Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Asé-ka’é pa’ang blé (Bahasa Manggarai: Asé: adik; ka’é: kakak; pa’ang: gerbang kampung; blé: di sebelah/seberang, dunia lain)


Masyarakat Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengenal apa yang disebut asé-ka’é pa’ang blé. Asé ka’é pang blé (Bahasa Manggarai: Asé: adik; ka’é: kakak; pa’ang: gerbang kampung; ble: di sebelah/seberang, dunia lain). Sebutan ini menunjuk kepada sanak saudara yang telah meninggal dunia. Orang Manggarai menyebut atau tepatnya menyapa sanak keluarga yang telah meninggal dunia bukan sebagai ata mata (‘orang’ -yang telah- mati) tetapi sebagai Asé-ka’é pa’ang blé (sanak saudara yang berada di dunia seberang).

Penting diperhatikan di sini bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar antara sebutan ata (orang) dengan asé-ka’é (adik kakak/sanak saudara). Sebutan atau sapaan ata, dalam konteks hidup sehari-hari bersama dengan orang lain, ditujukan kepada mereka yang tidak memiliki ikatan kekeluargaan (dari sudut pandang orang yang menyapa). Sedangkan asé-ka’é merupakan sebutan untuk mereka yang memiliki ikatan kekeluargaan. Akan tetapi, sebutan atau sapaan asé-ka’é untuk sanak saudara yang telah meninggal dunia tidak terbatas pada keluarga sendiri. Semua yang telah meninggal dunia disapa dengan asé-ka’é pa’ang blé, tanpa memperhatikan apakah ada hubungan darah atau tidak.

Dalam konteks penyebutan bagi mereka yang telah meninggal dunia, orang-orang yang telah meninggal itu bukan “orang” (memberi kesan asing), tetapi terutama adalah “sanak saudara”. Sanak saudara yang telah meninggal dunia merupakan bagian utuh dari kehidupan bersama. Ada relasi yang terbentang melampaui batas ruang dan waktu. Dengan kata lain, ikatan kekeluargaan atau persahabatan tidak diputuskan dengan kematian.

Istilah atau sebutan asé-ka’é pa’ang blé sangat mewarnai keseluruhan upacara adat oarang Manggarai. Hampir keseluruhan upacara/ritual adat orang Manggarai diawali dengan sebuah ritual khusus, yaitu téing hang (memberi makan). Sasaran dari upacara/ritual adat ini (téing hang) adalah asé-ka’é pa’ang blé. Untuk asé-ka’é pa’ang blé-lah makanan (sesajian/kurban berdarah dari ayam) itu diberikan. Ritus téing hang atau kerap disebut takung, yakni memberikan sesajian kepada roh leluhur (sanak saudara yang telah meninggal) sebagai bentuk persembahan. Maksud dari persembahan tersebut, antara lain meminta keberhasilan, memohon perlindungan dan juga berupa ucapan syukur (bdk. Theobaldus Deki: 58). Sampai pada titik ini kesan sementara yang dapat diberikan adalah asé-ka’é pa’ang blé mendapat tempat yang sangat istimewa dalam hati orang Manggarai. Mengapa demikian? Orang Manggarai, sejak sediakala, percaya bahwa sanak saudara yang telah meninggal dunia merupakan perpanjangan tangan dari Mori (bahasa Manggarai: Tuhan). Mereka adalah “perantara” antara yang masih hidup dengan Mori.

Orang-orang Manggarai, dalam seluruh upacara adatnya, sungguh-sungguh memberi perhatian dan ruang bagi kehadiran asé-ka’é pa’ang blé. Ini bukanlah sebuah bentuk penyembahan seperti yang dilakukan kepada Mori (Tuhan). Perhatian dan pemberian ruang bagi kehadiran asé-ka’é pa’ang blé mau menunjukkan ikatan persatuan dan kekeluargaan yang tanpa batas maupun dibatasi oleh apapun. Asé-ka’é pa’ang blé tetap berada dalam satu kesatuan dan ikatan yang mendalam dengan orang Manggarai yang masih hidup dan berziarah di dunia ini. Itulah sebabnya mengapa mereka disebut asé-ka’é (sanak saudara).

Sebutan asé-ka’é mengandung konsekuensi etis, yaitu keharusan (sebagai perintah) bagi orang Manggarai untuk menghormati asé-ka’é pa’ang blé. Asé-ka’é pa’ang blé tidak hanya disebut sebagai sanak saudara yang telah berada di dunia seberang, tetapi juga diyakini sebagai sanak saudara yang berada dekat bahkan telah berada bersama dengan Mori Kraéng ata Jari agu Dédék (bahasa Manggarai: Tuhan Allah Pembentuk dan Pencipta (Alam Semesta)). Oleh karena itu, mereka perlu mendapat perlakuan yang pantas, seperti dihormati, dihargai, dimintai doa, diberi makan, dan diundang dalam berbagai upacara adat orang Manggarai.

Bisa diterima dan dipahami jika orang Manggarai memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan penghargaan dan penghormatan mereka terhadap asé-ka’é pa’ang blé. Kebiasaan-kebiasaan itu terungkap bukan hanya dalam pengakuan, tetapi terutama tindakan nyata, misalnya tutung lilin (menyalakan lilin, berdoa bagi sanak saudara yang telah meninggal dunia), bersi boa (membersihkan area kuburan), la’at boa (mengunjungi kuburan). Aktivitas-aktivitas ini biasa dilakukan oleh orang Manggarai sebelu upacara/ritual adat.

Dalam upacara/ritual adat asé-ka’é pa’ang blé memang sungguh-sungguh diundang. Undangan itu tidak hanya dalam bentuk ritual, seperti téing hang, tetapi juga melalui syair-syair nyanyian. Syair-syair nyanyian itu dinyanyikan atau diucapkan oleh tokoh-tokoh adat (tua-tua adat) secara terus menerus. Kadang-kadang dalam bahasa yang dapat dipahami, tetapi juga dalam bahasa yang tidak dapat dipahami atau dimengerti. Ritus ini dapat dibahasakan secara lain sebagai ritus pemanggilan arwah para leluhur.

Mengabaikan sanak saudara yang telah meninggal dunia berarti memutuskan rantai kekeluargaan dan persaudaraan. Tidak hanya itu, tetapi juga akan diikuti oleh berbagai kejadian tidak diinginkan yang diyakini karena murka dari asé-ka’é pa’ang blé. Berbagai jenis penyakit, dan hal-hal aneh yang terjadi karena pengabaian kewajiban terhadap asé-ka’é pa’ang blé, harus dipulihkan dengan upacara/ritual adat khusus. Itulah sebabnya mengapa orang Manggarai selalu memiliki kesempatan untuk memberi makan/sesajian kepada asé-ka’é pa’ang blé. Bahkan pada saat kenduri selalu ada ritus pedeng bokong, artinya memberi bekal kepada orang yang meninggal agar tiba dengan selamat di tempat tujuan, yaitu di hadapan Mori Kraéng (Tuhan Allah) (Janggur, 2010: 160).

Diyakini pula bahwa asé-ka’é pa’ang blé selalu bersama orang Manggarai yang masih berziarah di dunia ini. Di satu sisi mereka adalah asé-kae (sanak saudara), tetapi disisi lain mereka adalah penjaga dan penuntun bagi anggota keluarga (sanak saudara) yang ditinggalkan. Dalam keyakinan demikian, maka sangatlah tidak wajar dan bahkan keterlaluan kalau sampai ada orang Manggarai yang mengabaikan berbagai kewajiban terhadap asé-ka’é pa’ang blé, seperti téing hang, tutung lilin, bersi boa, la’at boa (berbagai bentuk ritus dan kegiatan tersebut telah disinggung pada bagian sebelumnya).

Kehidupan manusia, sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang Manggarai, merupakan sebuah lingkaran yang terjalin antara satu dengan yang lainnya. Bagi orang yang percaya akan kehidupan setelah kematian, relasi itu tidak hanya terbatas pada sesama yang masih hidup tetapi juga menjangkau sesama sanak saudara yang telah meninggal dunia. Ada sebuah relasi yang melampaui batas ruang dan waktu. Di sana tersirat harapan bahwa kehidupan ini merupakan sebuah lingkaran misteri yang harus disertai dengan iman atau keyakinan. Dikatakan lingkaran misteri karena manusia berada dalam dunia empiris tetapi sekaligus mempunyai harapan akan kehidupan spiritual, rohaniah (tidak nyata) saat semua manusia menjalani kehidupan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Di sini lahirlah sebuah pengakuan bahwa kehidupan di dunia ini dengan kehidupan setelah kematian terhubung secara mengagumkan melalui sebuah relasi spiritual. Banyak kegiatan, aktivitas, pengakuan yang berusaha diungkapkan atau dinyatakan oleh orang yang masih berziarah di dunia ini yang mengarah kepada relasi itu. Dalam hal ini, orang Manggarai adalah contoh yang nyata.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Deki, Kanisisus Theobaldus, 2011. Tradisi Lisan Orang Manggarai Membidik Persaudaraan dalam Bingkai Sastra, Jakarta: Parrhesia Institute.

    Janggur, Petrus, 2010. Butir-butir Adat Manggarai, Buku 2, Ruteng: Yayasan Siri Bongkok.


    Lihat Juga

    Haé wa’u (Bahasa Manggarai: Haé : sesama, sahabat; Wa’u: turun, keturunan, garis keturunan, bisa pula diartikan sebagai keluarga besar satu suku)  Ipung ca tiwu néka woléng wintuk (Bahasa Manggarai: Ipung: ipun; ca: satu, se-; tiwu: kolam; néka: jangan; woléng; berbeda, berlainan; wintuk: aturan, urusan, tindak tanduk, sikap)  La’at (Bahasa Manggarai: melawat, menjenguk, mengunjungi) (Verheijen, 1967: 239) 

    Oleh :
    Adrianus Ranja ()