Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

WOENELU (BAHASA MANGGARAI: KELUARGA KERABAT YANG TERBENTUK ATAS DASAR PERKAWINAN)


Term Woenelu ini merupakan cetusan yang disampaikan oleh nenek moyang orang Manggarai dalam rangka membangun persahabatan dan kekeluargaan. Secara harafiah term ini berarti hubungan kekeluargaan yang terbentuk atas dasar perkawinan (Nggoro 2016: 55). Akan tetapi dalam aktualisasinya ungkapan ini tidak hanya dikenakan pada hubungan yang didasarkan pada perkawinan melainkan dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem kemanusiaan, seperti halnya hubungan kekeluargaan atas dasar relasi baik antara keluarga yang satu dengan yang lain dan atas dasar rasa solidaritas antara satu dengan yang lain maupun atas dasar rasa belaskasihan terhadap sesama. Kelompok-kelompok ini disebut woenelu.

Di wilayah NTT, tepatnya di sebuah kabupaten yang terletak di ujung barat pulau Flores bernama kabupaten Manggarai (Riyanto, dkk 2015:85), terdapat sebuah cetusan yang disebut woenelu oleh nenek moyang orang suku Manggarai. Kata woenelu itu sendiri berarti hubungan keluarga kerabat yang terbentuk atas dasar perkawinan. Untuk konteks sekarang kata ini tidak begitu familiar di kalangan orang-orang muda Manggarai, sebabnya mereka lebih menyukai bahasa-bahasa modern yang baru muncul yang terdengar gaul di kalangan mereka sendiri.

Orang Manggarai pada dasarnya sangat kental dan kuat dengan sistem kekeluargaan. Dari sistem kekeluargaan ini lahirlah beberapa istilah yang di kemudian hari menjadi suatu budaya, seperti contoh istilah woenelu (hubungan kekeluargaan yang terbentuk atas dasar perkawinan) kumpul kope (hal mengumpulkan dana untuk seorang pemuda demi membantu proses peminangan seorang gadis) (Nggoro 2016:90), wuat wai (hal mengumpulkan dana untuk seorang anak yang akan melanjudkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi/kuliah), dan masih banyak kebudayaan-kebudayaan lain yang berkaitan dengan sistem kekeluargaan tersebut.

Dalam budaya Manggarai dikenal istilah anak wina dan anak rona, istilah ini muncul dari sistem perkawinan yang disebut woenelu. Anak wina adalah keluarga “penerima” perempuan sedangkan anak rona adalah kelurga “pemberi” perempuan. Hubungan seperti inilah yang disebut woenelu. Ungkapan woenelu ini tidak hanya terbatas pada hubungan kekeluargaan yang didasarkan atas perkawinan melainkan lebih dari pada itu adalah hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang didasarkan atas rasa kemanusiaan. Bagi orang Manggarai, entah yang sudah saling mengenal maupun yang belum saling mengenal akan tetapi pernah bertemu dan terlibat dalam hal tolong-menolong pada sebuah kegiatan maka yang bersangkutan boleh disebut woenelu. Demikian juga dengan orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan disebut pula woenelu.

Kehidupan sehari-hari orang suku Manggarai, sangat syarat dengan kebiasaan yang bersifat tolong-menolong. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan-kebiasaan yang telah disebutkan di atas. Kebiasaan-kebiasaan ini muncul sejak masa kehidupan nenek moyang mereka sendiri dan kemudian terus berlanjut sampai pada masa ini. Namun pada umumnya banyak anak-anak muda Manggarai yang tidak mengenal istilah-istilah ini. Sebabnya mereka terlalu mudah terobsesi dengan bahasa serta kebudayaan yang baru muncul dalam kasana kehidupan mereka. Akan tetapi kendati pun demikian, masih ada beberapa orang Manggarai yang tetap menghidupi kebudayaan nenek moyang tersebut.

Kata woenelu itu sendiri memiliki pengertian yang cukup luas bagi orang Manggarai itu sendiri meskipun secara harafiah hanya terbatas pada hubungan keluarga kerabat yang dibangun atas dasar perkawinan. Akan tetapi dilihat dari aktualisasinya maka pengertian serta makna kata tersebut menjadi begitu luas. Sebab itu untuk memahaminya maka harus ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga orang Manggarai itu sendiri maupun yang non-Manggarai dapat mengerti dengan lebih baik dan benar.

Term woenelu ini tentunya mempunyai makna yang sangat tinggi nilainya bagi orang-orang Manggarai pada umumnya maupun mereka yang bukan Manggarai, karena di dalamnya terungkap nilai kehidupan bersama. Kehidupan bersama yang dibicarakan itu tidak hanya sekedar ungkapan kosong yang tidak memiliki arti sama sekali bagi orang Manggarai, melainkan sungguh-sungguh memiliki nilai etika komunitarian yang luar biasa, sebab di dalamnya didasari oleh rasa kemanuisaan. Dalam tradisi woenelu ini terungkap aktivitas yang bersifat tolong-menolong, seperti halnya menerima serta membantu orang-orang yang terpinggirkan, yang miskin, serta yang hidup terlantar. Dengan cara demikian maka orang-orang yang terpinggirkan tersebut merasa kehadiran mereka di dunia ini diterima dan dihargai.

Dilihat dari pengertian makna kata itu sendiri maka kata woenelu hanya terbatas pada lingkup yang kecil (hubungan kerabat keluarga yang terbentuk atas dasar perkawinan), tanpa ada kaitan dengan kehidupan bersama. Namun orang Manggarai tidak mengartikan kata tersebut secara sempit sebagaimana arti katanya itu sendiri, melainkan mengartikannya secara lebih luas dan bersifat terbuka. Hal ini nampak dari sikap dan tindakan mereka yang selalu mengayomi semua orang miskin, mereka yang terlantar, yang membutuhkan bantuan serta mereka yang tidak mempunyai keluarga sehingga mereka itu bisa hidup bersama dan saling menghargai harkat dan martabat sebagai manusia yang diciptakan Tuhan.

Dari sini kita dapat melihat bahwa tradisi woenelu yang terdapat dalam budaya Manggarai sungguh-sungguh luar biasa, apalagi dalam tradisi ini orang-orang Manggarai sendiri dengan penuh semangat persaudaraan dan kerendahan hati menjalankannya. Di sini jelas bahwa etika komunitarian sungguh-sungguh hidup dalam keseharian orang Manggarai, meskipun mereka tidak menyadari bahwa mereka sebetulnya sedang menghidupi etika komunitarian itu sendiri, tetapi toh hal itulah yang mereka lakukan. Sebab itu kebiasaan-kebiasaan seperti ini mestinya harus ditingkatkan, agar orang lain merasa bahwa kehadiran mereka di dunia ini diterima dan dihargai.

Apabila semua orang memiliki niat untuk hidup bersama dalam terang persaudaraan dan cinta kasih dan betul-betul menghayati nilai kebersamaan itu sendiri maka tidak ada lagi yang ditindas, didiskriminasi, dilecehkan dan dianiaya. Dan tidak ada lagi peristiwa peperangan, perampokan, pembunuhan yang membuat eksistensi manusia itu sendiri dinodai dan dimarjinalkan. Manusia harus bebas dari segala macam tindakan kekerasan, diskriminasi dan kecurangan dari pihak lain. Dengan demikian tidak ada lagi yang disebut the ather, melainkan hidup dalam komunitas persaudaraan. Komunitas tersebut merupakan komunitas yang selalu mengayomi, mengerti serta menghidupkan orang lain. Komunitas itu juga merupakan komunitas yang hidupnya dilandasi oleh etika komunitarian itu sendiri. Artinya bahwa semua orang yang menghidupi etika komunitarian harus saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain tanpa memandang bulu baik agama, ras maupun warna kulit dan lain-lainnya.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Nggoro, M. Adi. 2016. Budaya Manggarai Selayang Pandang. Ende: Nusa Indah.

    Toda, N. Dami. 1999. Manggarai mencari pencerahan historiografi. Ende: Nusa Indah.

    Riyanto, Armada, dkk. 2015. Kearifan Lokal Pancasila Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    LA’AT ANAK WINA (BAHASA MANGGARAI: HAL MENGUNJUNGI KELUARGA KERABAT PENERIMA ISTRI/SAUDARI)  PA’ANG NGAUNG (BAHASA MANGGARAI: HUBUNGAN KELUARGA YANG TERBENTUK ATAS DASAR HIDUP BERSAMA DALAM SATU KAMPUNG)  HAE REBA (BAHASA MANGGARAI: HUBUNGAN KEKERABATAN YANG DIBANGUN ATAS DASAR KENALAN, RASA PERSATUAN, PERSAUDARAAN, KEAKRABAN, KEKELUARGAAN DAN RASA KEMANUSIAAN) 

    Oleh :
    Fedrianus Ghela ()