Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

La’at Meka Weru (Bahasa Manggarai: Mengunjungi Bayi Yang Baru Lahir)


Penghormatan orang Manggarai terhadap sesama pertama-tama bukan karena status atau jabatan orang yang bersangkutan. Tetapi karena martabatnya sebagai manusia. Sebagai manusia semua orang layak di hormati dan diakui keberadaannya sebagai pribadi. Hak ini dimiliki manusia sejak ia berada dalam kandungan ibunya dan dibawanya sampai mati. Karena segala bentuk diskriminasi karena perbedaan sosial; kaya-miskin, pejabat- petani, atau karena latar belakang budaya; ras, suku, agama yang berbeda tidak dapat dibenarkan dalam kebijaksanaan hidup orang Manggarai.

Salah satu kebijaksanaan lokal Manggarai yang menjunjung tinggi martabat manusia yang terletak dalam kebisasaan la’at meka weru. La’at meka weru berasal dari kata La’at berarti kunjung atau mengunjungi, meka yang berarti tamu dan weru yang berarti tamu. Jadi la’at meka weru berarti mengunjungi tamu baru. Pengertian seperti hanyalah pengertian secara harafiah. Dalam kehidupan sehari-hari orang Manggarai menggunakan istilah la’at meka weru untuk mengunjungi keluarga yang memiliki bayi yang baru lahir. Pius Pandor dalam artikelnya yang berjudul “Menyambut Dan Memuliakan Sesama dalam ritus Tiba Meka Orang Manggarai”, menjelaskan bahwa kearifan lokal Manggarai la’at meka weru biasanya dimulai dengan ritus cear cumpe yakni ritus pemberian nama kepada seorang bayi yang baru lahir.

Pemberian nama ini menjadi simbol penerimaan dan pengakuan masyarakat terhadap anak yang baru dilahirkan itu. Dengan kebiasaan la’at meka weru setiap orang Manggarai mempunyai kewajiban untuk memelihara (tinu), mengajar (toing) dan memberi (teing) kepada anak yang bersangkutan serta pengarahan demi perkembangan hidupnya yang lebih integral (Pandor 2015: 210). Kebiasaan ini disebut la’at meka weru karena anak yang baru lahir di tengah keluarga. Anak ini ibarat orang asing. Maka saat melakukan la’at meka weru (mengunjungi anak yang baru lahir) dalam kebiasaan orang Manggarai biasanya membawa ayam, anjing, buah-buahan, beras, kacang-kacangan atau apa saja yang sesuai dengan keadaan keluarga bersangkutan atau berdasarkan keiklasan keluarga pengunjung. Barang barang ini bukan sumbangan terhadap keluarga yang dikunjungi tetapi buah tangan dari keluarga bersangkutan sebagi ungkapan sukacita karena telah lahir manusia baru.

Dalam budaya Manggarai jenis buah tangan yang di bawah saat ritus la’at meka weru tergantung hubungan keakraban antara keluarga pengunjung dengan keluarga yang dikunjungi. Keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan dekat biasanya membawa ayam, anjing disertai beras dan moke (sejenis minuman alkohol dari pohon enau) sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anggota keluarga baru. Sedangkan pengunjung yang tidak memiliki hubungan kekerabatan membawa buah tangan tergantung kerelaan hati. Bila tempat tinggal keluarga yang dikunjung dengan pengunjung berjauhan maka la’at meka weru oleh keluarga pengunjung akan dilaksanakan bersamaan dengan acara cear cumpe (pemberian nama si bayi).

Kebiasaan mengunjungi bayi yang baru dilahirkan dalam budaya Manggarai menunjukkan bahwa orang Manggarai sangat menjunjung tinggi keberadaan dan kehadiran sesama manusia. Kearifan ini mengajarkan kepada setiap orang sejak dini bahwa ia di terima sebagai bagian dari hidup bersama sejak ia dilahirkan. Kesadaran ini membuat setiap orang tahu bahwa ia tidak sendiri, ia berdiri di samping yang lain. Kehadiran yang lain sangat menentukan hidupnya.

Sejak awal hidupnya seorang manusia sangat bergantung pada belas kasih manusia yang lain. Manusia berbeda dengan binatang yang sebagian besar mengalami kematangan segera untuk berdiri sendiri sesudah lahir. Binatang memiliki kematangan yang lebih cepat dengan kemampuan yang perlu berada sendiri. Pada bayi manusia, organisasi otot dan syaraf berkembang perlahan dan bisa berlangsung sampai satu tahun. Tidak hanya itu dalam perjalanan hidup selanjutnya manusia tetap membutuhkan tuntunan manusia lain. Ia membutuhkan sebuah kelompok tempat ia belajar dan bersosialisasi dengan manusia lain agar dapat bertahan hidup. Singkatnya, ia tidak bisa hidup sendiri, ia bergantung sepenuhnya pada belas kasih manusia lain.

Jadi kebiasaan bersilahturahmi di antara sesama keluarga kerabat dekat adalah hal yang penting agar terbinanya keakraban, persaudaraan, kekeluargaan, persatuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Heidegger manusia adalah “Being-In- The World”, Subyek yang Berada- Dalam- Dunia. Dengan menyebut manusia being in the world, Heidegger pada saat yang sama hendak mengatakan manusia adalah, “Being-In-The Others” (Sermada 2004: 22-24). Konsekuensinya, subjektivitas manusia selalu mengandaikan dengan yang lain. Artinya, subjektivitas manusia tidak terisolasi dengan yang lain. Adalah satu tragedi jika eksistensi manusia terbuang atau terlempar dari subjek. Dengan demikian, ketika kita melihat seorang manusia, kita tidak bisa menjadi penonton pada eksistensinya. Artinya, apa yang menjadi pertaruhan dia menjadi pertaruhanku.

Karena itu kebiasaan la’at meka weru dalam acara cear cumpe (pemberian nama) adalah momen penting untuk bisa saling kenal. Dengan saling kenal generasi muda berikutnya terbiasa membina hubungan keakraban dan dapat menghindarkan perkawinan incest di Manggarai (Ngoro 2013: 164). Selain itu kebiasaan bersilahturahmi dapat melestarikan kelestarian adat yang sangat menjujung tinggi musyawarah, persatuan, perdamaian dan kebersamaan (Jehadut 2012: 114). Logika yang mau dikemukakan dari kebiasaan ini adalah bahwa rasa kemanusiaan secara inheren sudah melekat dalam diri manusia. Berhadapan dengan manusia kita tidak dapat berbuat lain selain menghormatinya. Bagi orang Manggarai sendiri yang kerap kali berperang merebut tanah, kebiasaan la’at meka weru dapat membantu pola perilaku dan pola tindak untuk memiliki penghargaan yang tinggi terhadap sesama dan menyelesaikan segala persolan dengan kepala dingin sebab hidup orang lain adalah tanggung jawab kita bersama.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Donatus, Sermada Kelen, 2004. Diktat Kuliah Filasafat Manusia. Malang: STFT Widya Sasana.

    Jehadut, Bonefasius, 2012. Uskup Wihelmus van Bekkum dan Dere Serani, Jakarta: Nera Pustaka.

    Ngoro, Adi. M., 2013. Budaya Manggarai Selayang Pandang, Ende: Nusa Indah.

    Pandor, Pius, 2015. “Menyibak Praksis Lonto Leok dalam Demokrasi Lokal Manggarai”, dalam KEARIFAN LOKAL PANCASILA: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan, Armada Riyanto, Johanis Ohoitimur dkk, (eds), Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Wae Teku (Bahasa Manggarai: Air Timba)  Hae Reba (Bahasa Manggarai: Sahabat)  Neki Weki Ranga Manga (Bahasa Manggarai: Berkumpul Bersama Sebagai Saudara) 

    Oleh :
    Matias Jebaru ()