Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban)


Pulau Sumba memiliki tradisi yang sangat mengagumkan sekaligus membanggakan bagi penduduknya bahkan juga negara Indonesia. Kekayaan budayanya tidak diragukan lagi. Ia berpartisipasi untuk ikut menyumbang kekhasan budayanya yang mewarnai kebudayaan Indonesia. Sebut saja salah satu budaya Sumba yang khas yaitu Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban). Membawa hewan kurban menjadi tradisi untuk semua masyarakat Sumba mulai Sumba Timur sampai Sumba Barat Daya. Mengingat akan luasnya tradisi tersebut maka penulis perlu membatasi cakupan agar penulisan tidak terjadi kerancuan. Karena setiap kabupaten di Sumba memiliki sedikit perbedaan dalam kegiatan Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban). Penulis hanya akan membahas kegiatan membawa hewan kurban khususnya di kecamatan Elopada, Wewewa Tengah, Sumba Barat Daya NTT.

Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban) telah berlangsung turun temurun di Sumba khususnya di Elopada. Tradisi ini tidak diketahui kapan pertama kali dilaksanakan oleh penduduk Sumba. Tidak ada petunjuk khusus untuk mengetahui hal itu. Akan tetapi faktanya bahwa tradisi ini telah berjalan secara turun-temurun dan masih berlangsung sampai saat ini. Membawa hewan kurban adalah sebuah partisipasi anggota keluarga untuk membantu meringankan beban bagi keluarga inti yang sedang berduka (Rambe, 2014:102). Partisipasi ini juga merupakan suatu bentuk ucapan duka mendalam dari beberapa keluarga. Bentuk partisipasi keluarga beraneka ragam salah satunya yakni Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban).

Ada beberapa macam bentuk upacara Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban) yaitu pertama, bila ada anggota keluarga yang meninggal. Kedua, bila upacara Woleka (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: ucapan syukur). Biasanya ucapan syukur dilaksanakan karena memperoleh sesuatu hal sesuai dengan janji yang diadakan dengan Marapu. Ketiga, Makawera (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: pemindahan tulang-belulang). Secara harafiah Makawera merupakan sebuah acara pemindahan tulang-belulang manusia yang dilakukan oleh beberapa suku di Sumba. Keempat, peresmian rumah adat dan pembuatan kubur berbentuk persegi dari batu kapur yang dilubangi. Dari keempat macam bentuk upacara Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban) ini penulis akan lebih fokus pada bentuk pertama yakni upacara untuk tujuan orang yang meninggal.

Beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh setiap keluarga yang berduka untuk melangsungkan acara Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban). Tahapan-tahapan itu yaitu: pertama, pihak keluarga yang mengalami kedukaan mengirim utusan untuk mengundang anggota keluarganya. Utusan harus menyampaikan undangan kematian itu di rumah anggota keluarga yang diundang. Jika tidak dilakukan demikian maka pihak keluarga terundang menganggap tidak ada pemberitahuan. Utusan membawa dua bentuk undangan yaitu undangan untuk hadir dalam acara pemakaman (jika tidak berkenan membawa hewan kurba); dan permohonan berupa undangan untuk kesediaan membawa hewan kurban untuk upacara pemakaman (Wellem,2004:79).

Utusan harus memastikan dan memutuskan terlebih dahulu bahwa yang diundangnya akan membawa hewan kurban atau tidak. Jika keluarga yang diundang itu memutuskan untuk membawa hewan kurban biasanya mereka akan mengajukan beberapa syarat kepada keluarga yang berduka melalui utusan. Biasanya syarat yang diajukan adalah mereka meminta penyambutan dari keluarga yang berduka untuk memberi sarung tenun, seokor babi besar atau seekor kerbau. Syarat pemberian babi besar biasanya berlaku hanya untuk keluarga anak perempuan. Pengajuan syarat ini dilakukan dengan musyawarah mufakat tanpa hal itu maka dipastikan akan terjadi kesalah pahaman pada hari pelaksanaan Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban). Maka selanjutnya utusan akan kembali kepada keluarga yang berduka untuk menyampaikan pesan tersebut. Setelah membuat keputusan para utusan kembali lagi kepada keluarga yang sudah memastikan untuk membawa hewan kurban. Pihak keluarga yang akan membawa hewan kurban mengundang orang lain seperti keluarga terdekatnya dan tetangga untuk turut ikut dalam pelaksanaan kegiatan membawa hewan kurban.

Tahap kedua persiapan sebelum pelaksanaan dari pihak keluarga yang akan Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban). Pihak keluarga ini akan melakukan ritual kecil yaitu melaksanakan ritual sobbarana yasa (Wewewa, Sumba Barat Daya: memberi persembahan beras) kepada Marapu. Tujuannya adalah memberitahu kepada Marapu bahwa akan diadakan kegiatan membawa hewan kurban. Hal itu penting dilakukan karena jika tidak mereka akan mengalami permasalahan yang serius. Setelah pemberitahuan kepada Marapu, selanjutnya menyiapkan hewan kurban yang akan dibawa. Lazimnya orang semua Sumba membawa kerbau sebagai hewan kurban walaupun juga ada yang membawa kuda dan sapi (bdk. Wellem,2004:82-83). Jika hewan kurban yang dibawa adalah kerbau maka mereka akan memakaikan kain (berwarnai putih, merah da kuning) berukuran panjang sesuai dengan panjang dari tanduk kerbau. Kain itu diikat pada kedua tanduk kerbau dan membentuk bunga diantara kedua tanduk tersebut. Selain hewan kurban, masih ada dua hal lagi yang disiapkan yakni Ngawu (Wewewa, Sumba Barat Daya: kain tenun) untuk diletakkan diatas jenazah ketika tiba di rumah duka; dan Lero (Wewewa, Sumba Barat Daya: kain berukuran panjang sekitar 15-20 meter). Kain panjang ini dibentang memanjang dengan diberi 10-12 tiang penyanggah. Di depan kain panjang dipasang satu buah kain tenun sebagai kepala dari Lero (Wewewa, Sumba Barat Daya: kain berukuran panjang sekitar 15-20 meter).

Tahap pelaksanaan Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban). Pihak keluarga yang membawa hewan kurban dan rombongannya berjalan menuju rumah duka dengan diiringi bunyi gong dan tambur hentakkan kaki, tari-tarian serta Paiyawau (Wewewa,Sumba Barat Daya: teriakan untuk bersatu mengobarkan semangat) serta Pakalaka (Wewewa,Sumba Barat Daya: pekikan wanita) (Wellem,2004:79) . Demikian terus-menerus dilakukan hingga tiba di rumah duka.

Setibanya di rumah duka keluarga yang membawa hewan kurban disambut dengan bunyi gong dan tambur, hentakkan kaki, tari-tarian serta teriakan untuk bersatu mengobarkan semangat juga pekikan wanita. Kemudian pihak keluarga yang membawa hewan membalas juga cara yang sama. Setelah itu tuan rumah mendekati sang tamu (khususnya keluarga inti) memberi kain tenun pada pundak mereka. Pada saat yang sama mereka diberi siri pinang sebagai tanda diterima disertai dengan ciuman hidung. Pada saat ini pihak yang berduka memberikan syarat yang diajukan oleh pihak yang membawa hewan kurban. Setelah terjadi pertukaran ini maka masuklah keluarga inti baik dari pihak yang berduka maupun pihak yang membawa hewan kurban ke dalam ruang tempat jenazah diletakkan. Di tempat persemayaman jenazah itu mereka akan menangis bersama sambil meletakkan Ngawu (Wewewa,Sumba Barat Daya: kain tenun) di atas peti jenazah. Dengan meletakan kain tenun di atas jenazah maka berakhirlah upacara tersebut.

Upacara membawa hewan kurban ini adalah bentuk persahatan yang dibangun oleh masyarakat. Aristoteles mengatakan bahwa persahabatan mengatasi keutamaan keadilan (Riyanto, 2013:112). Persahabatan itu tulus dan murni karena dibangun bukan atas dasar keadilan. Harga hewan kurban yang diberikan tidak dihitung secara ekonomis oleh masyarakat. Hal itu terjadi karena ada ikatan persahabatan yang melampaui nilai-nilai keadilan.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Rambe, Aguswati Hildebrandt. 2014. Keterjalinan dalam keterpisahan. Makassar: Yayasan Oase Intim.

    Riyanto, Armada CM. 2013. Menjadi Mencintai. Yogyakarta: Kanisius.

    Wellem, F. D. 2004. Injil dan Marapu. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.


    Lihat Juga

    Kona Uma Kalada (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: kembali (mudik)ke rumah besar )  Tunda Mbinna dan ketena katonga (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: perkenalan diri oleh pengantin pria dan pengikatan/meminang)  Tauna Mawo (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: memberi persembahan kepada dewa) 

    Oleh :
    Marten CM ()