Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

La’at (Bahasa Manggarai: melawat, menjenguk, mengunjungi) (Verheijen, 1967: 239)


Orang Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengenal sebuah kebiasaan yang disebut la’at (Bahasa Manggarai: melawat, menjenguk, mengunjungi). La’at dapat terungkap dalam berbagai bentuk, seperti la’at meka weru (mengunjungi bayi yang baru lahir), la’at ata beti (menjenguk orang sakit), la’at anak wina (mengunjungi keluarga kerabat asal suami), la’at anak rona (mengunjungi keluarga/kerabat asal isteri), dan lain sebagainya. La’at merupakan kebiasaan bahkan kewajiban dalam hidup dan kebersamaan orang Manggarai. La’at dapat dilakukan oleh siapapun.

Ada beberapa hal yang terungkap dalam la’at. Pertama, La’at merupakan ekspresi dari relasi yang dalam. Relasi yang terjalin secara akrab dan dalam memungkinkan orang Manggarai melakukan la’at. Relasi ini lebih daripada sekadar karena hubungan darah. La’at merupakan ungkapan penghormatan (penghargaan), rasa rindu, kasih sayang dan untuk saling mngetahui keadaan keluarga atau keadaan siapa saja yang dikunjungi (bdk. Nggoro, 2013: 62).

Kedua, la’at adalah sebuah tanggung jawab. La’at bukan hanya merupakan sebuah kesempatan untuk melepaskan penat atau meluapkan perasaan atau pergulatan hidup. Akan tetapi, terutama, merupakan sebuah tanggung jawab dari sosialitas. La’at menjadi kesempatan untuk saling mengingatkan dan menyadarkan satu sama lain bahwa setiap orang Manggarai mempunyai tanggung jawab untuk menyatakan saling keterkaitan satu sama lain.

Ketiga, la’at merupakan ekspresi dari sosialitas. Jelas tak terbantahkan bahwa manusia memiliki hakikat “sosial” dalam kehadiran dirinya. Inilah yang disebut sebagai kodrat sosialitas. Sosialitas mengatakan perkara “menjadi sesama” bagi yang lain dan memandang yang lain sebagai sesama bagiku (Riyanto, 2013: 204). Di sini, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa la’at merupakan kodrat sosialitas orang Manggarai.

Kalau mau digali lebih dalam mengenai la’at, kiranya benar apa yang dikatakan oleh Armada Riyanto bahwa sosialitas manusia ada dalam kesehariaannya. Jika sehari-hari dia tidak menampilkan hidup yang menghargai dan membela kehidupan dari sesamanya (terutama yang menderita dan miskin), manusia berada dalam ketersembunyian sosialitasnya (Riyanto, 2013:2015). La’at merupakan ekspresi sosialitas orang Manggarai yang dinyatakan dalam keseharian hidupnya. La’at itu tidak berbicara mengenai sebuah kesempatan tertentu yang telah ditetapkan dan harus ditaati demikian. La’at berada dalam tataran pemberian diri terhadap sesama yang diungkapkan melalui perhatian, pemberian diri, saling berbagi. La’at bukan berbicara mengenai “siapa mau dan siapa tidak mau”. Akan tetapi berbicara mengenai kesadaran yang disertai dengan semangat mencintai kebersamaan dan persaudaraan, berikut memberikan diri baginya.

La’at dalam konteks sebagi ekspresi dari sosialitas dapat menjadi sebuah kesempatan untuk memperkuat persaudaraan, persahabatan. Juga sebagai kesempatan untuk saling mengenal. Di sini ada tanggung jawab untuk memperhatikan sesama sebagai masyarakat yang hidup berdampingan. Tidak terbuka kesempatan untuk gosip (membicarakan kejelekan orang lain), karena yang terjadi dalam la’at adalah pengungkapan isi hati dan pergulatan hidup.

Keempat, la’at merupakan kesempatan untuk berbagi. Kunjungan terhadap sesama entah sebagai keluarga atau kenalan merupakan kesempatan untuk berbagi. Ada banyak hal yang bisa dibagi saat la’at, seperti pengalaman hidup, cinta, perhatian (dimensi psikologis) hasil panen, rezeki (dimensi fisiologis). Ini merupakan konsekuensi dari keberadaan orang Manggarai yang hidup bersama dengan yang lain. Orang Manggarai ingin membagikan hidupnya bagi sesama. Ini merupakan sebuah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan. Tidak ada satu pun peluang bagi pendewaan terhadap kepentingan diri sendiri, melainkan berjuang bagi kebersamaan, kebahagiaan sesama. Sampai pada titik ini la’at menjadi perkara pemberian diri yang utuh dan total bagi sesama.

Kelima, la’at merupakan aktivitas cinta. La’at tidak bisa tanpa disertai oleh rasa cinta yang dalam terhadap orang yang dikunjungi. Dengan kata lain, tidak ada relasi dan semangat berbagi yang luput dari kehadiran cinta. Cinta merupakan jiwa atau prinsip dari la’at. Tidak ada la’at yang bisa dimaknai tanpa cinta.

Orang yang mencintai adalah orang yang menyatukan diri. Cinta itu energi yang menyatukan (Riyanto, 2013: 157). Dalam pemahaman ini, la’at sebagai aktivitas cinta merupakan sebuah usaha dan proses menyatukan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain. La’at sebagai aktivitas cinta berada pada tataran mencintai sebagai pemberian diri. Pandor mengungkapkan bahwa pemberian diri merupakan sebuah tindakan yang paling bernilai dan lengkap. Ia tidak bisa ditukar dengan harta atau dihargai dengan uang. Dalam pemberian diri, cinta mencapai puncaknya. Karena itu, cinta tidak sekadar eros (cinta kenikmatan), tidak juga sekadar philia (cinta persahabatan), tetapi merupakan agape (cinta pemberian diri) (Pandor, 2014: 83)

La’at dapat menjadi sebuah kesempatan utuk memperdalam rasa cinta kepada sesama. Juga menjadi kesempatan untuk belajar mencintai secara baru. La’at dapat merupakan sebuah “sekolah cinta” bagi orang Manggarai. Materi utama yang disajikan adalah pemberian diri tanpa batas. Ia bergerak atau berlangsung dalam kurikulum kesadaran. Artinya, aktivitas mencintai itu memiliki proses yang harus dilalui dengan sebuah belajar tanpa henti.

Keenam, la’at lebih dari sekadar bertamu. La’at tidak sama dengan bertamu seperti biasanya menurut kebiasaan orang Manggarai, yaitu léjong (bertamu). Léjong lebih menunjuk pada kebiasaan bertamu tanpa disertai hal-hal seperti terungkap dalam la’at.

Manusia selalu hidup bersama orang lain. Dia tidak hanya menempati sebuah posisi di samping yang lain, tetapi juga (dan terutama) dia adalah makhluk yang peduli, punya cinta dan tahu bagaimana harus mencintai. Itulah kodratnya yang asali. Dia menyadari dirinya dan menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya. Kesadaran ini membuat manusia tidak bisa menghindari diri dari perhatian terhadap situasi atau keadaan orang lain. Ia hadir sebagai pemberi harapan. Ia hadir buka sebagai monster alam yang menebar ketakutan, teror, kematian. Ia hadir sebagai saudara, sahabat, Aku yang lain.

La’at merupakan sebuah ekspresi yang sangat dalam dari kesadaran manusia Manggarai akan kehadiran orang lain di sekitarnya. Semua orang pun dibawa pada kesadaran itu. Dapatlah dikatakan di sini bahwa wujud sosialitas manusia bukanlah dalam kata, tetapi dalam aktivitas yang disadari dan dimaknai. Ia bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, dari kenyataan hidup yang satu ke kenyataan hidup yang lainnya, dari diri sendiri kepada sesama (Lyan). Ia terus berjuang menuju kesempurnaan. Demikianlah ia berjuang untuk menemukan yang lainnya, berpelukan, bercandaria, menanggumng beban bersama, dan berkorban bagi orang lain (sesamanya).

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Nggoro, Adi M., 2013. Budaya Manggarai Selayang Pandang, Ende: Nusa Indah.

    Pandor, Pius, 2014. Seni Merawat Jiwa Tinjauan Filosofis, Jakarta: Obor.

    Riyanto, Armada, 2013. Menjadi Mencintai Berfilsafat Teologis Sehari-hari, Yogyakarta: Kanisius.

    Verheijen, Jilis A. J., 1967. Kamus Manggarai I Manggarai-Indonesia, Belanda: Koninklijk Instituut Voor-Land-En Volkenkunde.


    Lihat Juga

    Asé-ka’é pa’ang blé (Bahasa Manggarai: Asé: adik; ka’é: kakak; pa’ang: gerbang kampung; blé: di sebelah/seberang, dunia lain)  Haé wa’u (Bahasa Manggarai: Haé : sesama, sahabat; Wa’u: turun, keturunan, garis keturunan, bisa pula diartikan sebagai keluarga besar satu suku)  Ipung ca tiwu néka woléng wintuk (Bahasa Manggarai: Ipung: ipun; ca: satu, se-; tiwu: kolam; néka: jangan; woléng; berbeda, berlainan; wintuk: aturan, urusan, tindak tanduk, sikap) 

    Oleh :
    Adrianus Ranja ()