Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

“Semu Bupati” (Bahasa Jawa: Kesan dari Penguasa)


Semu bupati merupakan salah satu cara dari tiga jalan yang dapat dilakukan oleh orang Jawa untuk mengutarakan kritik, cara ini merupakan cara terakhir yang paling halus dan paling sulit dimengerti. Kecuali oleh orang yang peka dan tingkat pemahamannya telah tinggi. Cara ini merupakan cara terakhir yang dapat dilakukan oleh seorang petinggi, cara mengkritik yang dapat dilakukan tanpa harus menurunkan kewibawaan seseorang. Tanpa terkesan meminta atau memerintah. Semu bupati memang merupakan etika khusus yang diajarkan kepada para petinggi atau pemimpin supaya dapat mengutarakan pendapatnya yang jritis, tanpa pula harus memperlihatkan sikap memberontak atau meminta perhatian. Hal ini merupakan tuntutan bagi para petinggi sebagai bagian dari masyarakat Jawa. Hal ini berkaitan dengan pengutaraan Suseno (1984) dimana individu berada dalam tekanan terus menerus untuk menngkontrol dorongan-dorongan spontannya dan menyesuaikan diri dengan pelbagai otoritas. Tekanan-tekanan ini mengandaikann tannggung jawab. Dimana tanggung jawab menurut Riyanto (2000) merupakan suatu perwujudan kodrat manusia yang sempurna. Semu bupati memang merupakan metode penyampaian kritik seseorang yang akan mencapai tahap manusia sempurna. Orang yang belum terdidik dan masih melalaikan tanggung jawabnya tidak akan mampu menyampaikan kritik dengan cara semu bupati karena belum dapat mengenali perilaku yang halus dan semu.

Tiga cara mengkritik baik dhupak bujang, esem mantri dan semu bupati dapat dilakukan berdasarkan posisi sosial seseorang yang akan mengkritik kepada pihak yang akan dikritisi. Semu secara harafiah memang dapat diartikan sebagai yang tak nampak jelas, semu atau kesan. Sementara Bupati adalah seseorang yang memimpin suatu daerah, kabupaten atau karisedenan (pada masa penjajahan Belanda). Dalam pengertian ini, yang dimaksudkan adalah suatu hal yang menyebabkan pendengar dapat paham dengan perantaraan bahasa simbolik yang semu. Tujuan cara kritik ini adalah supaya pihak yang sedang dikritisi mengerti secara melalui pemahaman yang baik. Selain itu, sama dengan Esem mantri, semu bupati berusaha mengutarakan kritik yang baik tanpa menyakiti pihak yang sedang dikritisi. Cara ini mengandaikan bahwa pihak yang dikritisi dapat memahami pesan melalui kesadaran yang mendalam. Semu bupati sendiri dalam prakteknya memang sering digunakan oleh para petinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardiman (2009) yang menyatakan bahwa suatu diskursus etis-politis dan diskursus moral sangat sulit dipisahkan. Seseorang yang memiliki weenang dan tanggung jawab yang besar pada akhirnya tetap dituntut untuk melakukan suatu perihal etis agar kekuasaannya tetap berjalan dengan baik.

Dalam konteks saat ini, semu bupati dapat kita lihat dari sikap Presiden Jokowi ketika menanggapi aksi 212 yang dilakukan oleh ormas yang mengatasnamakan suatu agama tertentu. Dalam aksi yang dilaksanakan pada hari Jumat tersebut, Presiden mendatangi lokasi aksi dan bershalat Jumat di sana. Hal ini sebenarnya merupakan teguran halus bagi para peserta aksi yang tidak menampakkan secara jelas tuntutan mereka selain untuk menyatakan kekuatan massa yang mereka miliki. Dengan kedatangan presiden di lokasi aksi tersebut, sebenarnya presiden ingin menyatakan bahwa pesan aksi tersebut dijawab oleh kekuatan negara. Bahwa pemerintah masih memiliki wewenang kuat dalam mengurus pemerintahan negara Indonesia, dan tidak takut akan ancaman massa yang mengatasnamakan kelompok tertentu.

Dalam dunia pewayangan, perilaku semu bupati dapat ditemui dalam kisah dan pribadi Semar atau Ki Lurah Semar. Semar juga memiliki predikat walaupun tidak setinggi Bupati namun ia merupakan seorang Lurah, atau orang yang dijunjung oleh sebagian orang di suatu daerah. Dalam salah satu kisah pewayangan yang berjudul “Semar Mbarang Jantur” (Tondowidjojo, 2013) semar melalukan suatu sikap yang sangat semu dalam mengkritisi Arjuna. Kisah dimulai ketika Arjuna ditugaskan oleh Baladewa untuk mencari Dewi Erawati yang hilang. Dalam perjalanan, ksatria mahasakti Arjuna lelah dan kelaparan. Arjuna yang ditemani oleh Semar dan anak-anaknya meminta Semar untuk mencari makanan. Oleh karena itu Semar terpaksa mengamen dan mencari nasi di Kademangan Widarakandang. Di sana Semar bertemu Sumbadra yang bersedia memberi nasi dan lauknya. Namun Semar meminta Sumbadra untuk mencampur segala nasi dan lauk menjadi satu untuk dibawa kepada Arjuna. Sesampainya nasi tersebut di tangan Arjuna, sang ksatria naik pitam. Namun ia tidak berani memarahi Semar karena ia merupakan seorang tua yang sangat dihormati. Heran dengan perlakuan sSemar, akhirnya Arjuna berkata mengapa ia tega berbuat demikian. Maka dengan itu Semar menjawab bahwa tidak seharusnya seorang pahlawan tidak mampu menahan lapar, apalagi berhenti begitu saja di tengah tugas.

Dari berbagai metode yang telah dijelaskan, nampak bahwa masyarakat (Jawa) merupakan suatu komunitas sosial moral (Hardiman, 2009) yang memiliki banyak cara untuk menyampaikan kritik berdasarkan situasi dan posisi pihak-pihak terkait. Hal ini juga senada dengan pendapat Ricoeur (2014) bahwa diskursus peristiwa dan wacana dapat tersalurkan melalui berbagai cara. Dengan banyaknya ragam metode, diharapkan bahwa masyarakat Jawa dapat menyelesaikan pertentangan tanpa harus memperkeruh suasana, seperti yang digambarkan dalam frasa kena iwak e, ora buthek banyune.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Hardiman, F. Budi. Demokarsi Deliberatif. 2009. Kanisius. Yogyakarta.

    Ricoeur, Paul. Teori Interpretasi: Membelah Makna dalam Anatomi Teks. 2014. IRCuSoD. Yogyakarta.

    Riyanto, FX. Armada, Dr, CM. Etika: Catatan Kuliah. 2000. STFT Widya Sasana. Malang

    Suseno, Franz Magnis. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. 1984. Gramedia Pustaka. Jakarta.

    Tondowidjojo, John, Prof. DR. KRMT, CM. Enneagram Dalam Wayang Purwa. 2003. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


    Lihat Juga

    “Kena Iwak e, Ora Buthek Banyune” (Bahasa Jawa: Ikan Didapatkan Tanpa Mengkeruhkan Air)  “Dhupak Bujang” (Bahasa Jawa: Tendangan Lelaki Muda)  “Esem Mantri” (Bahasa Jawa: Senyuman Serang Ahli) 

    Oleh :
    Dika Sripandanari ()