Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Tunda Mbinna dan ketena katonga (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: perkenalan diri oleh pengantin pria dan pengikatan/meminang)


Antropologi budaya Sumba memiliki keunikan tersendiri. Salah satu bagian terpenting dari budaya itu adalah upacara perkawinan. Upacara ini menjadi adat-istiadat masyarakat Sumba. Keterlibatan aktif bagi setiap individu dalam pelaksanaan upacara perkawinan menjadi penting (Rambe, 2014:182). Maka menjadi sebuah keharusan apabila seorang pria mempersunting perempuan Sumba. Upacara perkawinan di seluruh pulau Sumba secara umum memiliki kesamaan hakikat tetapi terdapat beberapa perbedaan di setiap suku-suku yang ada. Mengingat akan hal itu maka penulis membatasi kajiannya di wilayah Sumba Barat Daya khususnya suku Wewewa.

Upacara perkawinan di suku Wewewa memiliki tiga tahap dimana masing-masing tahap memiliki makna dan nilai budaya yang tinggi. Ketiga tahap itu yaitu pertama, upacara Tunda Mbinna (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: perkenalan diri oleh pengantin pria). Secara harfiah upacara ini berarti mengetuk pintu rumah pihak keluarga calon pengantin perempuan. Upacara itu dilaksanakan dengan mendatangi keluarga calon pengantin perempuan oleh calon pengantin laki-laki bersama dengan ata panewe (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: juru bicara) (Soekanto, 1981:246). Juru bicara berjumlah empat orang. Kedua bela pihak keluarga calon pengantin pria dan perempuan memilih dua orang juru bicara. Setibanya di rumah calon pengantin perempuan, juru bicara mengajukan niat mereka mempersunting seorang anak perempuan. ata panewe (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: juru bicara) dari pihak pria akan bertanya dengan bahasa halus Sumba,

maima hetti ole madara winni pare barrami, daiki awaina nemme umama yamme, nettilah makako kowodo makako kataba. Waiko “winni” paremi yapoda!)Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya:kami datang meminta benih padi, kami tidak memiliki apa-apa di rumah kami, maka dengan ini kami datang dengan sujud dan terlungkup. Jika hendaknya kalian memiliki “benih”, berilah!)

Pertanyaan tersebut akan di jawab oleh tuan rumah melalui juru bicara mereka. Jika ada “benih padi” (perempuan), maka mereka akan mengatakan,” wai netti oledadi, amimigi kamadara!” (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: “ya ada, saudara, datanglah mengambil benih!”). Kemudian calon pengantin pria memberikan gasu keto ia dara (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: satu buah parang dan satu ekor kuda). Hal itu sebagai bukti keseriusan untuk meminang calon pengantin wanita. Pihak keluarga perempuan membalas dengan memberikan Ngawu (Wewewa, Sumba Barat Daya: kain tenun panjang untuk pria dan sarung untuk wanita). Kain tenun tersebut sebagai tanda pengikat antara pria dan wanita. Selain itu sebagai alat komunikasi keluarga perempuan kepada wanita bahwa mereka diterima. Dalam pertemuan ini kedua bela pihak membuat kesepakatan untuk menentukan acara selanjutnya yaitu ketena katonga (Wewewa, Sumba Barat Daya: mengikat, meminang).

Tahap kedua adalah ketena katonga (Wewewa, Sumba Barat Daya: mengikat/meminang) (Wellem, 2004:66). Tahap ini adalah tahap dimana pihak keluarga perempuan dan pria bertemu. Keluarga prialah yang mendatangi keluarga perempuan. Pihak pria akan datang bersama dengan kedua orang tua, sanak saudara dan keluarga besar. Mereka akan membawa belis (mahar) beberapa ekor kuda, kerbau, sapi, mamoli emas dan katopo ulu lele (Wewewa, Sumba Barat Daya: perhiasan perempuan yang terbuat dari emas murni dan parang dengan pegangan terbuat dari gading) (Wellem, 2004:65-66). Jika tidak beberapa jenis mahar itu maka dapat diuangkan sesuai kesepakatan kedua bela pihak.

Setibanya di rumah orang tua perempuan, keluarga pihak pria dipersilahkan masuk dan diberi pertanyaan tentang tujuan kedatangan mereka melalui ata panewe (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: juru bicara). Juru bicara dari pihak keluarga pria akan mengajukan pertanyan seperti pada upacara Tunda Mbinna (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: perkenalan diri oleh pengantin pria). Bila pihak keluarga perempuan menyatakan bahwa mereka memiliki anak perempuan maka kedua bela pihak akan membicarakan belis (mahar). Inilah saat yang menegangkan bagi kedua bela pihak. Keluarga inti dari perempuan akan meminta belis sesuai dengan tingkat kedudukannya dalam masyarakat. Misalkan kedudukan pemberi perempuan adalah bangsawan maka jumlah belis yang diminta akan sangat besar. Biasanya jumlah mahar yang diminta sekitar 40-100 ekor kerbau, kuda dan sapi (bdk. Boersema, 2015:87-88) serta perhiasan-perhiasan yang sangat sulit didapatkan seperti mamoli emas dan katopo ulu lele (Wewewa, Sumba Barat Daya: perhiasan perempuan yang terbuat dari emas murni dan parang dengan pegangan terbuat dari gading).

Dalam pembicaraan tentang mahar juru bicara tidak boleh memihak salah satu keluarga tetapi harus netral. Bila mahar yang bicarakan sudah disepakati jumlahnya maka keluarga pria memberikan parang sebagai lambang tali dari hewan yang diberikan atau tanda simbolis penyerahan hewan. Parang yang diberikan itu sejumlah dengan hewan yang akan diserahkan kepada pihak perempuan. Pihak perempuan membalas dengan memberikan Ngawu (Wewewa, Sumba Barat Daya: satu kain tenun panjang untuk pria dan satu sarung untuk wanita). Pemberian itu disesuaikan dengan jumlah saudara pria, saudara dari orang tua berserta istri yang dimiliki oleh pihak pria. Demikian juga bila saudara-saudari pihak pria sudah berkeluarga maka akan dihitung bersama dengan sepasang suami-istri. Tidak hanya itu pihak perempuan memiliki kewajiban memberikan Ngawu (Wewewa, Sumba Barat Daya: satu kain tenun panjang untuk pria dan satu sarung untuk wanita) kepada Loka (Wewewa, Sumba Barat Daya: saudara laki-laki dari ibu) dan Uma Kalada (Wewewa, Sumba Barat Daya: rumah adat induk). Maka dipastikan pihak perempuan akan menyiapkan Ngawu (Wewewa, Sumba Barat Daya: satu kain tenun panjang untuk pria dan satu sarung untuk wanita) dalam jumlah yang banyak.

Belis (mahar) yang diberikan oleh pihak laki-laki akan dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya. Yang wajib diberikan belis (mahar) adalah saudara laki-laki dari ibu dan Uma Kalada (Wewewa, Sumba Barat Daya: rumah adat induk). Masing-masing mereka berhak mendapat satu ekor kerbau atau kuda. Bila kedua bela pihak sudah sepakat dengan belis yang telah ditentukan maka akan dilanjutkan tada matto, tada wasse(Wewewa, Sumba Barat Daya: mengenal mertua, mengenal mantu). Perlu diketahui bahwa selama proses diskusi tentang belis, calon pengantin perempuan tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Sampai ada kesepakatan mahar.

Pihak kaum pria akan mengajukan permintaan untuk melihat calon menantu mereka. Calon menantu akan keluar dari kamar digandeng oleh ibunya menuju tempat pertemuan dilangsungkan. Calon menantu membawa Ingngi (Wewewa, Sumba Barat Daya: kain tenun khusus untuk pria) yang akan diselempangkan untuk calon suaminya. Pada saat yang sama calon suami akan disuruh berdiri menyambut calon istrinya. Jika kedua sudah bertemu maka akan saling mencium dan memberikan tanda ikatan perkawinan. Pihak pria memberikan satu ekor kuda dengan simbol parang. Pihak wanita memberikan kain tenun dengan diselempangkan pada pundak calon suaminya. Pemberian parang dan kain merupakan tanda ikatan sebagai suami istri dan sumpah setia kedua mempelai itu.

Upacara perkawinan dalam budaya Sumba memiliki makna yang sangat mendalam. Proses meminang perempuan merupakan awal bagi pasangan suami istri membangun sebuah relasi. Kemauan kedua mempelai itu adalah bukti bahwa mereka sedang memasuki kedewasaan relasional (Riyanto, 2013: 190). Relasi yang baik antara suami istri memperkokoh hubungan mereka dalam membangun keluarga. Sebab keluarga adalah bagian penting bagi hidup manusia. Menurut Armada Riyanto keluarga adalah wahana awal dari segala konsep kebaikan dan keindahan dari manusia. oleh karena itu, mahar atau belis dalam budaya meminang di Sumba merupakan pengikat dan simbol agar pasangan keluarga baru tersebut setia dalam membangun keluarganya. Belis atau mahar tersebut bukanlah alat untuk membeli atau sekedar tawar-menawar tetapi ada nilai yang lebih tinggi. Nilai itu adalah menghargai martabat wanita dan kesiapsediaan pihak pria untuk setia dalam membangun keluarganya.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Boersema, Jan., Dr. 2015. Perjumpaan Injil dan Budaya dalam Kawin-Mawin. Jakarta: Yayasan komunikasi Bina Kasih.

    Rambe, Aguswati Hildebrandt. 2014. Keterjalinan dalam keterpisahan. Makassar: Yayasan Oase Intim.

    Riyanto, Armada CM. 2013. Menjadi Mencintai. Yogyakarta: Kanisius.

    Soekanto, Soerjono Dr., SH.,MA. Soleman b. Taneko, SH. 1981. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: cv. Rajawali.

    Wellem, F. D. 2004. Injil dan Marapu. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.


    Lihat Juga

    Kona Uma Kalada (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: kembali (mudik)ke rumah besar )  Soka Teba(Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: membawa hewan kurban)  Tauna Mawo (Bahasa Wewewa,Sumba Barat Daya: memberi persembahan kepada dewa) 

    Oleh :
    Marten CM ()