Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

“Too Jogho Waga Sama, Bani Papa Kapi Tego Papa Leung.” (Bahasa Nageko, NTT: ungkapan adat yang berkaitan dengan semangat gotong royong masyarakat Nagekeo)


Ungkapan “too jogho waga sama, bani papa kapi tego papa leui”(Bahasa Nagekeo,NTT: Ungkapan adat berkaitan dengan semangat gotong royong) adalah ungkapan yang selalu menjadi pengingat masyarakat Nagekeo akan semangat gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun. Ungkapan ini secara harafiahnya adalah marilah kita bersama-sama bekerja dan bersusah sama. Melalui arti harafiah ini, kita bisa melihat semangat gotong royong yang diwariskan oleh para leluhur.

Secara nyata ungkapan ini dapat dilihat dalam usaha membangun persawahan di Mbay yang adalah kota kabupaten Nagekeo. Dalam kegiatan tersebut seluruh masyarakat Nagekeo ikut berpartisipasi aktif dalam menggali parit primer dan sekunder (Engo,2010:1). Istilah gotong royong sendiri juga pertama kali tampak dalam tulisan-tulisan mengenai hukum adat dan juga karangan tentang aspek sosial dalam dunia pertanian.(Bintarto,1980:9)

Dalam budaya Jawa, too jogho waga sama, bani papa kapi tego papa leung dapat diidentikan dengan ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe.(Bahasa Jawa: Sepi dalam pamrih, ribut dalam bekerja) Istilah ini diartikan dengan segala sesuatu dikerjakan dengan tulus ikhlas, tanpa digembar-gemborkan, yang penting hasil kerja nyata. Demi ketentraman dan kebahagiaan serta kedamaian umat di dunia (Soesilo,2005:271).

Dari ungkapan too jogho waga sama,bani papa kapi tego papa leung dan tepa selira. Kita bisa melihat bahwa gotong royong merupakan nilai yang bukanlah asing bagi bangsa Indonesia melainkan sebuah modal sosial yang telah dimiliki bangsa ini sejak zaman dahulu. Juga hadir dalam setiap masyarakat adat. Hal itu tercermin dalam tindakan hidup mereka sehari-hari.

Dalam konteks manusia pada zaman modern ini, konsep gotong royong juga mengalami perkembangan. Tidak hanya dalam lingkup kecil namun dalam lingkup yang lebih luas. Hal tersebut nyata dalam usaha pembangunan pertahanan keamanan nasional, pemeliharaan stabilitas nasional dan demokrasi ekonomi (Bintarto,1980:21). Sehigga gotong royong tidak hanya sebatas pekerjaan tangan, namun juga dapat berupa buah pikiran demi kepentingan bersama.

Di era globalisasi ini rasanya sulit untuk melaksanakan gotong royong. Mengapa? Alasannya tidak lain adalah zaman modern ini telah membentuk budaya-budaya baru yang tidak lagi mengedepankan kehidupan bersama melainkan kehidupan pribadi yang terkenal dengan budaya individualisme. Contoh konkret yang dapat kita lihat ialah bagaimana orang bekerja dengan ukuran diri sendiri. Apa untungnya bagi saya? Atau apa imbalan yang saya terima? Hal ini jelas bertolak belakang dengan prinsip gotong royong yang berlandaskan kerelaan diri dan tanpa pamrih.

Selain karena perkembangan zaman, kurangnya kesadaran dalam diri seseorang untuk membangun kerja sama demi kehidupan bersama yang baik juga merupakan salah satu faktor sulitnya pelaksanaan gotong royong.Pertanyaan yang penting sekarang ialah bagaimana budaya gotong royong ini dapat tetap diteruskan pada generasi selanjutnya di era globalisasi ini. Salah satu usaha dan sarana yang tepat ialah melalui pendidikan.

Pendidikan yang dimaksudkan ialah tidak hanya pendidikan formal seperti IPA,IPS,Matematika, bahasa, dsb tapi juga budaya. Pendidikan budaya tersebut ialah pendidikan yang berangkat dari akar budaya bangsa Indonesia. Yang tercermin dalam berbagai tindakan upacara dan ungkapan- ungkapan tradisional seperti too jogho waga sama, bani papa kapi tego papa leung (Bahasa Nagekeo,NTT: Ungkapan adat berkaitan dengan semangat gotong royong) serta sepi ing pamrih rame ing gawe.(Bahasa Jawa: Sepi dalam pamrih, ribut dalam bekerja)

Oleh sebab itu sangatlah penting bagi masyarakat Nagekeo secara khusus untuk mengerti dan memahami too joho waga sama, bani papa kapi tego papa leung (Bahasa Nagekeo,NTT: Ungkapan adat berkaitan dengan semangat gotong royong). Pemahaman mereka akan ungkapan tradisional ini dapat membawa mereka dalam pencapaian maksimal nilai gotong royong. Juga semua warga Indonesia secara umum yang hidup dalam budayanya masing-masing.

Dalam kaitannya dengan filsuf barat, nilai gotong royong dalam too joho waga sama, bani papa kapi tego papa leung sejalan dengan pemikiran Levinas akan konsep liyan. Liyan yang tidak lain adalah komponen relasi inter subjektif. Pandangan Levinas akan liyan ini merupakan makna baru dimana liyan bukan lagi “orang pinggiran” melainkan aku yang lain. Pandangan yang menggambarkan etika komunitarian. Etika komunitarian inilah yang hendaknya selalu menjadi dasar dalam kehidupan masyarakat Nagekeo.

  • Lihat Juga

  • Lihat Juga

    “Boka Mata LE E’E.” (Bahasa Nagekeo, NTT: ungkapan dalam kematian masyarakat Nagekeo)  GEDHO LOZA (Bahasa Nagekeo,NTT: Keluar Dari Kampung) SEBAGAI UPACARA PENDEWASAAN LAKI-LAKI NAGEKEO  PAPA BE’O NE’E ULU EKO, PAPA NE’E PADHI LANGE (Bahasan Nagekeo, NTT:Saling Mengenal Dan Saling Berbaikan Dengan Tetangga) 

    Oleh :
    Antonius Alfredo Poa ()