Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

LA’AT ANAK WINA (BAHASA MANGGARAI: HAL MENGUNJUNGI KELUARGA KERABAT PENERIMA ISTRI/SAUDARI)


Term La’at Anak Wina (Nggoro 2016:60) ini merupakan cetusan yang disampaikan oleh nenek moyang orang Manggarai dalam rangka menjalin sebuah hubungan kekeluargaan dan persahabatan antara anak wina (penerima istri) dan anak rona (pemberi istri).

Di wilayah NTT, tepatnya di sebuah kabupaten yang terletak di ujung barat pulau Flores terdapat sebuah kabupaten yang bernama Manggarai (Riyanto, dkk 2015:85). Di kabupaten Manggarai terdapat sebuah kebiasaan yang disebut La’at anak Wina (bahasa Manggarai: hal mengunjungi keluarga kerabat penerima istri) (Nggoro 2016:60). Laat Anak Wina ini dilakukan oleh anak rona. Ada pun maksud dan tujuan la’at anak wina adalah untuk saling membagi sukacita antara anggota keluarga kerabat supaya saling mengenal perkembangan ekonomi keluarga, serta menghilangkan rasa rindu yang menunjukkan ungkapan kasih sayang dan ungkapan penghormatan yang besar kepada keluarga penerima istri.

Pada kegiatan la’at anak wina, oleh-oleh yang dibawakan oleh anak rona adalah dea (beras), nuru (daging) dan lain-lainnya (Nggoro 2016:61). Ada pun lauk utama yang harus disiapkan oleh anak wina ialah nuru manuk (daging ayam) (Nggoro 2016: 61). Dalam kunjungan ini anak rona meninjau situasi kesehatan, serta kesejahteraan anak wina. Sebab jikalau situasi atau keadaan anak wina baik, maka anak rona pun merasa bahagia akan tetapi jikalau keadaan atau situasi anak wina tidak baik maka anak rona pun sedih. Sedangkan berkaitan dengan hal ekonomi, kunjungan tersebut berguna untuk meninjau seberapa mampu anak wina menerima sida dari anak rona. Dalam kunjungan tersebut anak rona pun harus berjalan kaki, paktis pada saat itu kendaraan bermotor belum ada.

Dalam budaya Manggarai terdapat pula sebuah kebiasaan yang disebut sida. Sida adalah tuntutan dari pihak saudara laki-laki yang dibebankan kepada pihak saudari entah berupa uang maupun hewan. Hal ini tergantung dari kebutuhan pihak saudara laki-laki. Dengan demikian aktivitas la’at anak wina di sisi lain berguna untuk mengetahui dan memahami situasi serta kemampuan ekonomi dari pihak anak wina itu sendiri. Kegiataan ini pada umumnya selalu dilakukan oleh semua orang Manggarai, baik orang Manggarai yang hidup pada jaman dahulu maupun sekarang. Dalam kegiatan ini hendaknya anak wina menerima kedatangan anak rona dengan baik dan penuh sukacita agar kunjungan tersebut betul-betul menjadi tanda persahabatan dan kekeluargaan di antara mereka.

Kata la’at itu sendiri berarti mengunjungi, sedangkan term Anak wina artinya adalah anak istri/anak perempuan. Jikalau diterjemahkan secara metafor maka term tersebut berarti keluarga kerabat penerima istri. Untuk memahami arti dan konsep pernyataan tersebut maka pertama-tama kita perlu memahami latar belakang sejarahnya.

Di Manggarai dianut sistem patrilinear. Karena pada jaman dahulu nenek moyang orang Manggarai hidup dalam sebuah komunitas kecil yang disebut beo (kampung). Satu komunitas kecil ini terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, biasanya yang berkuasa dalam keluarga adalah ayah, untuk itu dianut sistem patrilinear tersebut. Dalam keluarga tentunya ada anak perempuan dan ada anak laki-laki (Nggoro 2016: 61). Setelah anak perempuan sudah dewasa, kira-kira berusia duapuluhan tahun ke atas maka anak perempuan tersebut kawin (berkeluarga) dengan seorang laki-laki yang bukan saudaranya. Setelah anak perempuan itu berkeluarga maka dia pun harus tinggal di rumah suaminya itu serta mengikuti marga suaminya. Anak perempuan tersebut beserta keluarga suaminya disebut anak wina oleh saudara atau orangtua dari anak perempuan tersebut (Nggoro 2016:61). Sedangkan saudara atau orangtuanya itu disebut anak rona.

Berkaitan dengan anak laki-laki praktis setelah dia kawin atau menika maka ia pun tetap tinggal pada marga orangtua kandungnya (Nggoro 2016:99). Anak laki-laki yang telah kawin itu disebut anak rona oleh pihak saudari. Dengan demikian muncullah istilah anak wina dan anak rona yang kemudian juga melahirkah kebudayaan la’at anak wina.

Demi terbinanya hubungan kekerabatan antara saudara laki-laki yang telah berkeluarga dan saudari perempuan yang telah menika dalam kehidupan selanjutnya maka perlu diadakan hubungan kekerabatan yang dilakukan melalui sistem perkawinan tungku (perkawinan anak perempuan dari saudara dan anak laki-laki dari saudari) (Nggoro 2006:99). Sebab itu hubungan kekeluargaan mereka tidak pernah putus sampai beberapa generasi.

Ditinjau dari kaca mata filosofis budaya la’at anak wina merupakan aktivitas yang memberi nilai etika komunitarian, karena di dalam aktivitas ini kita melihat aspek perjuangan yang begitu besar dari pihak anak rona untuk sebuah perjumpaan. Tanda-tanda yang mengungkapkan perjuangan dan pengorbanan diri anak rona dapat dilihat dari proses menuju perjumpaan tersebut. Perlu diketahui bahwa pada jaman dahulu di Manggarai dalam hal aktivitas transpotasi selalu bersifat manual sebabnya pada saat itu mobil hanya terdapat di kota dan itu pun belum begitu banyak, di kampung-kampung orang selalu berjalan kaki atau menunggang kuda ketika ingin melakukan perjalanan, baik perjalanan jauh maupun dekat. Dengan demikian pengorbanan diri anak rona dalam rangka la’at anak wina merupakan suatu kegiatan yang luar biasa. Apalagi mereka harus melintasi hutan lebat dan sungai-sungai besar. Hal ini menjadi tanda yang menunjukkan bahwa sistem kehidupan bersama orang-orang Manggarai memang sangat kuat.

Ciri yang menunjukkan etika komunitarian dalam aktivitas ini terlatak pada saat anak rona mengunjungi pihak anak wina dengan alasan mau melihat situasi kesehatan, kesejahteraan serta keharmonisan dalam rumah tangga anak wina (Nggoro 2016:61). Adapun tujuan lain dari kunjungan tersebut adalah supaya anak rona bisa melihat keadaan ekonomi anak wina. Jikalau keadaan ekonomi mereka baik maka anak rona bisa meminta sida kepada anak wina, akan tetapi jika keadaan ekonominya lema maka anak rona pun tidak serta merta meminta sida, meskipun itu adalah hak mereka sebagai anak rona, (Nggoro 2016:61).

Jadi dalam konteks ini tidak ada unsur wajib serta paksaan bagi anak wina untuk memenuhi permintaan anak rona sebab yang paling ditekankan adalah unsur kekeluargaan, kekerabatan, persaudaraan, kebersamaan serta kebahagiaan dan kesejahteraan kedua bela pihak. Sebab itu tradisi la’at anak wina tidak membawa beban bagi anak wina maupun anak rona melainkan memberi kegembiraan dan kebahagian baru. Dalam acara ini mereka saling membagi cerita, pengalaman, kegembiraan serta canda-tawa.

Dalam budaya orang Manggarai anak rona adalah pihak yang mempunyai kewajiban untuk melindungi serta menjaga anak wina baik melalui doa-doa maupun melalui kegiatan lain yang dapat membantu anak wina agar mendapakan kehidupan yang baik dan layak. Jadi makna yang mau dikemukakan di sini adalah ungkapan persaudaraan, kekerabatan, sikap altruisme, pengorbanan diri, hormat dan keadilan dalam kehidupan itu sendiri terutama bagi orang-orang suku Manggarai.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Nggoro, M. Adi. 2016. Budaya Manggarai Selayang Pandang. Ende: Nusa Indah.

    Riyanto, Armada, dkk. 2015. Kearifan Lokal Pancasila Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan. Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    WOENELU (BAHASA MANGGARAI: KELUARGA KERABAT YANG TERBENTUK ATAS DASAR PERKAWINAN)  PA’ANG NGAUNG (BAHASA MANGGARAI: HUBUNGAN KELUARGA YANG TERBENTUK ATAS DASAR HIDUP BERSAMA DALAM SATU KAMPUNG)  HAE REBA (BAHASA MANGGARAI: HUBUNGAN KEKERABATAN YANG DIBANGUN ATAS DASAR KENALAN, RASA PERSATUAN, PERSAUDARAAN, KEAKRABAN, KEKELUARGAAN DAN RASA KEMANUSIAAN) 

    Oleh :
    Fedrianus Ghela ()