Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Kolo Setoko Ne’e Aze Setebu( bahasa Bajawa, Ngada, NTT: kebulatan suatu tekad, tidak adanya keterpisahan dan melambangkan persatuan dan kesatuan)


Kolo Setoko Ne’e Aze Setebu merupakan suatu falsafah hidup yang muncul dari kepekaan sosial masyarakat Ngada terhadap sesama.“Kolo setoko ne’e aze setebu”berarti kebulatan suatu tekad, tidak adanya keterpisahan dan melambangkan persatuan dan kesatuan (Roga, 2014: 34). Di dalamnya mengandung semangat persatuan dari identitas masyarakat berbudaya, beragama dan bernegara. Semangat persatuan ini dilatarbelakangi oleh pluralitas dan keberagaman suku serta paradigma yang majemuk pada saat itu.

Di suatu wilayah di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di kota Bajawa, terdapat sebuah terminologi adat “kolo setoko ne’e aze setebu”, di mana terminologi ini sering digunakan oleh orang tua dan juga para ketua adat untuk memberi nasihat kepada maasyarakat. Biasanya terminologi ini disampaikan pada saat pertemuan bersama dalam keluarga, suku maupun dalam satu kampung. Tujuannya agar masyarakat dalam menjalani kehidupan bersama selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan yang pada akhirnya melahirkan suatu kehidupan yang aman dan damai. Terlepas dari itu, pepatah ini juga mau menggambarkan tentang bagaimana para leluhur menentukan ketentuan bersama sebagai pilar penjaga akan keutuhan bersama. Dalam adat dan berbagai kepentingan budaya, nenek moyang menanamkan sikap keutuhan dan integritas tekad dan niat mereka dalam berpikir, bertutur kata dan bertindak ( Roga, 2014: 35).

Para leluhur adalah figur praktis pewaris budaya, mereka mewarisi pepatah penuh makna ini bukan dalam bentuk bundelan buku melainkan dalam bentuk praksis hidup dan tradisi verabal. Tradisi verbal inilah yang mereka ajarkan kepada generasi mudah untuk menghidupi semangat yang ditunjukkan pepata “Kolo Setoko Ne’e Aze Setebu” ini. Pepatah yang mengajarkan kepada kita untuk hidup dalam persatuan dan kesatuan. Di mana perbedaan bukan suatu hal yang buruk dalam membangun hidup bersama melainkan keperbedaan menjadi sutu hal yang sangat unik dalam mewarnai kehidupan bersama. Perpaduan dari keperbedaan inilah yang akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

Kolo Setoko Ne’e Aze Setebu atau semangat persatuan adalah warisan verbal dari leluhur dan sekaligus roh kehidupan bersama utuk kita yang hidup dizaman modern ini. Kendati belum mendapatkan pendidikan formal layaknya generasi kita sekarang, para leluhur telag begitu baik bernapas dalam semangat kebersamaan yang kuat dan tak tergoyahkan. Sebenarnya hal ini menjadi refleksi mendalam bagi kita generasi yang terdidik, terpelajar yang nota bene memiliki rasionalitas yang tinggi serta daya kreatif yang tajam. Pertanyaan bagi kita, apakah kita yang hidup pada zaman modern ini adalah tentang apakah kita mampu melestarikan sprit“kolo setoko ne’e aze setebu”?

Menurut hemat saya, kita mampu menghidupi semangat yang terkandung dalam pepatah“kolo setoko ne’e aze setebu”ini. Hal utama yang perlu ditempuh adalah menanamkan sikap kecintaan akan semangat persatuan. Kita perlu belajar dari sesepuh dan pemangkuh adat serta terlibat langgsung dalam upacara-upacara adat di kampung agar kita tergerak untuk lebih dalam mempelajari budaya dan teristimewah falsafah yang terkandung dalam pepatah “kolo setoko ne’e aze setebu" ini (bdk. Ozias, 1990: 231). Keterlibatan ini adalah hal yang urgen sebab berhasilnya roh pepatah ini bukan terletak pada tataran teoretis semata melainkan pada aktualisasi tindakan nyata. Justru pada tataran praktis ini, nenek moyang mampu menghidupi spirit ini hinga zaman ini.

Terlepas dari itu, ungkapan atau pepatah adat “kolo setoko ne’e aze setebu” ini dapat dibawah juga dalam bidang kehidupan lain seperti politik, agama dan kehidupan bernegara untuk mencari kebenaran persatuan yang otentik(Roga, 2014: 36). Di mana situ mengajak kita semua untuk bersatu dan memadukan tekad bersama dalam semua bidang agar mampu mempertahankan dan menghidupinya sebagai kekhasan kemerdekaan yang berasal dari kekuatan persatua. Perbedaan agama, suku dan latarbelakang sosial bukan menjadi penghalang bagi kita untuk membangun pesatuan melainkan justru sebaliknya keperbedaan itu menjadi semacam warna-warna, di mana apabila warna itu dipadukan dengan baik dan benar maka akan nampak sebuah keindahan. Keindahan hidup bersama dalam perbedaan yang mana hal itu akan menghantar kita pada suatu pemahaman tentang hidup bersama yang berkualitas karena dibangun atas perbedaan dan menuju tujuan yang satu dan sama yaitu hidup damai dan harmonis.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Armada Riyanto bahwa persahabatan merupakan aktivitas relasional yang dirindukan oleh siapa pun. Kerinduan ini tampak dalam kehidupan sehari-hari. Manusia berkomunikasi, berelasi, dan mewujudkan opininya dalam bahasa satu sama lain. Bahasa adalah salah satu sarana persahabatan ( Riyanto, 2013: 115). Pernyataan Armada ini sejalan dengan warisan pepatah dari leluhur Ngada tentang “kolo setoko ne’e aze setebu” ini.Di mana mengajak kita untuk hidup bersaudaraa dalam persahabatan kita setiap hari. Hal ini dikarenakan para leluhur lewat pepatah ini mengajarkan kepada kita untuk hidup dalam persaudara dan persahabatan yang mana muara dari dua hal ini adalah menuju hidup yang aman dan damai. Aman dan damai karena kita melihat keperbedaan bukan sebagai penghalang bagi kita untuk membangun hidup bersama melainkan melihat keperbedaan itu sebagai moment bagi kita untuk menjalin hubungan persaudaraan yang akrab. Hubungan persaudaraan yang di dalamnya dibangun berdasarkan motivasi yang benar dan berlandaskan cinta kasih yang pada akhirnya menghantar kita pada suatu kebebasan dalam menjalin hubungan persaudaraan.

Singkatnya pepatah “kolo setoko ne’e aze setebu” mau mengajarkan kepada kita semua untuk hidup dalam kesatuan. Di mana dalam kesatuan itu tidak adanya permusuhan dan benci, melainkan yang ada hanya perdamain dan persaudaraan. Bagi orang Ngada pepatah “kolo setoko ne’e aze setebu” menjadi dasar untuk membangun persatuan hidup bersama dalam keperbedaan. Hidup manusia akan menjadi bahagia apabila di dalamnya ada kebenaran, cinta kasih, keadilan dan kemardekaan. Empat poin ini menjadi dasar atau inti yang harus kita ambil dari unkapan pepatah “kolo setoko ne’e aze setebu”. Kebenaran, cinta kasih, keadilan dan kemardekaan merupakan poin penting yang harus dimiliki oleh setiap manusia untuk mewujudkan apa yang kita sebut hidup damai. Di mana hidup damai akan terjadi apabila setiap manusia sudah menghidupi poin-poin tersebut. Namun, apabila belum menghidupi kebenaran, cinta kasih, keadilan dan kemardekaan maka perdamain itu tidak akan terjadi.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Fernandes, Stephanus Ozias. 1990. Kebijaksanaan Manusia Nusa Tenggara Timur Dulu Dan Kini. Maumere: STFK Ledalero.

    Riyanto, Armada. 2013. Menjadi-Mencintai. Yokyakarta: Penerbit Kanisius.

    Roga, Jimmy. 2014. Barina Ledalero :Pata Adha Pata Dela. Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero.


    Lihat Juga

    Bugu Kungu Uri Logo (bahasa Bajawa, Ngada, NTT: merupakan ungkapan adat orang Ngada untuk menggambarkan pribadi yang kerja keras)  Ili Bhou(bahasa Bajawa, Ngada, NTT: menyatakan perkumpulan, persatuan hidup bersama dalam masyarakat)  Ire (bahasa Bajawa, Ngada, NTT: merupakan term khusus yang dipakai untuk larangan melukai tanah) 

    Oleh :
    Delfinus Dhobu ()