Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

GEDHO LOZA (Bahasa Nagekeo,NTT: Keluar Dari Kampung) SEBAGAI UPACARA PENDEWASAAN LAKI-LAKI NAGEKEO


Gedho Loza (Bahasa Nagekeo,NTT:Keluar dari kampung) merupakan upacara yang sudah turun-temurun bagi masyrakat Nagekeo. Upacara ini hampir sama dengan Upacara sorongi’is (Bahasa Nagekeo,NTT: Upacara pendewasaan perempuan Nagekeo). Perbedaanya ialah upacara pendewasaan bagi laki-laki Nagekeo ini lebih sederhana. Dalam pengertian harafiahnya memang keluar dari kampung. Namun upacara ini adalah proses pendewasaan laki-laki Nagekeo yang sama dengan khitanan dalam budaya Jawa.

Dalam peralatan yang digunakan, upacara khitanan laki-laki Nagekeo tidak jauh berbeda dengan khitanan masyarakat Jawa. Namun dalam khitanan laki-laki Nagekeo alat yang digunakan tidak hanya pisau tajam melainkan juga koi (Bahasa Nagekeo,NTT:alat yang digunakan dalam proses sunat laki-laki Nagekeo) yang terbuat dari sepotong kayu yang diraut sedemikian rupa sebagai alas sunat. Selain kayu alas sunat ini juga dapat dibuat dari tempurung kelapa. Selain itu juga ada bhoda ta’i hati (Bahasa Nagekeo,NTT: adalah alat penunjang khitanan laki-laki Nagekeo yang adalah bongkahan tanah bekas rumah cacing) yang diletakkan dibawah alat kelamin laki-laki yang disunat untuk menadah darah yang keluar dari luka sunat.

Masyarakat Nagekeo percaya bahwa jumlah tetesan darah yang keluar menandakan jumlah keturunan yang akan dimiliki oleh anak laki-laki ini kelak. Apabila tetesan darah yang keluar 1-2 tetes menandakan bahwa kelak ia akan memiliki keturunan yang sedikit dan bahkan tidak mempunyai keturunan. Sedangkan bila tetesan darah yang keluar 3-4 tetes, maka kelak anak ini akan mempunyai keturunan yang banyak.

Dalam prosesnya anak laki-laki yang hendak disunat bersiap dalam keadaan telanjang. Setelah siap anak tersebut akan ditutup matanya oleh pembantu atau asisten tukang sunat. Setelah ditutupi matanya tukang sunat akan memulai proses sunat. Tukang sunat akan menghadap ke anak laki-laki tersebut sambil membawa pisau dan alas sunat, membuka kulit bagian luar (kulup) alat kelamin, kemudian memasukkan alas sunat diantara daging dan kulit. Setelah itu tukang sunat akan mulai mengiris kulit alat kelamin bagian ujung dari anak laki-laki tersebut sampai pada bagian tertentu.

Perbedaan proses sunat atau khitan laki-laki Nagekeo dengan Jawa ialah dalam proses sunat atau khitanan ini, laki-laki Nagekeo yang sedang disunat memiliki pantangan. Pantangan ini ialah bahwa anak laki-laki tersebut tidak boleh gegha (Bahasa Nagekeo,NTT: artinya kaget) atau menggerakkan pinggulnya ke arah depan. Karena apabila salah satu dari dua pantangan tersebut terjadi kelak dikemudian hari anak laki-laki tersebut akan mendapat musibah atau umurnya pendek.

Oleh sebab itu untuk menghilangkan resiko tersebu perlu diaadakan semacam tolak bala dengan membasahi kaki dan tangan anak laki-laki tesebut dengan darah anak ayam serta diperciki air kelapa muda, kemudian dibuang ke arah matahari terbenam. Anak ayam yang digunakan dalam tolak bala ini haruslah anak ayam yang baru menetas yang kemudian dipotong paruhnya.

Setelah disunat anak laki-laki tersebut tinggal di pondok yang ada di kebun dan menghindar untuk bertemu dengan perempuan. Tujuan dari pengasingan ini ialah agar anak laki-laki tersebut tidak dapat ereksi. Apabila ia hendak ereksi, maka ada tongkat kayu yang diberikan kepadanya untuk memukul dengkulnya sendiri sehingga tidak jadi ereksi.

Apabila sudah sembuh, anak laki-laki tersebut mengumpulkan ayam dan beras untuk makan bersama dengan tukang sunat. Hal ini sebagai bentuk dan ucapan terima kasih. Apabila sudah selesai maka anak laki-laki itu dapat kembali ke rumahnya, dan berbaur kembali dengan masyarakat sekitar.

Proses khitanan atau sunatan bagi masyarakat Nagekeo ini secara mendalam mau mengajarkan sebuah nilai akan tanggung jawab orang tua bagi anaknya. Selain itu dalam prosesnya keterlibatan yang lain juga mengambil peran yang besar. Sehingga acara khitanan atau sunatan masyrakat Nagekeo ini juga melambangkan persaudaraan yang erat. Relasi persaudaraan ini sangatlah erat dalam kaitannya dengan etika komunitarian dimana orang lain bukanlah orang asing melainkan saudara yang juga mengambil peran dalam kehidupan sesamanya termasuk dalam kehidupan keluarganya.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Bau Engo, Cyrillus. 2016. Budaya Nagekeo.Mbay:Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

    Wiyasa,Thomas.1996.Upacara Tradisional Masyarakat Jawa.Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.


    Lihat Juga

    “Boka Mata LE E’E.” (Bahasa Nagekeo, NTT: ungkapan dalam kematian masyarakat Nagekeo)  “Too Jogho Waga Sama, Bani Papa Kapi Tego Papa Leung.” (Bahasa Nageko, NTT: ungkapan adat yang berkaitan dengan semangat gotong royong masyarakat Nagekeo)  PAPA BE’O NE’E ULU EKO, PAPA NE’E PADHI LANGE (Bahasan Nagekeo, NTT:Saling Mengenal Dan Saling Berbaikan Dengan Tetangga) 

    Oleh :
    Antonius Alfredo Poa ()