Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Pa’rapuan (Bahasa Toraja, Sulawesi Selatan: Hal Perkumpulan Keluarga, Rumpun Keluarga, Hubungan Darah, Keluarga Besar)


Toraja merupakan salah satu suku yang kaya akan budaya dan tradisi. Budaya-budaya tersebut merupakan warisan dari nenek moyang. Suku Toraja berada di daerah pegunungan atau dataran tinggi Sulawesi Selatan, yang berjarak 317 km dari Makasar. Suku Toraja mempunyai Tongkonan(rumah adat) tempat pa’rapuan tinggal dan berkumpul membicarakan hal-hal yang pentiing dalam keluarga besar. Pa’rapuan adalah salah satu kekhasan orang Toraja dimana orang-orang dikumpulkan dalam satu darah dan keluarga besar.

Pa’rapuan berasal dari kata “rapu” yang artinya berdasarkan hubungan darah, keluarga besar. Hubungan vertikal maupun horisontal (Theodorus, 2008:87). Yang disebut keluarga hubungan vertikal adalah bati’(anak atau keturunan) sedangkan hubungan horisontal adalah keluarga yang jauh, atau keluarga yang masih berasal dari satu Tongkonan tetapi beda orang tua.Pa’rapuan adalah bentuk kata panjang dari kata “rapu” dengan awalaan “pa’” dan akhiran “-an” artinya tempat “rapu” terjadi, tempat rapu merasa nyaman dan tenteram. Pa’rapuan akan lebih jelas dalam tongkonan, dimana tempat rapu berkumpul bersama dan tinggal.

Fungsi dari pa’rapuan adalah mengumpulkan keluarga agar tetap bersatu dalam tatanan adat istiadat warisan nenek moyang. Pemeliharaan atas tongkonan adalah tanggungjawab pa’rapuan dan kewajiban seluruh rapu tongkonan. Misalkan sebuah tongkonan sebut saja tongkonan Ne’ Sa’ding, jadi seluruh rapuNe’ Sa’dingmempunyai kewajiban atas tongkonan tersebut. Rapu tidak boleh lepas tangan karena mempunyai hubungan darah dengan Ne’ Sa’ding. Dari hal tersebut terlihatlah kesatuan dalam tongkonan yang disatukan oleh leluhur atau nenek moyang.

Hak dan kewajiban pa’rapuan adalah mengumpulkan memperbaiki dan merenovasi tongkonan. Pa’rapuan berkumpul membicarakan biaya yang diwakili oleh masing-masing keluarga atau yang disebut anaktongkonan. Biaya renovasi dibagi diantara anak tongkonan, lalu anak tongkonan membagi lagi kepada anggota-anggotanya. Dengan demikian setiap warga mempunyai partipasi dalam membangun dan mengembangkan tongkonan. Jika dibandingkan dengan rambu solo’ persaudaraan lebih tampak lagi dalam upacara mangrara tongkonan (pemberkatan rumah adat). Pada upacara rambu solo’, tanggungjawab terletak pada pundak bati’, artinya anak-anak dari orang yang meninggal, sedangakan tanggungjawab atas penyelenggaraan penyucian tongkonan diemban oleh seluruh pa’rapuan(Theodorus, 2008:90).

Tongkonanmerupakan lambang dan pusat pa’rapuan, karena tongkonan-lah yang merawat, mendidik dan membina persekutuan serta persatuan pa’rapuan. Jadi, bisa dikatakan bahwa tongkonan merupakan tempat kedamaian terjadi. Tongkonan menjadi sumber seluruh kepemimpinan dibidang kemasyarakatandan keagamaan.Dalam struktur tongkonan,tongkonanmenempati kedududukan tertinggi dan dengan demikian juga menempati kekuasaan tertinggi.Artinya pemimpin tongkonan dengan sendirinya menjadi pucuk pimpinan.

Telah dijelaskan bahwa tongkonan mempunyai daya tarik terhadap pa’rapuan.maka tongkonan dipandang sebagai lambang dan pusat pa’rapuan.jadi fungsi pertama dan utama tongkonan ialah membina persekutuan pa’rapuan.jadi tongkonan menciptakan dan memelihara persekutuan.Pa’rapuanmengemban kewajiban tertentu terhadap tongkonan-nya.sebaliknya makna tongkonan itu melambangkan dan dalam arti tertentu menjamin kesejahtraan pa’rapuan.Prestise tongkonan menjamin prestise pa’rapuan,untuk dapat mengetahui latar belakang seorang Toraja,kita cukup menanyakan tongkonanasalnya,asalkan yang bertanya memang mengenal dan menguasai struktur tongkonan sebuah lambang,atau struktur sang-torayan(sesama orang Toraja).

Keluarga atau yang disebut pa’rapuan tidak hanya tinggal di tongkonan tetapi berpencar tetapi masih berada dalam satu wilayah dengan tongkonan. Sewaktu-waktu pa’rapuan berkumpul dan membicarakan hal-hal yang penting. Keharmonisan dan strata dari pa’rapuan harus dijaga dengan baik dengan cara menjodohkan anak tongkonan dengan anak tongkonan lain. Dengaan demikian pa’rapuan tetap terjaga dengan baik dan strata sosialnya tetap diatas da keharmonisan tetap terjaga. Kerukunan dalam tongkonan merupakan sebuah keberhasilan dari pa’parapuan yang hidup sesuai dengan adat dan tata kehidupan di tongkonan tersebut.

Keberagaman yang ada dalam tongkonan tidak membuat sebuah pa’rapuan hancur atau tercerai berai, melainkan tetap bersatu. Ini disebabkan oleh sikap toleransi antara satu dengan yang lain. Sikap toleransi yang diciptakan dalam tongkonan membawa pa’rapuan hidup dalam kedamaian dan kesatuan. Tongkonan merupakan tempat penegakan kedamaian. Pengamalan toleransi harus menjadi suatu kesadaran pribadi yang selalu dihabitualisasikan dalam wujud interaksi sosial. Toleran maknanya, bersifat atau bersikap menghargai, membiarkan pendirian, pendapat pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan lain-lain yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Toleransi dalam pengertian seperti itu terkadang menjadi sesuatu yang sangat berat bagi pribadi-pribadi yang belum menyadarinya. Padahal perkara tersebut bukan mengakibatkan kerugian pribadi, bahkan sebaliknya akan membawa makna besar dalam kehidupan bersama dalam segala bidang, apalagi dalam domain kehidupan beragama.

Sikap yang diciptakan pa’rapuan inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat untuk tetap hidup bersama dalam kerukunan dan dalam kedamaian. Sikap toleransi nilai dan norma dalam kehidupan di tongkonan oleh pa’rapuan, dan juga menyangkut sifat dan sikap untuk menghargai pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan dan kelakuan, dan lain-lain yang berbeda bahkan bertentangan dengan pendirian sendiri, maka sifat dan sikap sebagai nilai dan norma itu mesti disosialisasikan. Maknanya, ialah proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.

Sikap toleran membuahkan kemampuan yang sangat signifikan dalam menetapkan pilihan yang terbaik. Mampu mendengar berbagai ungkapan dan menyaring yang terbaik daripada semua itu. Sikap toleran juga melahirkan kemampuan mengubah perilaku individu (self correction) terhadap pola yang selama itu dilakukan, yang tak berdaya mengubah masyarakat tradisional, tertutup dan represif, sehingga tujuan yang dicita-citakan dapat dicapai. Toleran, tidak menciptakan individu yang mempunyai ego yang tinggi, yang tidak mau mengubah perilakunya, walau tujuannya tidak tercapai.

Jadi, dalam tongkonan yang merupakan tempat pa’rapuan berkumpul dan bersatu timbullah sikap toleransi. Sikap toleransi ini muncul karena keberagaman dalam pa’rapuan. Keberagaman dalam agama, latar belakang dan karakter. Sikap toleransi tersebut menjadi kebiasaan atau disebut ada’. Pa’rapuan sebagai penanggungjawab atas tongkonan merasa berhasil ketika anggota dari tongkonan hidup dalam kedamaian dan ketentraman.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    A, Said. 2004. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya pada Desain Modern. Yogyakarta: Ombak.

    Dr. Kobong, Teodorus. 2008. Injil dan Tongkonan. Jakarta: Gunung Mulia.

    Tambing, W.L. Falsafah Tongkonan. Makasar.

    Tangdilintin. 2009. Toraja Sebuah Penggalian Sejarah dan Budaya. Makassar: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar.

    Suseno, Franz Magnis. 2006. Etika abad kedua puluh. Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Ma’bua’ (Bahasa Toraja, Sulawesi Selatan: hal “pesta ucapan syukur dan mohon berkat dari Tuhan Allah” dalam Suku Toraja, Tradisi)  Tongkonan (Bahasa Toraja, Sulawesi Selatan: Rumah Adat, Warisan Leluhur Suku Toraja)  Rampanan Kapa’ (Bahasa Toraja, Sulawesi Selatan: Hal “Pernikahan Adat” dalam Suku Toraja, Adat) 

    Oleh :
    Frans Sa'ding ()