Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Seblang (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “menolak bencana”)


Masyarakat Osing di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah yang terletak sekitar 5 km dari pusat Kabupaten Banyuwangi memiliki sebuah ritual yang bernama Seblang. Ritual Seblang berupa tarian khas suku Osing, Banyuwangi. Tradisi Seblang adalah tradisi yang sudah cukup tua sehingga sulit diacak permulaan keberadaannya. Tradisi Seblang ini digelar warga sebagai keperluan bersih desa dan tolak bala agar desa tetap aman dan tentram. Suwardi Endraswara (2006:39) menyebutkan bahwa tradisi yang berkaitan dengan bersih desa banyak dilakukan di berbagai wilayah di Jawa, hanya nama dan sebutannya yang berbeda-beda antar satu desa dengan desa lain.

Masyarakat Osing sebagai suku asli Kabupaten Banyuwangi mempercayai Seblang merupakan singkatan dari "Sebele Ilang" atau "sialnya hilang". Tradisi Seblang ini dilakukan di dua desa. Selain di Desa Olehsari, tarian Seblang juga digelar di Desa Bakungan yang juga berada di wilayah Kecamatan Glagah (Moh. Syaiful, 2014:41).

Tari Seblang dilakukan oleh wanita muda yang belum akil baliq dan dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Mencari penari Seblang tidaklah mudah. Penari harus memenuhi syarat tertentu. Ia harus terlebih dahulu ditunjuk roh halus melalui tokoh adat desa dan memiliki pertalian darah dengan mbah Tiyon, leluhur penari Seblang terdahulu. Alat musik yang mengiringi tarian terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah sarong. Terkadang ditambahkan juga biola untuk mengiringi tarian.

Malam hari sebelum ritual Seblang dilaksanakan masyarakat desa Olehsari menggelar selamatan bersama seluruh warga. Pelaksanaan ritual Seblang dilaksanakan 7 hari setiap sore dan prosesinya sama, kecuali pada hari terakhir ada prosesi Idher Bumi (keliling kampung).

Prosesi ritual digelar di tengah desa dan diawali oleh seorang pawang yang sekaligus tokoh adat setempat yang membawa penari Seblang ke panggung pertunjukan untuk memasang mahkota penari yang disebut omprok. Mahkota yang dipakai oleh penari di desa Olehsari biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, di bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Mata sang penari Seblang ditutup oleh ibu-ibu yang berada di belakangnya sambil memegang tempeh (nampan bambu). Sang pawang mulai mengasapi sang penari Seblang dengan asap dupa sambil mengucapkan mantera agar roh leluhur masuk ke dalam tubuh sang penari. Proses masuknya roh diawali sebuah gending (lagu) yang disebut Gending Lukinto. Gending ini dipercaya oleh masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah atau suatu kekuatan halus untuk datang ke ritual Seblang. Lalu dilanjutkan dengan 28 lantunan gending yang dibawakan oleh sinden dan penabuh musik yang masih mempunyai ikatan darah Seblang dari penari-penari Seblang sebelumnya (A. Cholid Baya dkk, 2011:43).

Untuk memastikan roh sudah masuk dalam tubuh penari, pawang cukup menggoyangkan tubuh penari ke kanan dan ke kiri. Apabila tempeh atau nampan bambu dipegang penari jatuh dan badan penarinya terjungkal ke belakang, itu tanda si penari sudah kerasukan roh dan pertunjukan bisa dimulai.

Penari Seblang yang sudah kesurupuan menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta mengikuti irama gending yang dimainkan. Dalam keadaan tidak sadar, penari mengikuti arahan pawang sambil menggerakan selendangnya.

Pada saat gending Kembang Dermo dibawakan, penari Seblang membawa wadah yang berisi bunga yang bernama Bunga Dermo. Inilah bagian dalam ritual Seblang yang disebut prosesi gendingKembang Dermo’, atau Seblang menjual bunga. Dalam prosesi ini sang pawang akan mengeluarkan nampan berisi bunga. Bunga itu di tancapkan pada sebatang bambu kecil yang terdiri 3 kuntum bunga. Kemudian bunga akan diasapi dengan dupa dan penonton dapat membeli bunga itu.

Hampir semua masyarakat desa dan para penonton berebut untuk mendapatkan bunga itu dengan memberi uang tebusan atau mahar. Bunga Dermo yang dipercaya sebagai tolak bala (kesialan) untuk mengusir pengaruh-pengaruh jahat dan penyakit. Bunganyang dipercaya sebagai sumber keselamatan maupun keberuntungan itu lalu disimpan untuk anak-anak atau diletakkan di suatu tempat tertentu di rumah maupun di sawah.

Masih ada prosesi lain yang disebut ‘Tundikan”, penari Seblang mengundang tamu atau penonton untuk menari bersama di atas meja. Masih dalam keadaan tak sadarkan diri, sang penari akan diangkat ke panggung oleh pawang. Sambil menari gadis itu akan melempar selendangnya yang digulung kearah penonton, siapa saja yang terkena lemparan selendang diwajibkan naik keatas panggung dan ikut menari bersama penari Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh si penari hingga ia mau menari. Biasanya para penonton berharap bisa mendapatkan tundik ini dan menari bersama Seblang, karena dipercaya ia akan mendapat keberuntungan.

Pada hari ketujuh, Seblang akan diarak keliling desa yang disebut ider bumi. Penari Seblang akan berjalan beriringan bersama pawang, sinden, dan seluruh perangkat menuju empat penjuru. Penjuru tersebut adalah Situs Mbah Ketut yang dianggap awal berdirinya Desa Olehsari, lahan Petahunan, Sumber Tengah, dan berakhir di Balai Desa. Prosesi itu mengakhiri ritual Seblang Olehsari (Moh. Syaiful, 2014:41).

Tradisi tari Seblang merupakan bentuk budaya tradisional ciri khas masyarakat Banyuwangi, khususnya di Desa Olehsari. Warga percaya jika tidak melakukan tradisi Seblang ini akan mendapatkan musibah. Sekitar tahun 1960an ritual Seblang sempat ditinggalkan karena alasan keamanan dan politis, akibatnya sejumlah warga kesurupan tanpa alasan yang jelas. Setelah dilakukan ritual upacara, warga yang kesurupan tadi meminta untuk diadakan tradisi Seblang. Sejak saat itulah tradisi Seblang terus dilestarikan hingga sekarang.

Fritjof Capra, seorang filosof postmodern memiliki pendapat yang sangat menarik tentang alam. Bagi Fritjof, alam perlu disadari dengan ketergantungan antara manusia dengan segala fenomena dalam kosmos. Alam adalah ia yang sangat berharga bagi manusia dan harus dijaga. Bahkan Fritjof (1999:35) mengatakan bahwa alam harus dihargai sebagai sumber kehidupan manusia. Manusia harus menjaga harmoninya dengan alam. Armada Riyanto (2015:479) menegaskan pula bahwa relasi dengan alam semesta dimulai dari kesadaran. Kesadaran Eco-etika yang muncul sehari-hari adalah penemuan simbol bumi sebagai ibu. Ibu bumi telah menumbuhkan tanam-tanaman dan memberi kehidupan kepada manusia “anak-anaknya”.

Dalam konteks tradisi Seblang, Desa merupakan perlambangan alam (kosmos). Desa menjadi locus (tempat) manusia hidup dan bersosialisasi satu sama lain. Demi mewujudkan alam yang senantiasa harmonis dan lestari, masyarakat melakukan Seblang sebagai perwujudan pembersihan desa dari bencana dan kesialan. Masyarakat Desa Olehsari terus melestarikan tradisi Seblang untuk menjaga keselarasan dalam desa sebagai titik pusat hidupnya sebagai eco-etika hidup bersama. Tujuan menjaga ketentraman desa dan menjauhkannya dari marabahaya mengingatkan pula pada asal nama Seblang, “Sebele Ilang” atau “Sialnya hilang”.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Baya, A. Choliq dkk. 2011. Pelangi Budaya Banyuwangi: The Art of Banyuwangi City. Yogyakarta: JP Books.

    Capra, Fritjof. 1999. Menyatu Dengan Semesta: Menyingkap Batas antara Sains dan Spiritualitas. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

    Endraswara, Suwardi. “Mistisisme dalam Seni Spiritual Bersih Desa di Kalangan Penghayat Kepercayaan” dalam Kejawen: Jurnal Kebudayaan Jawa (Vol. 1 No. 2 Agustus 2006).

    Riyanto, Armada (Eds.). 2015. Kearifan Lokal-Pancasila: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

    Syaiful, Moh. dkk. 2014. Jagat Osing: Seni, Tradisi, dan Kearifan Lokal Osing. Banyuwangi: Lembaga Masyarakat Adat Osing.


    Lihat Juga

    Mantu Kucing (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “meminta hujan”)  Tumpeng Sewu (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “makan bersama”)  Petik Laut (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “mensyukuri hasil laut”) 

    Oleh :
    Doroteus Bryan ()