Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Neki Weki Ranga Manga (Bahasa Manggarai: Berkumpul Bersama Sebagai Saudara)


Berbicara mengenai hidup bersama, orang Manggarai memiliki kearifan dalam mengatur tata hidup bermasyarakat. Salah satunya dalam ungkapan neki weki ranga manga. Suatu ungkapan yang mengungkapkan semangat kesatuan. Sebenarnya kebijaksanaan lokal orang Manggarai sebagian besar berbicara mengenai tata hidup bersama. Hal ini ditunjukkan dari aneka simbol yang digunakan dalam hidup sehari-hari yang menunjukkan secara eksplisit semangat kebersamaan itu mulai dari bentuk atap rumah yang berbentuk bundar sampai kebun ulayat yang berbentuk lingkaran yang melambangkan persatuan dan kesatuan. Tidak mengherankan jika ungkapan neki weki ranga manga merupakan kristalisasi dari niat dan harapan orang Manggarai dalam menghayati hidup.

Sebagai masyarakat agraris yang hidup komunal, orang Manggarai adalah tipe manusia yang tidak suka hidup sendirian, tetapi selalu tinggal bersama dalam satu kelompok. Kebenaran ini dapat ditemukan dalam bentuk perkampungan orang Manggarai yang juga berbentuk bundar. Dalam ungkapan neki weki ranga manga setiap orang dituntut untuk memelihara kebersamaan dan melestarikan persatuan. Di sana setiap orang diharapkan dapat “nai ca anggit” (sehati sejiwa) dan menghindari kemungkinan untuk “woleng curup” (berjalan sendiri-sendiri) (Pandor 2016: 453-454).

Kecenderungan untuk tinggal bersama dan berada bersama orang lain itu tidak saja karena dorongan kebutuhan-kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi dalam kehidupan bersama dengan orang lain, tetapi juga terutama karena seseorang akan menemukan makna hidupnya secara penuh justru dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Tujuan dari neki weki ranga manga dalam kearifan lokal Manggarai tamapak dalam beberapa prinsip berikut, “Muku ca Pu’u Neka Woleng Curup, Teu Ca Ambo-Neka Woleng Lako” (pisang serumpun jangan berbeda kata, tebu serumpun jangan berbeda jalan), “Ipung Ca Tiwu Neka Woleng Wintuk. Nakeng Ca Wae-Neka Woleng Ta’e” (ipung/sejenis ikan sekolam jangan berbeda tindakan, ikan sekali jangan berbeda bicara), “Ema Agu Anak Anak Neka Woleng Curup, Weta Agu Nara Neka Weoleng Bantang” (ayah dan anak jangan berbeda kata, saudara dan saudari jangan berbeda musyawarah untuk mufakat) (Pandor 2016: 454).

Ungkapan-ungkapan ini merupakan penjabaran dari prinsip hidup bersama, “neki weki ranga manga”. Dalam kebersamaan itu setiap anggota masyarakat berusaha menjadi berarti bagi orang lain. Di samping itu ia dapat menikmati kehadirannya di tengah orang lain. Maka sangat penting bagi dirinya untuk untuk ikut serta membangun hidup bersama yang harmonis. Karena dalam kebersamaan seperti itu setiap orang diberi peran untuk memenuhi kebutuhan kelompok. Bayak hal dalam hidup manusia yang tidak bisa di selesaikan tanpa keterlibatan orang lain sesuai dengan kemampuannya masing-masing (Mukese 2012: 121). Wujud persatuan dan partisipatif itu tampak dalam kebiasaan membangun rumah secara bersama-sama, pesta adat dan menguburkan orang mati.

Dalam upacara dan kegiatan bersama seperti ini setiap anggota masyarakat biasanya dengan tulus ikhlas mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan batuan moril yang lain. Karena itu orang Manggarai dikenal sebagai kelompok masyarakat yang gemar berkumpul bersama dan suka bergotong-royong. Berbicara mengenai semangat gotong-royong dalam hidup bersama, dalam budaya Manggarai dikenal banyak istilah yang mengungkapkan hal itu seperti, “Bantang Cama Reje Lele, Kope Holes Todo Kongkol, Neki Weki Ranga Manga, Wan Koe Etan Tu’a Kudut Kawe Cama La’ing Co Timbon Ata Dia’an (kalau hendak membicarakan sesuatu hal maka dibutuhkan kehadiran bersama baik yang kecil, orang muda maupun orang tua untuk bermusyawarah bersama guna mencapai tujuan yang baik dan benar) (Ngoro 2013:

14) di sana setiap orang memiliki makna sebagai salah satu mata rantai penting dalam hidup bersama.

Maka, kegagalan seseorang individu dalam menjalankan tugas juga dipandang sebagai kegagalan kelompok. Sebab sebagai masyarakat kelompok yang nai anggit tuka ca leleng hidup bersama dipandang sebagai suatu sistem organisme di mana setiap bagian yang membentuk organisme bersangkutan saling mendukung dan mempengaruhi keberadaan dan sepak terjang kelompok. Keberhasilan suatu bagian adalah keberhasilan seluruh organisme. Sebaliknya kemacetan dan kegagalan satu bagian merupakan kemacetan dan kegagalan semua. Di sanalah peran setiap orang menjadi mata rantai kunci keberhasilan bersama (Mukese 2012: 121-122). Inilah kebijaksanaan neki weki ranga manga.

Berdasarkan falsafah neki weki ranga manga, relasi sosial orang Manggarai sangat menekankan keterlibatan aktif dan nyata dari setiap orang. Akhirnya semangat kebersamaan yang dirumuskan dalam ungkapan neki weki ranga manga secara simbolis dihayati dalam pola perkampungan dan cara berkebun orang Manggarai. Orang Manggarai mengenal sistem perkebunan yang disebut lingko. Lingko menjadi simbol kelihatan yang mengungkapkan persatuan dan kesatuan orang Manggarai. Gambaran kesatuan yang tergambar dalam bentuk lingko seperti jaring laba-laba raksasa yang berpusat pada satu titik sentral yang disebut lodok, merupakan gambaran ide atau falsafah neki weki ranga manga.

Semangat kesatuan itu juga terungkap dalam bentuk kesatuan pola rumah adat (Mbaru Gendang). Di mana struktur atap rumah adat berbentuk kerucut dan mempunyai satu tiang penyangga utama yang menjadi penopang dari rumah adat yang disebut siri bongkok. Bentuk rumah adat ini juga mengikuti bentuk lodok lingko yang menyerupai jaring laba-laba raksasa. Semua gambaran fisik yang berbentuk lingkaran mulai dari bentuk kampung, rumah adat dan kebun ulayat yang berbentuk lingkaran merupakan ungkapan lahiriah dan kelihatan dari filosofi neki weki ranga manga. Karena itu, kesatuan hidup bersama yang terpola secara fisik dalam pola rumah gendang (adat) dan tata kampung (beo) bukanlah sebuah kebetulan semata, tetapi mau mengatakan bahwa kehidupan orang Manggarai memiliki tujuan dan keterarahan pada sang pemberi kehidupan, Mori Jari Dedek. Keterarahan ini dijalankan dalam kesatuan dengan sesama dan seluruh anggota keluarga dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat. Maka filosofi neki weki ranga manga pada saat yang sama langsung bersentuhan dengan hidup orang Manggarai yang terarah pada terciptanya relasi yang harmonis dengan alam, sesama, leluhur dan Sang Pencipta.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Mukese, Jhon Dami, 2012. “Makna Hidup Orang Manggarai Dimensi Religius, Sosial Dan Ekologis”, dalam IMAN, BUDAYADAN PERGUMULAN SOSIAL (Refleksi Yubilium 100 Tahun Gereja Katolik Manggarai), Martin Chen, Charles Suwendi, (eds). Jakarta: Obor.

    Ngoro, Adi. M., 2013. Budaya Manggarai Selayang Pandang, Ende: Nusa Indah.

    Pandor, Pius, 2015. “Menyibak Praksis Lonto Leok dalam Demokrasi Lokal Manggarai”, dalam KEARIFAN LOKAL PANCASILA: Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan, Armada Riyanto, Johanis Ohoitimur dkk, (eds), Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Wae Teku (Bahasa Manggarai: Air Timba)  Hae Reba (Bahasa Manggarai: Sahabat)  La’at Meka Weru (Bahasa Manggarai: Mengunjungi Bayi Yang Baru Lahir) 

    Oleh :
    Matias Jebaru ()