Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Marsiadapari (bahasa Batak Toba, Siborong-borong, Sumatera Utara: “Tradisi Gotong Royong dalam masyarakat Batak Toba”)


Wilayah Siborong-borong merupakan wilayah mayoritas masyarakat Batak Toba. Orang Batak Toba yang hidup di daerah ini selalu menjalankan rutinitasnya dalam kebersamaan. Dengan latar belakang mata pencaharian sebagai petani maka tradisi marsiadapari merupakan sesuatu yang tidak bisa lepas dari perjalanan hidupnya. Kebiasaan untuk selalu gotong royong dalam melakukan pekerjaan tentu bukan hal yang baru, tetapi sudah sejak dahulu kala. Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak (bdk. Bungaran: 2015.132)

Dalam bahasa Batak Toba, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: seseorang terlebih dahulu memberikan tenaga dan bantuan kepada orang lain, kemudian orang yang telah membantu meminta orang yang dibantu tersebut untuk membantu mengerjakan sesuatu. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!

Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, dalam masyarakat batak Toba mempunyai arti yang sama yaitu kegiatan gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama sehingga pekerjaan lebih ringan. Prinsip utama dalam marsiadapari ialah “Dokdok rap manuhuk, neang rap manea” (berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,) begitulah salah satu prinsip marsiadapari.

Pelaksanaan marsiadapari dalam masyarakat Batak Toba ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan hidup orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya. Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Na mora manang na pogos (miskin atau kaya), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling memberi hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya. “Sisoli-soli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, jika kita memberi maka kita juga akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.

Masyarakat batak Toba, pada zaman dahulu umumnya belum terbiasa dengan sistem upah. Adalah suatu keganjilan apabila seseorang memberi upah uang untuk membayar tenaga orang lain. Hal ini terjadi karena masyarakat Batak Toba sangat menekankan kebersamaan. “Massiamin-aminan, marsitukkol-tukkolan, songon suhat di robean” artinya berlapis-lapis seperti kulit pisang, saling topang menopang bagaikan keladi di lembah yang curam ( bdk. Hojot M. 2016:45)

Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona” artinya yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan. Sebab, mereka sadar suatu saat mereka pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Sampai sekarang tradisi marsiadapari masih ada dalam kehidupan orang Batak Toba. Namun, harus diakui secara jujur, bahwa pelaksanaan marsiadapari itu tidak lagi seperti dulu hampir di setiap bidang kehidupan. Itu semua karena zaman yang berubah.

Misalnya, marsiadapari di ladang sudah sangat berkurang karena adanya traktor atau alat canggih untuk pertanian serta mesin panen rontok padi dan tenaga kerja yang melimpah dengan upah lebih murah. Begitu juga misalnya membangun rumah, sudah lebih ekonomis diborongkan kepada tukang. Tetapi, pada kegiatan pesta adat, apapun jenis adatnya prinsip marsiadapari itu masih dilaksanakan dengan teguh. Di pedesaan tradisi ini masih dihidupi, jika ada acara adat perkawinan (mangoli) atau kematian (monding), maka seisi kampung akan ikut untuk melibatkan diri marhobas (mempersiapkan acara/ pesta), dengan semangat marsiadapari yang solid.

Di beberapa desa tertentu di Siborongborong bahkan masih menjalankan boras liat (beras sumbangan bergilir) atau indahan liat (sumbangan nasi yang masak bergilir) untuk disumbangkan kepada tuan rumah pesta. Juga sijula-jula (arisan bergilir berupa uang, beras dan daging) kepada pemilik pesta. Bentuk lain marsiadapari adalah ‘manumpahi’ (memberi bantuan baik berupa uang) atau beras (si pir ni tondi) sebagai bentuk perhatian untuk meringankan beban yang melaksankan pesta adat. Meski si penerima akan menganggap itu utang, namun si pemberi tidak selalu menganggap itu piutang (singir).

Menurut Hojot. M (2016:37), pada kumpulan marga, marsiadapari dalam kalangan sedarah (samudar) masih sering terjadi. Jika ada beban atau masalah seseorang dalam klan semarga, apalagi yang mempengaruhi martabat marga, maka secara langsung semangat kebersamaan dan marsiadapari akan muncul. “Mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru jala rap udur di angka na masa” (Melangkah bersama dan saling menopang serta menanggung resiko bersama). Namun perlu dipahami bahwa dalam relasi ini yang ditekankan bukanlah relasi subyek-obyek yang saling menaklukkan seperti konsep Sartre (Riyanto 2011: 97). Konsep relasi dalam marsiadapari ini ialah saling membangun satu sama lain, dalam kesetaraan.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Marluga, Hojot. Ungkapan Filosofis Batak. Bekasi: Halibutongan. 2016.

    Riyanto, Armada. 2011. Aku Dan Liyan Kata Filsafat Dan Sayap, Malang: Widya Sasana Publication.

    Simanjuntak, Antonius B. Karakter Batak. Jakarta: Obor, 2015.

    Sinaga, Richard. Perkawinan Adat Dalihan Natolu. Medan: Dian Utama, 1998.


    Lihat Juga

    Pasae Tujung (Bahasa Batak Toba, Humbang, Sumatera Utara: “Ritual pelepasan kain kabung dari seorang Istri yang ditinggal oleh Suami”)  Panombahion, Uhum Pupu dohot Toto ( Bahasa Batak Toba, Dolok Sanggul, SUMUT: “Tata cara tentang mengelola sawah atau ladang”)  Marripe-ripe (Bahasa Batak Toba, Siborongborong, Sumatera Utara: “Tentang kepemilikan bersama”) 

    Oleh :
    Jimson Sigalingging ()