Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Torok (Bahasa Manggarai:Ungkapan; tutur bahasa; cara berkata puitis)


Torok adalah cara berkata dalam bentuk puisi atau prosa yang di dalamnya mengandung unsur doa, wejangan atau nasehat bijak. Dalam hal ini torok bisa dikatakan sebagai bahasa relasional. Torok sebagai ungkapan atau bahasa relasional dalam adat istiadat orang Manggarai memaksudkan sebuah tata cara berhubungan atau berelasi dengan kosmos yang meliputi sesama, alam semesta dan wujud tertinggi yaitu Mori Kraeng (Tuhan Allah). Melalui torok orang Manggarai bisa mengungkapkan atau membahasakan (secara lebih halus dan bermakna) relasinya dengan sesama, alam semesta dan Tuhan. Torok menurut isinya terdiri dari wada, tudak (permohonan atau doa). Umumnya bergaya metaforis. Dalam adat Manggarai wada sering kali memiliki konotasi negatif, sementara tudak lebih besifat positif dan dipakai pada acara-acara besar yang dihadiri oleh banyak orang. Misalnya tudak penti, tudak paca, tudak roko yang dihadiri oleh banyak orang. Sementara wada bisa besifat pribadi atau kelompok orang. Isi dari wada adalah semacam permohonan singkat bernada kutukan atau penyilihan. Misalnya, “porong mata ba le waey” (semoga dia mati terhanyut air). Namun tidak selamanya wada itu bersifat negatif.

Sebenarnya seni berbahasa orang manggarai juga memiliki beragam bentuk, seperti go,et, tombo turuk, nunduk dan torok ( bdk. Deki, 2011: 116-198). Namun dalam kenyataannya torok adalah cara berkata yang sering dipakai dalam setiap upacara adat Manggarai, terlebih pada saat-saat resmi atau pristiwa-pristiwa penting (Sunarlin. 2015: 176-191). Torok adalah bahasa yang dipakai orang Manggarai pada saat tertentu dan pada peristiwa penting yang sifatnya relasiaonal. Maksudnya torok menjadi bahasa pengantara yang bisa mengundang dan bisa menghubungkan orang Manggarai dengan realitas sesama, alam semesta dan dengan Tuhan. Seni bahasa yang dipakai dalam torok bisa menghantar orang pada hubungan yang mendalam dengan realitas kosmos dan pada akhirnya dapat membantu mereka dalam memberi arti pada hidupnya.

Torok adalah ungkapan, cara mengungkapkan sesuatu dalam bahasa kiasan. Bahasa kiasan itu memiliki kekuatan, nilai dan makna yang sangat tinggi dan merupakan ungkapan isi hati. Alasan yang mendukung tesis ini , pertama mengenai bahasa memiliki daya atau kekuatan (kekuatan bahasa). Hal ini dikarenakan bahwa bahasa yang dipakai dalam torok itu bukan bahasa biasa, bukan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa itu juga tidak semua orang bisa mengucapkan dan melafalkannya. Hanya orang-orang tertentu saja dan biasanya adalah para tetua adat (tu’a golo, tu’a genndang, tu’a panga, tu’a teno) atau orang yang mempunyai keahlian khusus. Selain itu juga, orang Manggarai memercayai akan kekuatan kata-kata yang dipakai dalam torok. Kekuatan kata-kata itu bisa menyembuhkan segala penyakit dan bisa menyelamatkan mereka dari mara bahaya dan bencana, karena isi dari torok adalah doa dan permohonan sekaligus harapan yang disampaikan kepada Mori Kraeng, ata jari adu dedek. Misalnya mengenai budaya oke copel yang telah di mana kekuatan kata-kata dalam torok oke copel bisa memutuskan rantai bencana dara ta’a (Janggur, 2018:18-43).

Kedua, bahasa dalam torok memiliki nilai bagi kehidupan. Dalam artian, gaya bahasa yang terkandung dalam torok adalah sebuah seni yang dapat menjadi pedoman hidup orang Manggarai. Dengan kata lain kata-kata yang terkandung dalam torok itu sarat akan nilai kebijaksanaan (nai ngalis, tuka ngengga). Misalnya tentang persatuan, “teu ca ambo neka woleng jaong, muku ca pu,u neka woleng curup, ase agu ka’e neka woleng tae, mai ga bantang cama reje leles, kope oles todo kongkol. Artinya dalam suatu masyarakat tidak boleh ada pertikaian dan permusuhan tetapi bersatulah untuk membangun masyarakan yang aman damai dan tenteram. Marilah kita bermusyawarah bersama (lonto leong) untuk mencapai cita-cita bersama. Unkapan di atas senantiasa melandasi seluruh hidup orang Manggarai. Tetapi kerap kali melenceng jauh dari pedoman-pedoman kebijaksanaan itu. Hal ini disebabkan karena orang Manggarai sudah dipengaruhi oleh perkembangan jaman, sehingga hal-hal yang bersifat tradisional ditinggalkan begitu saja.

Ketiga, bahasa yang dipakai dalam torok dapat memberi makna kepada kehidupan masyarakat Manggarai. Artinya, bahwa torok melalui kata-kata bahasanya yang unik dapat mengubah dan membarui hidup. Dengan kata lain, tata bahasa yang dipakai dalam torok sangat relevan dengan hidup manusia sehari-hari. Gaya bahasa dalam torok mengungkapkan bagaimana orang Manggarai harus hidup dalam dunia ini. Bagaimana ia menempatkan diri dalam kefanaan dunia. Hidup manusia di dunia ini hanyalah mose dokong (hidup sementara). Oleh karena itu manusia harus mampu mempertanggunjawabkan hidupnya dengan baik dan bijaksana. Karena hidup yang sebenarnya hanya one lime de Morin (dalam tangan Tuhan). Konsep hidup seperti ini menyadarkan orang Manggarai untuk lebih menghargai hidup dan memberinya arti (Ibid., 210-211). Seperti yang dikatakan oleh seorang filisof, “hidup yang tidak direfleksikan adalah mati.”

Dari uraian di atas bisa dismpulkan, torok memegang peran yang sangat penting dalam seluruh adat istiadat kebudayaan Manggarai. Torok adalah jembatan yang menghubungkan orang Manggarai dengan adat istiadanya. Torok denngan demikian identik dengan adat istiadat kebudayaan Manggarai itu sendiri. Ia tidak pernah terpisah dari budaya Manggarai. Torok adalah ungkapan dalam gaya bahasa yang puitis dan sarat akan makna yang berasal dari isi hati terdalam. Melalui torok orang Manggarai bisa berelasi dan mengungkapkan kekagumannya dengan alam, sesama dan Tuhan sebagai Pencipta (Mori jari agu dedek). Karena bahasa sehari-hari tidak mampu menembus relasi itu. Hanya dengan torok (meliputi wada dan tudak) mereka bisa megenal, menyapa dan menghargai alamnya serta mengenal, menyapa dan menyembah Allah Sang Pencipta. Dengan demikian, torok adalah ungkapan dalam gaya bahasa tertentu yang relasional.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Deki. Kanisius Theobaldus. 2011. Tradisi Lisan Orang Manggarai: Membidik persaudaraan dalam dalam bingkai Sastra. Jakarta: Parhesia Institute.

    Janggur. Petrus. 2008. Butir-Butir Adat Manggarai, Bukau 1. Ruteng: Perc. Gracia.

    Sunarlin. Filipus. “Torok, Doa Masyarakat Manggarai, Tinjauan Teologis dan Problem Inkulturasinya dalam Perayaan Ekaristi.” dalam Raymundus Sudhiarsa, PhD (Ed.). 2015. Gereja Mencari Raga Dalam Ranah-Ranah Kultural Nusantara. (Malan: Widya Sasana Publication.


    Lihat Juga

    Barong Wae (Bahasa Manggarai: Upacara untuk mengundang “roh” penjaga air)  Oke Copel/ Oke Dara Ta’a (Bahasa Manggarai: Membuang sial, memutuskan nasib sial)  Pio-pio Wale Io (Bahasa Manggarai: Bersikap ramah dan sopan) 

    Oleh :
    Gregorius Kurniawan ()