Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Petik Laut (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “mensyukuri hasil laut”)


Masyarakat Kecamatan Muncar yang terletak sekitar 35 km dari pusat Kabupaten Banyuwangi memiliki sebuah tradisi yang bernama Petik Laut. Kecamatan Muncar sebagai daerah yang memiliki garis pantai yang panjang mewujudkan ucapan syukur para nelayan dengan melaksanakan tradisi Petik Laut.

Wilayah Muncar yang berada di pesisir pantai, menjadikan mayoritas penduduk asli daerah ini sebagai nelayan. Muncar menjadi pelabuhan besar bagi para nelayan dari Madura, Lombok, Bali, Mandar, serta Using dan nelayan dari Jawa. Bahkan Muncar dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Indonesia (Moh. Syaiful, 2014:76) .

Petik Laut Muncar merupakan tradisi tahunan yang diadakan setiap tahun pada bulan Muharam atau Syuro dalam penanggalan Jawa. Waktu pelaksanaan Petik Laut tiap tahun berubah karena berdasarkan penanggalan Qamariah dan kesepakatan pihak nelayan. Biasanya digelar saat bulan purnama, karena saat itu terjadi air laut pasang sehingga nelayan tidak melaut. Inti tradisi Petik Laut Muncar adalah melarung sesaji ke tengah samudera. Ida Ayu (2014:2) menguraikan tujuan diadakannya tradisi Petik Laut ini adalah untuk memohon berkah, rezeki dan keselamatan para nelayan saat melaut, sekaligus sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah yang di terima oleh para nelayan. Tradisi petik laut ini juga dilakukan di daerah-daerah lain, daerah yang memiliki tradisi yang serupa dengan tradisi Petik Laut ini yaitu Madura dan Jembrana-Bali.

Semula tradisi ini berkaitan dengan kehadiran warga Madura yang dikenal sebagai pelaut. Hal ini ditandai dominannya ornamen suku Madura dalam tradisi Petik Laut, seperti terlihat dari seragam pakaian Sakera, berupa baju hitam dan membawa clurit, simbol warga Madura yang pemberani. Sesepuh adat juga mengenakan baju Sakera, serba hitam. Bagian dalam kaus loreng merah putih, memakai udeng batik merah tua. Para penjaga ketertiban tradisi Petik Laut dipilih dari orang-orang yang berbadan besar dan seram, namun sekaligus menghibur dengan tingkah yang lucu. Mereka bertugas mengatur jumlah penumpang yang menaiki perahu mengikuti iring-iringan Petik Laut.

Tradisi Petik Laut diawali pembuatan sesaji (persembahan) oleh sang pawang yang merupakan sesepuh nelayan yang merupakan keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Dengan dibantu masyarakat, mereka menyiapkan segala kelengkapan tradisi Petik Laut. Sore hari, setelah semuanya siap, sesaji itu diarak dari rumah pawang menuju tempat pemberangkatan. Sang pawang memimpin arak-arakan sembari berjalan dan menyebarkan beras kuning.

Gitik adalah sebuah perahu kecil sepanjang 5 meter yang disiapkan sebagai perahu sesaji. Gitik ini dibuat seindah mungkin dan mirip kapal yang biasa digunakan nelayan melaut. Gitik biasanya disiapkan oleh salah seorang tokoh masyarakat yang ditunjuk dalam musyawarah bersama. Semua sesaji ditata di dalam githik dengan beragam persyaratan. Benda-benda khusus dipilih dan ditambahkan sebagai kelengkapannya.

Pada malam harinya, di tempat githik itu diadakan selamatan, pengajian, dan doa bersama serta dilanjutkan dengan seni mamaca, yaitu membaca dan melagukan syair dari kitab Anbiya yang berisi kisah Nabi Sulaiman dan Nabi Yusuf secara bergantian, sambil tirakatan sampai pagi.

Pada hari pelaksanaannya, ratusan nelayan telah berkumpul di rumah sang pawang sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Diawali dengan Idher Bumi, yakni mengarak githik berisi sesaji keliling kampung sebelum menuju pantai Muncar. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh sang pawang.

Dibelakangnya mengikuti kelompok musik modern maupun tradisional dan sekelompok gandrung lengkap dengan alat musiknya mengiringi Idher Bumi. Para penari gandrung menari di depan githik sebelum arak-arakan (pawai) Idher Bumi dilaksanakan. Sepanjang jalan menuju pantai banyak warga yang mengikuti di belakang. Arak-arakan gitik pun berakhir di tempat pelelangan ikan.

Kekhasan Tradisi Petik Laut Muncar dengan beberapa wilayah lain terdapat dalam keberadaan penari Gandrung yang menjadi perlambang kehadiran Dewi Sri. Dewi Sri yang hadir dalam sosok Gandrung dianggap akan membawa kesuburan dan hasil laut yang melimpah.

Setibanya di tempat pelelangan ikan, sesaji disambut enam penari Gandrung. Setelah doa oleh tokoh agama, sesaji diangkut menuju perahu besar untuk dilarung ke tengah laut. Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing yang menjadi sesaji utama. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah. Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut.

Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.

Sesaat setelah sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan hasil bumi pada sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Mereka percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti.

Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan untuk berziarah ke makam Sayid Yusuf, orang pertama yang dipercaya membuka daerah tersebut. Prosesi belum usai, pawang gandrung pun mengambil alih acara pamungkas. Para penari Gandrung digendong menuruni perahu yang ditumpangi mereka menuju makam leluhur. Mereka akan menari di makam Buyut Gantung dan makam Sayid Yusuf di daratan Semenanjung Sembulungan di dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Para penari itu menari dalam balutan aura tradisi pemujaan, memberi hormat dan bersujud di depan pusara nenek moyang dan diakhiri dengan mengelilingi makam sebanyak tiga kali.

Di pantai berpasir putih ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan. Tradisi diakhiri selamatan bersama. Kemudian dilanjutkan menikmati tarian Gandrung dengan gending-gending klasik suku Using hingga sore hari.

Usai berziarah dan berdoa mereka akan kembali ke pelabuhan Muncar dan perahu nelayan yang akan mendarat akan disiram dengan air laut sebagai bentuk keberkahan dari Dewi Laut. Berakhirlah tradisi Petik Laut Muncar sebagai tradisi mensyukuri hasil laut.

Armada Riyanto (2015:477) mengutip perkataan Aristoteles dalam Politics (Buku I), manusia sejauh hidup di dunia pastilah tidak kekurangan suatu apapun sebab segalanya telah disediakan oleh alam. Aristoteles mengajarkan “hukum alam” bahwa manusia jangan sampai kelaparan atau terlantar, sebab alam pasti menyediakan makanannya.

Lebih lanjut, Armada Riyanto menguraikan kearifan lokal Jawa yang menggambarkan sosok alam sebagai ibu yang memiliki segalanya untuk manusia “anaknya”. Ia sekaligus adalah sebuah tata kesempurnaan, keselarasan, dan keindahan.

Tradisi Petik Laut di Muncar lahir dari kesadaran bahwa alam (laut) merupakan penentu kehidupan manusia. Manusia yang tinggal di daerah Muncar tidak akan bisa hidup tanpa pemberian laut. Laut haruslah dihargai, dirawat dan terus dilestarikan. Kesadaran eco-etika ini membantu terwujudnya penyatuan diri manusia dengan alam sebagai wujud keluhuran warisan Petik Laut Muncar.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Ayu, Ida. 2014. Pemertahanan Tradisi Budaya Petik Laut Oleh Nelayan Hindu dan Islam di Desa Pekutatan Jembrana-Bali (Skripsi). Bali: Fakultas Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja melalui http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPS/article/viewFile/4153/3272 diakses pada 15 Mei 2017.

    Riyanto, Armada (Eds.). 2015. Kearifan Lokal-Pancasila: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

    Syaiful, Moh. dkk. 2014. Jagat Osing: Seni, Tradisi, dan Kearifan Lokal Osing. Banyuwangi: Lembaga Masyarakat Adat Osing.


    Lihat Juga

    Seblang (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “menolak bencana”)  Mantu Kucing (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “meminta hujan”)  Tumpeng Sewu (Bahasa Osing, Banyuwangi, Jawa Timur:hal “makan bersama”) 

    Oleh :
    Doroteus Bryan ()