tebo mondo lo maksudnya adalah ketika mereka berkumpul bersama, harus ada ikatan yang kuat dan harus memiliki rasa persatuan yang tinggi agar apa yang mereka lakukan dapat berhasil dengan baik. Bantuan yang mereka lakukan kepada salah satu anggota masyarakat tersebut harus dengan sungguh-sungguh dan bermanfaat baginya. Ozias (1990:31) mengatakan bahwa untuk lebih memperkuat kebersamaan dan pemersatuan dalam melakukan segala hal termasuk dalam hal membantu anggota masyarakat tertentu, masyarakat Lio seia sekata dalam persatuan seperti lidi yang diikiat kuat dan seperti tali yang berpintal tiga yang tidak gampang dipatahkan dan diputuskan. Maksudnya bahwa dalam membantu sesama yang membutuhkan mereka harus dengan rela hati memberi bantuan dan bantuan itu harus dilakukan oleh semua anggota masyarakat tanpa terkecuali sehingga rasa kebersamaan itu muncul dan akan menjadi lebih kuat.

Harus diakui bahwa orang Lio memiliki rasa kebersamaan yang tinggi dalam kehidupan sehari-sehari. Kebersamaan itu mereka tunjukkan dalam sikap saling membantu antar sesama mereka. Saling membantu bagi masyarakat Lio adalah suatu keharusan. sikap saling membantu ini bukan dalam arti timbal balik. Artinya bahwa dalam membantu sesama, mereka sama sekali tidak mengharapkan imbalan. Bagi mereka, menolong sesama adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan dalam kehidupan bersama. Saling membantu yang dilakukan oleh masyarakat Lio adalah wujud dari rasa cinta kepada sesama. Dalam hal ini, orang Lio sangat memahami arti kebersamaan walaupun pemahaman mereka tergolong masih sangat tradisional. Orang Lio dalam kebersamaannya saling bertukar pikiran ketika mereka hendak melakukan sesuatu. Mereka duduk berunding bersama ketika mereka hendak menolong sesamanya agar apa yang mereka lakukan tersebut tepat sasaran. Dalam arti bahwa ketika membantu sesamanya, bantuan itu harus sungguh-sungguh bermanfaat. Untuk memberi bantuan, kepala suku harus pertama-tama member tahu apa yang harus mereka lakukan dan pemberitahuan tersebut harus diadakan dalam satu rumah adat dengan maksud bahwa pemberitahuan itu sifatnya resmi dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun (bdk. Ozias, 1990: 47).

Pemikiran untuk hidup secara sosial bersama dalam masyarakat Ende Lio sudah ada dan itu diwariskan secara turun temurun. Pemikiran yang demikian akan melahirkan pula musyawarah. Munculnya biasanya pada saat sebelum sutau kegiatan penting dilakukan dalam keluarga atau suku. Yang diundang hadir adalah mereka yang termasuk orang penting dalam keluarga atau suku. Sering terjadi mereka datang secara spontan dan suka rela tanpa diundang. Kehadiran mereka dalam musyawarah dihormati dan dihargai, sekaligus mereka memperkuat serta menjamin ikatan kekeluargaan dan kerukunan keluarga serta suku. Mereka pasti hadir kalau tak berhalangan, karena kehadiran mengangkat kewibawaan diantara sesama anggotanya ( Ozias, 1990:45-46)

Orang Lio berpikir secara konkret dalam hubungannya dengan kawin-mawin atau oleh letak geografis. Dalam urusan perkawinan misalnya, banyak pihak ikut melibatkan diri karena suka rela, demi kerukunan dan persaudaraan dalam kampung. Pengadaan acara “ minu ae petu” atau minum air panas, untuk menghimpun anggota-anggota keluarga dan suku, biasanya sebagai langkah awal keterlibatan semua anggota suku, sebelum pesta nikah. Masyarakat Lio mengenal juga kerja sama dalam membuat kebun, di mana orang secara suka rela mengulurkan tangan untuk membantu. Sikap semacam ini pun sekarang kian menyusut. Kerja kebun atau mempunyai beberapa cara seperti kerja sama bergotong royong, bersama-sama menyiangi rumput dan menginjak padi beramai-ramai.

Berkumpul bersama untuk membicarakan atau melakukan sesuatu bagi orang Lio memiliki suatu makna yang sangat mendalam. Lewat kegiatan berkumpul bersama tersebut akan tercipta atau terjalin hubungan yang mesara antara anggota masyarakat. Misalnya dalam bekerja, mereka akan bahu-membahu membantu yang lain agar apa yang dikerjakan dapat berhasil dengan baik. Relasi yang demikian menandakan bahwa masyarakat Lio sudah mengenal apa yang disebut arti kerja dan persahabatan. Dalam kerja, mereka antara satu dengan yang lainnya akan menemukan arti hidupnya sebagai manusia. Kerja menjadi cetusan relasi manusiawai. Lewat kerja mereka akan bersahabat antara satu dengan yang lainnya.

Cetusan dari berkumpul bersama seperti yang dilakukan oleh orang Lio yang dengan sendirinya dari kegiatan tersebut menghasilkan suatu relasi yang mendalam menandakan bahwa masyarakat Lio juga merupakan masyarakat filosof. Hal ini nampak dalam konsep kerja yang darinya tumbuh suatu relasi persahabatan yang luar biasa. Beberapa tokoh terkenal juga telah membahas mengenai makna kerja dan persahabatan ini. Seorang filosof, John Locke, menegaskan bahwa karena kerja, manusia memiliki dirinya dan segala yang diperlukan untuk melanjutkan keberlangsungan hidupnya. Kerja bukan menjadikan orang lain sebagai budak atau kerja menjadi sarana untuk menindas orang lain( Riyanto 2013: 121). Bou Tebo Mondo Lo yang telah dilakukan oleh orang Lio dan diwariskan turun temurun menjadi dasar atau pegangan bagi mereka dalam kehidupannya sehari-hari terutama dalam hal melakukan sesuatu secara bersama-sama dalam masyarakat tersebut.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Da Gomez, E.P, 2007. Sepanjang Jalan Kenangan: Rekaman Proses Suksesi Bupati Sikka (1959-2003) Dari P.S. Da Cunha Hingga DRS. Alexander Longginus, Maumere: Yayasan Kasimo Cabang Sikka.

    Fernandez, Stephanus Ozias. 1990. Kebijaksanaan Manusia Nusa Tenggara Timur Dulu dan Kini, Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.

    Riyanto, Armada. 2013. Menjadi Mencintai, Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Kula Kame (Bahasa Lio: bertukar-pikiran)  Mi Are (Bahasa Lio: Syukuran Atas Hasil Panen)  Jila Ngere Nenu Sina (Bahasa Lio: Ungkapan untuk hidup yang harmonis, bersih, dan benar) 

    Oleh :
    Yohanis Yustinus Doi ()