Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

“Boka Mata LE E’E.” (Bahasa Nagekeo, NTT: ungkapan dalam kematian masyarakat Nagekeo)


Dalam masyarakat Nagekeo kematian merupakan suatu akhir dari perjalanan hidup seseorang yang dalam bahasa Nagekeonya disebut dengan boka mata le e’e (Bahasa Nagekeo,NTT: Ungkapan dalam kematian masyarakat Nagekeo). Disini bisa kita lihat bahwa hidup bagi orang Nagekeo adalah sebuah peziarahan.Bukan suatu keadaan yang tinggal menetap. Lalu apa tujuan dari peziarahan tersebut? Ungkapan ini sebenarnya memilki sebuah kelanjutan, yang dikenal dengan “Wado ena Ngga’e” (Bahasa Nagekeo, NTT: secara harafiah berarti kembali ke pangkuan Ilahi).

Namun pada paper ini, penulis hanya akan menekankan ungkapan Boka Mata LE e’e(Bahasa Nagekeo, NTT: ungkapan dalam kematian masyarakat Nagekeo).Ungkapan ini dapat kita bandingkan dengan ungkapan dalam masyrakat Jawa yang juga memiliki arti yang sama yaitu, “Urip Ngibarate Kaya Wong Mampir Ngombe.” (Bahasa Jawa: secara harafiah berarti hidup ibarat orang berjalan kemudian berhenti sejenak, untuk minum dan meneruskan perjalanannya lagi) (Soesilo,2005:303)

Dalam budaya Jawa ungkapan Urip Ngibarate Kaya Wong Mampir Ngombe (Bahasa Jawa: secara harafiah berarti hidup ibarat orang berjalan kemudian berhenti sejenak, untuk minum dan meneruskan perjalanannya lagi) menunjukkan bahwa hidup di dunia tidaklah abadi, hidup yang sesungguhnya kalau orang itu sudah meninggal. Ungkapan ini dapat kita temukan dalam lagu Dandanggula (Soesilo,2005:303) yang merupakan salah satu dari syair- syair Jawa.

M. Scott Peck dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Rohani Tanpa Akhir berpendapat bahwa

“Pengetahuan bahwa kehidupan adalah terbatas memenuhi jiwa dan pikiran banyak orang dengan perasaan yang tak berarti. Karena kita akan dipotong-potong oleh Grimm Reaper seperti jerami, apa makna keberadaan kita sebagai manusia yang tidak berharga ini? Yang jelas, kita akan hidup terus untuk sementara bersama anak-anak kita, namun sementara generasi selanjutnya akan menggantikan kita dalam waktu yang relatif singkat, kenangan kepada diri kita akan segera lenyap.” (Peck,2001:46)

Hal ini sudah jelas bahwa hidup tidak lain adalah sebuah peziarahan. Peziarahan yang tidaklah lama sebagaimana kita harapkan. Bahkan bagi Scott Peck setelah kepergian kita, kenangan akan diri kita akan lenyap. Lenyap seiring berkembangnya generasi baru.

Namun bagaimana dengan realitas zaman ini? Manusia zaman sekarang tentu sangatlah takut akan kematian ini. Bahkan Scott Peck dalam prakteknya sebagai seorang psikoterapi kerap menemukan permasalahan dimana ia harus menyadarkan pasiennya akan realitas kematian (Peck,2001:48)

Dari sebab itu pada zaman yang modern ini, manusia juga berusaha sekuat tenaga untuk menemukan metode-metode baru yang mendukung kehidupan mereka. Salah satu penemuan yang paling fenomenal ialah sel punca. Sel punca adalah salah satu dari sekian teknologi biomedis yang bertujuan untuk terapeutik maupun untuk reproduksi. Dikatakan fenomenal karena dalam penggunaanya, sel punca dapat berkembang biak untuk menjadi sel-sel jaringan organ tubuh tertentu atau menjadi sel-sel pengganti sel-sel yang rusak demi mempertahanan kehidupan organisme. (Marianta,2012:21)

Apakah tindakan ini benar? Dari satu sisi tindakan manusia ini tidaklah salah, mengapa? Karena ini menandakan bahwa manusia sangat menghargai kehidupan. Namun di satu sisi tindakan ini kurang tepat bahkan bisa dikatakan salah, karena kematian adalah hal yang tidak dapat dihindari. Dalam hidup berdampingan pulalah dengan kematian. Oleh sebab itu dalam ungkapan Bahasa Indonesia dapat kita temukan ungkapan yang berbunyi ada perjumpaan ada pula perpisahan.

Berkaitan dengan hidup yang adalah suatu perjalanan. Kita bisa melihat pandangan yang sama dalam filsuf barat, yaitu Heidegger dalam pemahamannya mengenai penderitaan dan kematian. Bagi Heidegger kematian bukanlah saat dimana Tuhan mencabut nyawa manusia. Kematian itu merupakan batas peziarahan, perjalanan-Menjadi dari manusia. Sehingga kematian bagi Heidegger adalah saat dimana manusia mengalami semacam “tahapan” eksistensial. Ia berada dalam In-Between eksistensialnya. (Riyanto,2017:239)

Pandangan Heidegger meng Nagenai In-Between merupakan pandangan akan kebenaran bahwa hidup manuisa itu Berjalan-Menjadi-Mencintai (Riyanto,2017:239). Heidegger jelas bukan filsuf yang mau membahas mengenai kematian secara khusus dan kelanjutannya. Tetapi, Heidegger mau mengingatkan kita melalui pandangan filosofisnya, bahwa kematian mengingatkan kita akan keindahan kehidupan.

Keindahan yang sudah berada tetapi juga belum berada dalam kepenuhannya. Sehingga bagi Heidegger penderitaan dan kematian adalah sarana untuk mencapai kepenuhan manusia itu sendiri.

Oleh sebab itu melalui ungkapan Boka Mata Le e’e masyarakat Nagekeo secara khusus diharapkan mampu memandang kematian bukan sebagai pengalaman atau peristiwa yang buruk. Melainkan suatu peristiwa dimana manusia berziarah untuk mencapai kepenuhannya.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Bau Engo, Cyrillus. 2016.Budaya Nage Perjalanan Hidup orang Nage di Nagekeo.Mbay: Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

    Peck,Scott M. 2001.Perjalanan Rohani Tanpa Akhir. terj Sanudi Hendra.

    Jakarta:Prenhallindo.

    Riyanto, Armada. 2017. Menjadi Mencintai. Yogyakarta:Kanisius.

    Yustinus.(ed).2012. Embrio:Ciptaan Tuhan atau Produk Manusia?.

    Malang: STFT Widya Sasana.


    Lihat Juga

    GEDHO LOZA (Bahasa Nagekeo,NTT: Keluar Dari Kampung) SEBAGAI UPACARA PENDEWASAAN LAKI-LAKI NAGEKEO  “Too Jogho Waga Sama, Bani Papa Kapi Tego Papa Leung.” (Bahasa Nageko, NTT: ungkapan adat yang berkaitan dengan semangat gotong royong masyarakat Nagekeo)  PAPA BE’O NE’E ULU EKO, PAPA NE’E PADHI LANGE (Bahasan Nagekeo, NTT:Saling Mengenal Dan Saling Berbaikan Dengan Tetangga) 

    Oleh :
    Antonius Alfredo Poa ()