Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Fanaru (Bahasa Nias: hal “solidaritas” dalam berelasi hidup bersama Masyarakat Nias)


Fanaru itu adalah suatu upacara menugal, Yunus (1985: 90). Dalam upacara ini mempunyai tahap-tahapnya. Pertama adalah foriwu tanőmő (memilih bibit sulung), dalam kegitan foriwu tanőmő ada kegiatan seperti fangehao tanőmő (menyukar benih); manumba siraha woriwu (menyampaikan persembahan kepada dewi padi; mamakhőyő tanőmő (mencampur bibit sulung dengan bibit lain sebagai tambahanya); moriwu bangai nose (menugal bibit sulung) dan yang kedua ialah manaru (menugal seluruh areal perladangan). Maksud dan tujuan upacara ini ialah untuk memperoleh hasil panen yang melimpah ruah, Yunus (1985: 90). Tujuan lainya adalah untuk memberitahukan kepada warga desa, bahwa mereka akan memulai menugal. Karena masyarakat Nias percaya bahwa ladang yang ditugal tanpa melakukan upacara ini tidak akan menghasilkan panen yang baik.

Di sebuah pulau tepatnya di pulau Nias dan khususnya di Nias Utara, kecamatan Lahewa, terdapat suatu kebiasaan yang sangat populer yaitu fanaru, di mana dalam kegiatan ini mengandung unsur solidaritas dalam hidup bersama masyarakat Nias. Unsur solidaritas yang di maksudkan adalah relasi subjek dengan subjek untuk menciptkan situasi yang penuh keharmonisan, kedamaian dan kesejateraan. Penyelenggaran upacara ini pada siang hari di mulai pagi hingga sore harinya. Hari yang baik melaksanakan upacara ini adalah hari kedelapan sejak munculnya bulan sabit, (bdk. Hammerle. 1986: 162). Hari pelaksanaan upacara tidak boleh sama dengan hari kematian salah seorang anggota keluarga. Hal ini untuk menjaga agar roh dari orang yang meninggal jangan ikut memasuki lokasi upacara. Lalu tehnis dalam upacara ini adalah keluarga atau orang tertua dalam suatu keluarga yang berperan aktif. Dan untuk menyampaikan persembahan kepada dewi padi, dipimpin oleh ere (Nias: ketua adat) atau pemuka agama, (bdk. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Derah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan .1978: 132). Dan yang ikut ialah seluruh anggota keluarga baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Selain itu warga desa juga diundang untuk ikut. Karena prinsipnya ialah semakin banyak peserta upacara, semakin banyak hasil panen yang akan diperoleh.

Peralatan yang hendak di persiapkan adalah benih padi yang akan di tanam. Diantaranya terdapat bibit sulung, sebuah patung dewi padi, batang kayu burune yang berfungsi sebagai alat penugal benih padi, kayu manawambanua sebagai alat penugal keladi, kayu olalu sebagai alat penugal tanaman jagung, kayu ta’oro untuk menugal kacang-kacangan, farombu, yaitu tabung tempat benih, seekor babi, ayam dan ikan, beras secukupnya, peralatan untuk memasak dan peralatan makan, dan daun sebagai pembungkus makanan, Yunus (1985: 92). Benih padi yang akan di tanam telah di persiapkan satu tahun sebelumnya ketika selesai panen pertama. Kemudian di masukkan dalam farombu dan di simpan di paru-paru rumah. Kemudian bibit ini di sukat sebanyak yang dibutuhkan sesuai dengan luas areal perladangan. Ketika menyukat bibit, warga desa di undang untuk menyaksikanya. Bibit yang telah di persiapkan akan di bawa ke hadapan dewi padi agar di restuilah bibit padi ini sebagai yang sulung. Kemudian bibit tersebut di letakkan di hadapan patung, sementara peserta upacara duduk mengelilingi di sekitar patung itu. Kemudian hewan persembahan di sembelih, darahnya di oleskan ke bibir patung. Setelah mantera di bacakan oleh ere. Doa atau mantera tersebut adalah sebagai berikut :

hele sirao samo őlő, hele sirao samowua, so ndaaga mőiga moriwu tanőmő, mőiga mahayaigő towua, mabe zisara sara likhe, matanő zisambu sambua, maheta yomo bagatőlu, maheta yomo wőrőmbua, aheta ae horő zilai, aefa horő zi lőbolowua, aefa ngarorogő ngambatő, aefa ngarorogő baomoa, ya mői rorogőfi danő, ae okafui mane idanő, timba ae ziladari danő, timba ziladari mbanua, fahowuő ya manő maőkhő, fahuwua enaő alio ebua, bazi őfa bongi tafakhamő, mafuliga bawo ngambatő, mafuliga yomo ba mbanua, (Yunus 1985: 90). Artinya adalah wahai dewi sumber keberhasilan, dewi sumber buah, kami datang menyamai bibit, menyemai benih, kami semai tunggal berlidi, kami semai biji satuan, bebas dari rawatan anak laki-laki, bebas dari rawatan anak perempuan, tangkaplah hantu yang datang siang, berkatilah membesar setiap hari, berkatilah supaya menjadi besar, empat hari lagi kita ketemu sementara kami kembali ke balai dan desa. Setelah memuja dewi padi dilanjutkan dengan menanami areal perladangan.

Upacara fanaru atau menugal jelas mau menyampaikan suatu nilai yang luhur yang tinggi di dalamnya. Nilai itu menyangkut bagaimana hidup komunitas di bina, di semai seperti bibit padi dan dipoles sedemikian rupa. Dalam kegiatan menugal diatas di dalamnya terkandung unsur solidaritas bersama orang lain. Prinsip utama dalam kegiatan ini adalah bagaimana hidup bersama dapat selalu terjaga keharmonisan, sehingga yang namanya hidup berkomunitas dan hidup bersama yang lain selalu ada kedamaian dan kesejahteraan. Solidaritas yang terkandung dalam upacara ini ialah solidaritas dalam relasinya dengan yang lain. Apa itu? yaitu relasi persahabatan. Persahabat berarti mengatasi keuatamaan keadilan. Riyanto (2013: 112), menjelaskan tentang sebuah persahabatan yang bertitik tolak dari pandangan Aristoles mengatakan bahwa dua atau tiga orang bersahabat tidak membutuhkan keadilan. Sebab, bila satu sama lain bersahabat, mereka saling memerhatikan, menghormati, menolong dan berbagi, Dari konteks semacam ini, maka kehidupan bersama itu mencapai puncaknya menuju kebahagiaan sebagai saudara di dalam dekapan Sang kebahagiaan.

Orang Nias pada umumnya selalu menujujung tinggi nilai-nilai solidaritas entah di mana dan kapan pun mereka berada. Baik yang masih berada di kampung maupun di tanah rantau. Yang namanya solidaritas selalu mereka utamakan sebagai bentuk dan tanda persahabatan untuk membina kehidupan yang bertanggungjawab di dalam sebuah komunitas atau komunitarian. Maka dari itu terminologi etis fanaru atau menugal sebagai wujud nyata untuk membina solidaritas bersama yang lain.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Hämmerle, M. Johannes, ofm. Cap, 1986. Famatő Harimao. Nias: Yayasan Pusaka Nias.

    Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Derah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Adat Dan Upacara Perkawinan Daerah Sumatera Utara.

    Riyanto, Armada, 2013. Menjadi Mencintai. Yogykarta: Kanisius.

    Yunus, Ahmad. Drs. H. dan Yunus Hafid.M,(eds.), 1985. Upacara Tradisional Daerah Sumatera Utara. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Proyek Investarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.


    Lihat Juga

    Bila-Bila Gafimanu (Bahasa Nias: hal “persaudaraan” dalam hidup berkomunitas masyarakat Nias)  Mőli-mőli (Bahasa Nias: hal “sikap terhadap sesama dan alam” dalam masyarakat Nias)  Fame’e Gő (Bahasa Nias: hal “ tanggungjawab seorang ibu terhadap anaknya” dalam masyarakat Nias) 

    Oleh :
    Ibeanus Zalukhu ()