Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Séngét (Bahasa Manggarai: mendengar, dengarkan, perhatikan)


Séngét merupakan kata yang umum dipakai masyarakat Manggarai dalam konteks kehidupan bersama. Séngét berarti dengarkan, perhatikan, rasa, hiraukan (Verheijen 1997: 589). Contoh penggunaan kata ini dalam bahasa percakapan sehari hari: séngét le meu lé, pinga le méu sina! (dengarlah olehmu di sana, perhatikanlah olehmu di situ!). Selain digunakan dalam konteks percakapan, kata ini menekankan makna yang lebih dalam yaitu menjaga keharmonisan. Mendengarkan dan memperhatikan orang lain merupakan bentuk sikap simpati. Dengan mendengarkan dan memperhatikan orang dapat masuk dalam lingkaran hidup bersama. Dengan kata lain, séngét menunjukkan sikap hormat dan penghargaan terhadap orang lain.

Dalam bahasa Manggarai, aktivitas mendengar dan mendengarkan dibedakan oleh istilah séngét dan dengé. Séngét adalah adalah aktivitas mendengarkan, misalnya ada ungkapan yang demikian: Lawa sio remeng séngét titong de tu’a golo (Orang-orang itu sedang mendengarkan nasihat dari seorang pemimpin suku). Séngét (mendengarkan) bersifat aktif. Maksudnya, subyek yang mendengarkan dengan sengaja mendengarkan apa yang sedang diperdengarkan. Sedangkan dengé adalah aktivitas di mana subyek yang mendengar secara tidak sengaja, apapun yang sedang menghasilkan suara atau bunyi. Dalam bahasa percakapan, kita dapat mengatakan: Hi amang dengé lolo de acu ne wié (Si paman semalam mendengar suara anjing yang menggonggong). Dengé dengan demikan bersifat pasif, sebab subyek tidak memiliki rencana untuk mendengar. Hanya secara kebetulan, sesuatu yang menghasilkan suara itu berada dalam jarak yang dapat dijangkau oleh telinga subyek yang mendengar.

Mendengarkan adalah itu yang menentramkan kehidupan bersama dan juga sebuah aktivitas di mana saya mendapatkan satu pengetahuan baru. Dalai Lama mengatakan, “Jika kamu berbicara, kamu hanya mengulang apa yang kamu ketahui. Tetapi, ketika kamu mendengarkan, mungkin kamu akan mendapatkan suatu pengetahuan yang baru”. Sebuah kehidupan sosial atau sebuah kehidupan berkeluarga akan berjalan dengan tentram dan damai bila setiap pribadi saling mendengarkan. Dalam budaya Manggarai, kemampuan séngét cama tau (Saling mendengarkan), séngét pedé data tu’a (mendengar pesan orang tua), séngét reweng de endé (mendengar wejangan dari sang ibu) adalah sebuah keharusan. Sebab, kemampuan-kemampuan ini menyentuh perkara tata krama atau etika dalam kehidupan bersama. Pribadi yang mau hidup bersama orang lain dan mau hidup dalam sebuah keluarga, harus mampu dan mau mendengarkan.

Salah satu kebiasaan di mana orang Manggarai melakukan séngét cama tau adalah saat pendarasan torok tae (sejenis puisi adat atau doa kepada leluhur). Pada kesempatan itu, hanya ada satu orang yang tombo (berbicara) sedangkan yang lain séngét (mendengarkan). Séngét saat pendarasan torok tae mengandaikan bahwa si pendaras torok taé menyampaikan wejangan dan pengetahuan baru yang berguna bagi mereka yang sedang séngét (mendengarkan). Dengan séngét (mendengarkan), pribadi-pribadi yang hadir memperoleh pengetahuan baru, entah itu dalam ranah moral-etis, spiritual, ataupun intelektual.

Kebiasaan séngét pede data tu’a dan séngét reweng de ende tampak jelas dalam acara wuat wa’i (upacara perutusan). Dalam acara wuat wa’i sekolah (perutusan untuk sekolah), orang tua menyampaikan pengetahuan berupa wejangan, nasihat, dan harapan kepada anak mereka yang akan diutus untuk bersekolah di tempat yang jauh. Pengetahuan tersebut penting untuk menjadi pegangan bagi sang anak. Namun, perlu ditegaskan bahwa Séngét (mendengarkan) saja tidak cukup, sang anak juga harus memilki Imbi (percaya) terhadap apa yang disampaikan oleh kedua orang tuanya. Rasa Imbi (percaya) ini penting, sebab bagaimana mungkin ia mengindahkan apa yang tidak dipercayainya sebagai sebuah kebenaran. Di sini kita dapat melihat keterkaitan langsung antara Baé (tahu/pengetahuan), Imbi (percaya), dan Séngét (mendengarkan). Dalam hal ini, yang memiliki bae (pengetahuan) adalah orang tua, yang Séngét (mendengarkan) adalah sang anak. Sang anak dapat mengindahkan pesan dan nasehat kedua orang tuanya tatkala ia menaruh rasa Imbi (percaya) terhadap apa yang disampaikan oleh kedua orangtuanya itu.

Manusia selalu berada dalam sketsa relasi yang luar biasa (Armada Riyanto 2011: 13). Dalam konsep relasi seperti ini manusia tidak dapat menutup diri dengan kehadiran orang lain dalam hidupnya. Liyan diamini sebagai bagian dari cara beradaku. Konsekuensinya ialah selalu hidup bersama. Orang Manggarai memelihara dan merawat kehidupan bersama dengan cara yang khas. Kekhasan itu terletak dalam sikap saling mendengarkan dan memperhatikan satu sama lain. Terminologi séngét menampilkan keunikan relasi yang dibangun. Meskipun séngét bukanlah satu-satunya aktivitas membangun keharmonisan relasi. Namun, séngét adalah salah satu dari keunikan cara orang Manggarai dalam membangun kehidupan bersama. Tanpa saling memperhatikan dan mendengarkan kehidupan bersama berjalan tanpa arah. Maka akan muncul sikap tidak mau tahu.

Dalam menggarap tatanan hidup bersama séngét menjadi unsur penting dalam membangun dialog. Aku yang dialogal menampilkan sikap hormat, kesetaraan, cita rasa senasib dan sepenanggungan (Armada Riyanto 2011: 18). Kehadiran manusia adalah kehadiran dialogal. Kenyataan ini tidak dapat dicabut dari “aku” yang berelasi. Aktivitas séngét itu tidak pernah berhenti, selalu dalam keaktifan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa séngét tetap eksis dan memberi nilai yang luhur bagi pola kehidupan bersama.

Manusia itu selalu merupakan kesatuan dengan sesama dan dunianya. Orang Manggarai dalam kebersamaan itu menampilkan moto hidup bersama yaitu nai ca anggit tuka ca léléng (satukankan hati, bulatkan tekat). Untuk sampai pada tujuan ini orang harus saling mendengarkan atau memperhatikan satu sama lain. Séngét turut mewarnai perjumpaan dengan mengedepankan sikap hormat dan menghargai satu sama lain. Dari arti dan maknanya séngét membangkitkan kesadaran “aku” dalam perjumpaanku dengan yang lain. Dalam melakoni hidup sehari-hari setiap orang hadir bersama-sama dengan orang dalam suatu ruang dan waktu. Sehingga terjadi interaksi antar persona baik secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi itu tidak dapat dihindari (Armada Riyanto 2011: 95). Singkat kata manusia berada dalam lingkaran “ada bagi yang lain”. Pengalaman ada bersama menandakan bahwa aku harus mendengarkan dan memperhatikan orang lain.

Séngét merupakan kearifan dalam hidup bersama. Orang Manggarai selalu menjaga kebiasaan ini. Praktiknya dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian merambat dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap patuh seorang anak terwujud dalam sikapnya untuk mendengar dan memperhatikan dengan baik nasihat orang tua atau yang dituakan. Demikian pula dengan orangtua, ia akan menjadi ayah atau ibu yang baik kalau ia mampu mendengarkan anak-anaknya. Di sini séngét berperan penting dalam menjaga relasi dan sekaligus memupuk relasi yang harmonis. Pola relasinya dua arah, saling mempengaruhi dan mengisi satu sama lain.

Séngét juga berperan untuk merem egoisme, tidak mau peduli dan acuh tak acuh dengan kehidupan bersama. Salah satu karakter dasar orang Manggarai ialah toé ngoéng te karukak ka’éng tanah (tidak suka membuat keributan tinggal di dunia ini/ suka yang tenang). Prilaku ini dijumpai dalam kenyataan bahwa orang Manggarai mosé momang tau, hambor agu meler (cinta damai dan ketenangan) dalam menjalani kehidupan bersama (Petrus Janggur 2010: 134). Keluhuran nilai Séngét menancapkan makna yang mendalam bagi terciptanya ruang dialog antar-anggota masyarakat. Séngét menjadi syarat utama dalam menjaga relasi yang harmonis. Dalam konteks hidup saat ini, Séngét menjadi pilar dalam membangun sikap toleran dan damai.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Janggur, Petrus, 2010. Butir-Butir Filsafat Manggarai, Ruteng: Yayasan Siri Bongkok.

    Riyanto, Armada, 2013. Menjadi Mencintai, Yogyakarta: Kanisius.

    Verheijen, Jilis A. J., 1967. Kamus Manggarai I, Manggarai-Indonesia, Belanda: Koninklijk Instituut Voor Taal-LAND-EN VOLKENKUNDE.


    Lihat Juga

    Naring (Bahasa Manggarai: Puji, mengucapkan syukur, mengapresiasi)  Lejong (Bahasa Manggarai: bertandang, bertamu, berkunjung)  Nai ngalis tuka ngengga (Bahasa Manggarai: kebijaksanaan, hati yang terbuka) 

    Oleh :
    Arbianus Rivaldi ()