Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

1. Rongi (bahasa Ende, NTT : membuka lahan atau kebun baru atau menanam pohon untuk dijadikan sebagai hutan lindung).


Di suatu wilayah di Nusa Tenggara Timur tepatnya di Ende terdapat sebuah ritual untuk membuka lahan atau kebun baru yang sebelumnya orang belum pernah melakukan tanam-menanam seperti padi, jagung, ubi dan tanaman umur panjang seperti cengkeh, fanili dan lain-lain, yang ditanam di tanah tersebut. Ritual tersebut namanya Rongi yang artinya membuka lahan atau kebun baru (Rudolf, http://www.watuneso.com.id : 16 mei 2017). Yang dimaksudkan dengan lahan atau kebun baru disini adalah sebuah tanah yang berukuran besar kira-kira tiga hektar atau empat hektar di mana di dalamnya terdapat hutan, dan sebelum-sebelumnya orang belum pernah menggarap tanah tersebut untuk menanam sesuatu baik itu padi, jagung, ubi serta tanaman yang berumur panjang seperti jambu mente, fanili, cengkeh dan lain-lain. Lahan atau kebun baru artinya tanah yang baru digarap untuk menanam sesuatu demi kepentingan hidup. Biasanya untuk membuka lahan baru atau kebun baru dibutuhkan banyak orang untuk mengerjakannya karena lahan yang mau digarap biasanya banyak pohon-pohon besar dan rumput liar yang begitu sangat banyak, sehingga dibutuhkan banyak orang untuk mengerjakannya (Orinbao, 1974 : 54) .

Lahan baru artinya lahan yang baru pertama kali digarap oleh masyarakat. Biasanya di dalam lahan tersebut ada juga terdapat banyak pohon yang tidak berfungsi untuk menahan tanah atau pohon-pohon lain yang cepat tumbang atau pohon yang tidak kuat. Rongi (membuka lahan atau kebun baru) disisi lain juga yang dimaksudkan disini adalah menanam kembali serta menggantikan pohon-pohon yang tidak kuat dengan pohon-pohon yang kuat untuk kepentingan hidup seperti untuk hutan lindung, pohon yang bisa menghasilkan kayu untuk membuat rumah, menanam pohon-pohon besar untuk tanaman yang membutuhkan naungan seperti fanili dan lain-lain.

Petanyaannya adalah siapa-siapa saja yang melakukan rongi (membuka lahan baru atau kebun baru) tersebut? Yang terlibat dalam melakukan rongi (membuka lahan baru atau kebun baru) adalah banyak orang. Dilakukan oleh banyak orang dengan maksud agar lahan yang mau dikerjakan untuk kebun baru atau untuk membuat hutan baru cepat selesai. Yang harus hadir dalam melakukan rongi adalah mosalaki (tuan tanah atau tua adat). Mosalaki disini sangat penting karena dalam adat istiadat setempat sudah menjadi sebuah tradisi bahwa sebelum melakukan penanaman, baik itu terasering, membuka lahan baru atau kebun baru (rongi), menanam tanaman pohon-pohon umur panjang dan lain-lain, mosalaki (tua adat atau tuan tanah) harus hadir. Kalau seandainya beliau (mosalaki) tidak hadir pada saat berlangsungnya rongi, berarti yang mempunyai lahan tersebut mendapat denda yang berupa babi yang besar satu ekor lalu di tambah dengan beras satu karung dan diserahkan kepada mosalaki (tua adat atau tuan tanah). Tetapi sangat jarang ketika melakukan rongi orang tidak mengundang mosalaki (tua adat atau tuan tanah), karena dalam kebiasaan setempat, orang sudah mengetahui bahwa dalam melakukan rongi, seorang mosalaki harus hadir.

Jalan prosesnya dalam melakukan rongi yaitu dimulai dari mosalaki (tua adat atau tuan tanah). mosalaki yang memberi lahan baru atau tanah yang belum pernah digarap oleh siapapun saat sebelum-sebelumnya kepada seorang warga. Tanah tersebut diberikan dengan tujuan tertentu yaitu untuk membuka lahan baru atau kebun baru untuk menanam padi, jagung, ubi atau untuk menanam pohon-pohon besar demi kesuburan tanah. prosesnya adalah; seorang warga yang diberikan tanah oleh mosalaki tersebut, pagi-pagi buta harus pergi ke rumah mosalaki sekitar pukul 06:00 pagi sebelum berangkat kerja. Setelah tiba di rumah mosalaki, seorang warga tersebut bersama mosalaki pergi ke rumah adat untuk memberitahukan kepada para leluhur bahwa ada seorang warga yang mau membuka lahan baru atau kebun baru untuk kepentingan hidupnya, misalnya untuk menanam padi, jagung atau untuk menanam pohon-pohon besar untuk kehidupan masa depan atau terasering atau kebutuhan lain. setelah itu seorang warga tersebut pergi ke lahan tersebut bersama dengan mosalaki dan juga beberapa pekerja dengan membawa serta seekor ayam untuk mendarahi lahan tersebut sebelum mengerjakannya.

Setelah sampai di lahan yang akan mau dikerjakan, ayam dibunuh lalu darahnya ditumpahkan ke lahan tersebut, lalu mosalaki memerintahkan agar lahan tersebut bisa dikerjakan. Lalu setelah itu mosalaki memberitahukan batas-batas tanah yang akan dikerjakan, lalu bisa pulang ke rumahnya dan ayam yang telah dibunuh, mosalaki bisa membawa ke rumahnya untuk di buat menjadi sayur. Setelah itu pemilik lahan tersebut bersama dengan para pekerjanya atau orang yang diminta untuk membantu dalam menyelesaikan lahan tersebut bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Para pekerjanya terdiri dari bapak-bapak, anak muda atau melalui kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya, sedangkan untuk ibu-ibu membantu masak untuk para perkerja.

Nilai etis yang bisa kita ambil dari acara rongi (membuka lahan baru atau kebun baru atau menanam pohon untuk dijadikan sebagai hutan lindung) adalah kebersamaan dalam membangun lahan baru atau kebun baru atau menanam pohon untuk dijadikan sebagai hutan lindung. Ada dua nilai etik yang terkandung dalam acara rongi yaitu kebersamaan dalam bekerja dan menjaga lingkungan hidup agar tetap terjaga dengan baik. Selain membangun kerjasama, disisi lain menjaga hutan dan lahan agar tetap terjaga dengan baik. Rongi dilakukan oleh banyak orang bukan hanya satu orang saja, agar lahan yang dikerjakan cepat selesai, oleh sebab itu ada nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnnya.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Rudolf, Arlano. “Ritual Tanam-Menanam Suku Ende Liohttp://www.watuneso.com.id/ 2009/03 di akses pada tanggal 16 mei 2017.

    Orinbao, P. Sareng. 1974. Peranan Religi dan Magi Dalam Pertanian Tradisional Suku Bangsa Lio. Maumere : Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero.


    Lihat Juga

    1. Bou (bahasa Ende, NTT : kumpul keluarga sebelum menghantar belis/mas kawin).  2. Supu (bahasa Ende, NTT : kerja sama).  3. Tarian Dowe Dara (bahasa Ende, NTT : tarian saat menanan tanaman). 

    Oleh :
    Vincensius Mengga ()