Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Bebadi (Bahasa Dayak Barai, Sintang, Kalimantan Barat: “Ritual Perdamaian antara Manusia dengan Penghuni Alam Semesta”)


Bebadi adalah ritual membuang sial guna menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh faktor alam atau hal tertentu yang berkaitan erat dengan alam setempat. Misalnya penyakit yang disebabkan Mata Air, Tanah Tumbuh, dll. Ritual ini biasanya dilakukan untuk menyembuhkan orang yang sakit keras, dengan dua indikasi berikut ini: tidak bisa diobat secara medis; dengan pertolongan tukang tenung, dan dipastikan bahwa roh orang sakit tersebut berada dalam genggaman penghuni unsur alam tertentu, misalnya mata air/sungai; pohon ara; dan lembah anker. Untuk mengambil atau memperolehnya kembali perlu ada kurban sebagai gantinya. Oleh karena itu diadakan sebuah ritual bebadi.

Di wilayah Kalimantan Barat, tepatnya di kota Sintang, di beberapa desa sekitar 60 Km dari kota Sintang, hiduplah suku dayak yang disebut Dayak Barai. Salah satu desa yang bersuku dayak Barai adalah desa Nanga Lidau (Kampung Nanga Lidau), Kecamatan Kayan Hilir (Nanga Mau), Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak) (bdk. Alloy, 2008: 95). Ketika ada salah satu anggota keluarga dari suku dayak Barai mengalami sakit keras dan tidak bisa disembuhkan secara medis, maka perlu dibawa ke tukang tenung, sebagai jalan alternatif utuk menyembuhkan orang yang bersangkutan. Kalau dalam pantauan tukang tenung dinyatakan bahwa dia, atau yang sakit itu benar-benar sakit diakibatkan oleh kesalahan orang yang sakit atau keluarganya terhadap suatu tempat tertentu yang berpenghuni, baik lahan ladang (tanah), maupun sungai dan kayu tertentu, maka diadakanlah ritual bebadi ini dengan segera. Tujuannya adalah untuk memulangkan atau mengambil kembali roh orang sakit tersebut; untuk menyembuhkan orang yang sakit karena unsur-unsur alam tertentu.

Ritual ini dilakoni oleh tukangk tonong (tukang tenung); keluarga yang bersangkutan. Dalam proses ritual bebadi, tukangk tonong memainkan peran sebagai juru bicara yang menyampaikan wujud dari kedatangan mereka ke tempat di mana roh orang sakit itu dibawa. Yang lainnya (pihak keluarga yang ikut) untuk menyiapkan segala sesajian dan memasak makanan untuk gana (penghuni) yang membawa roh orang sakit tersebut. Materi atau bahan-bahan penunjang acara tersebut adalah Ayam kampung tujuh ekor; Babi satu ekor; Ajing satu ekor; tepung ketan secukupnya; garam; minyak; bokat (bambu muda); jawak (wijen); tali kapuak (tali yang terbuat dari kulit kayu); beras secukupnya; Arak; rempah-rempat: kunyit, bawang merah dan daun bungkangk (daun salam); kampel penaoh semongat (bakul untuk menyimpan roh) dan tujuh biji telur ayam kampung. Proses ritualnya sebagai berikut.

Setelah semua dipersiapkan di rumah, lalu tukang tenung dan peserta bebadi berangkat ke tempat tujuan melalui jalan yang telah ditentukan. Saat berjalan menuju lokasi tidak boleh berbicara hal-hal yang tabu. Setiba di lokasi, semua barang yang dibawa diletakkan dan peserta mulai mencari mata air dimana roh itu bersemayam. Setelah ditemukan, lalu membuat langkau (pondok kecil) tempat mereka berteduh selama acara berlangsung. Kemudian petenung memulai pembicaraan kepada roh tersebut, menyampaikan wujud kedatangan mereka. Sementara itu peserta lain menyiapkan sesajian, berupa daging babi, daging anjing, ayam dan nasi bambu (bokat) serta rempah-rempah alami. Selanjutnya, tukang tenung mengkana (menceritakan) cerita-cerita rakyat dayak Barai yang bertema persahabatan salah satunya adalah “Mambang Sasa” yang menggiring roh tersebut pada persahabatan dengan keluarga dan mau menyerahkan roh orang sakit bersangkutan kepada tukang tenung untuk dikembalikan.

Setelah semua masakkan selesai dimasak, acara selanjutnya adalah memanggil semua gana (penghuni) setiap unsur alam semesta. Mulai dari langit, bumi, kayu, batu dan sampai pada sungai. Pemanggilan dilakukan dengan menebarkan beras kuning ke empat penjuru mata angin timur, barat, selatan, dan utara beberapa kali, dengan berhitung dari satu sampai tujuh. Misalnya: “sak...duak...tiga...mpat...limak...nam...tujoh: “tok kami datangk onak bokoloh bakesah, anak kami tok ngidap pemodeh udah berari-ari, bemingu-mingu, dongan bebulant-bulant, ia konak badi mata arai. “sak...duak...tiga...mpat...limak...nam...tujoh “itok kami datang nak mengkana-mengkene, sak ikau ngilak ka kami, ditok”.

(Satu...dua...tiga...empat...lima...enam...tujuh: “ini kami datang mau berkeluh kesah, anak kami ini sedang menderita sakit sudah berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, dia terkena badi mata air. Satu...dua...tiga...empat...lima...enam...tujuh: “ini kami datang hendak bercerita, biar engkau mendengarkan disini”).

Setelah semuanya disampaikan, lalu petenung memanggil mereka (penghuni unsur alam) untuk makan hidangan yang telah disediakan sesuai dengan ketentuan ritual. Setelah melakukan pemanggilan, berdiam sejenak, tanpa berbicara apapun. Tiga pulu menit kemudian, para peserta, termasuk tukang tenung sudah boleh memakan makanan yang disediakan bagi penghuni unsur alam tersebut. Lalu kemudian memanggil roh orang sakit itu dari penghuni itu dan disimpan ke dalam kampel semongat (bakul penyimpan roh) dan menutupnya dengan kain. Setelah semuanya beres, lalu mereka pulang. Setibanya di rumah si sakit itu, diadakan ritual singkat yaitu pengikatan tali kapuak (terbuat dari kulit kayu) pada tangan yang sakit. Apabila sudah selesai, ritual tersebut juga selesai.

Ritual tersebut sampai saat ini masih dipertahankan oleh suku dayak Barai, sebagai jalan terakhir pengobatan tradisional orang sakit keras. Tetapi berhadapan dengan konsep kekristenan, ritual ini menjadi jarang dilakukan, karena cukup kuat bertentangan dengan ajaran Kristiani. Selain karena ada unsur penyembahan berhala, kegiatan ini memusatkan perhatiannya pada suatu dewa tertentu.

Dalam pandangan modernisme tenung atau petenung adalah praktik dari orang yang mencoba menyakiti orang-orang lain lewat magi. Keyakinan ilmuan menerima bahwa dari sudut pandang fenomenologis, magi dan agama secara fundamental saling berlawanan (bdk. 1995: 62-63). Hal ini menjadi ancaman bagi kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. Berbicara tentang bebadi saat ini, selalu saja dibenturkan dengan konsep kristiani bahwa Allah dan Tuhan Yesus Kristuslah sumber segala kehidupan yang patut disembah dan dijunjung tinggi. Nasib ritual bebadi masih dalam keadaan dilematis. Disatu sisi krisiani dibenarkan, di sisi lain bebadi itu penting untuk kedamaian antara makhluk badani dengan makhluk spiritual dan kesembuhan secara tradisional orang yang sakit keras.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Alloy, Sujarni (dkk), 2008. Mozaik Dayak Keberagaman Subsuku Dan Bahasa Dayak Di Kalimantan Barat, Pontianak: Dayakologi.

    Dhavamony, Mariasusai, 1995. Fenomenologi Agama, Jogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Menyawat (Bahasa Dayak Barai, Sintang, Kalimantan Barat: “Gotong Royong”)  Mali dan Sida (Bahasa Dayak Barai, Sintang, Kalimantan Barat: “Tidak Boleh dan Boleh”)  Berazat dan Mulangk Ajad (Bahasa Dayak Barai, Sintang, Kalimantan Barat: “Bernazar dan Pembaharuan Nazar”) 

    Oleh :
    Siong ()