Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Handop(Bahasa Dayak Uud Danum Kalbar: Hal Gotong Royong, Kebersamaan)


Handop adalah pekerjaan bergotong-royong bergiliran untuk menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan berladang/bertani. Berladang merupakan bagian utama dari kehidupan masyarakat Uud Danum. Dove (1994: xxxi) menjelaskan bahwa kebudayaan Dayak di Kalimantan (dalam hal ini berladang juga termasuk di dalamnya) menggambarkan secara jelas relasi yang harmoni antara kebudayaan dan alam. Hampir semua anggota masyarakat Uud Danum tradisionil merupakan peladang. Hal ini bisa dimengerti karena Suku Dayak Uud Danum mendiami hutan rimba di pesisir hulu sungai Melawi dan Serawai di Kab. Sintang, Kalbar.

Berladang adalah suatu sistem pertanian yang memanfaatkan lahan kering, dalam hal ini perbukitan (sesuai dengan tekstur dan bentuk tanah di Kalimantan). Tanaman yang bisa ditanam di ladang diantaranya adalah padi, ubi, jagung, tebu, timun dan lain-lain (Soemarwoto: 2004). Masyarakat Uud Danum biasanya berladang sekali hingga dua kali dalam setahun.

Handop bisa dilakukan dalam banyak kesempatan sesuai dengan tahapan yang dilakukan masyarakat Uud Danum dalam berladang. Handop bisa dilakukan pada saat membuka ladang pertama kali (menebang pohon), menugal (menanam benih padi), menebas/menyiangi rumput liar ketika jagung sudah tumbuh dan juga panen raya. Semua ini dilakukan secara bersama-sama. Biasanya handop memang diikuti oleh warga kampung.

Keunikan dari sistem handop ini adalah sifatnya yang berbalas-balasan. Misalnya ketika keluarga A membutuhkan banyak tenaga untuk membuka ladang pertama kali, ia akan meminta warga kampung untuk handop di ladangnya. Ketika suatu saat nanti salah satu warga kampung yang ikut handop tersebut ingin membuka ladang baru, keluarga A berkewajiban untuk ikut handop di keluarga yang membuka ladang baru tersebut. Selain itu, kegiatan handop ini dilakukan tanpa upah bagi mereka yang membantu bekerja. Tuan rumah yang mengadakan handop ini hanya berkewajiban untuk menyediakan makanan dan minuman bagi orang yang ikut handop karena di ladang tersebutlah mereka akan bekerja, makan dan minum.

Tidak ada upacara/ritual adat khusus yang dilakukan, kecuali pada saat membuka ladang, dalam seluruh kegiatan yang bisa di-handop (buka ladang, nugal, menebas dan panen). Untuk membuka ladang, pemilik ladang harus “ijin” kepada roh/hantu yang mendiami tanah dimana ia akan berladang. Jika ia tidak memohon ijin kepada “si pemilik tanah”, ia bisa saja mendapat kesialan ataupun ladangnya tidak membuahkan hasil.

Upacara memohon ijin ini biasanya hanya dilakukan dan dipimpin oleh pemilik ladang bersama dengan keluarga intinya saja di tanah dimana mereka akan berladang. Alat-alat yang dipersiapkan adalah batu asah (yang digunakan untuk mengasah alat kerja), daun semomolum (daun bunga cocor bebek), sesaji (daging ayam, sirih-pinang, rokok, nasi dan lainnya). Upacara ini biasanya dilakukan secara singkat dan diisi dengan doa pemilik ladang kepada penghuni tanah tersebut. Di akhir upacara, pemilik ladang akan menanam daun semomolum tersebut. Daun ini menjadi simbol kesuburan karena tanpa niat untuk ditanampun (dilempar sembarangan saja misalnya), daun ini tetap dapat tumbuh di tanah.

Setelah ritual ini dilaksanakan, barulah pemilik ladang berani meminta warga kampung untuk handop di ladangnya. Lama waktu handop tidak dapat dipastikan, tergantung seberapa luas tanah yang dimiliki oleh pemilik ladang. Unuk ladang yang luas, handop bisa dilakukan selama 2-3 hari. Selama itu pula tuan rumah berkewajiban untuk menyediakan makan-minum.

Suasana yang muncul dalam handop adalah suasana kekeluargaan dan riang gembira. Setiap orang yang ikut handop biasanya bersenda gurau disela-sela melakukan pekerjaan mereka. Ketika ada yang kelelahan, peserta handop akan saling menguatkan. Dalam suasana yang rukun dan guyub seperti ini, pekerjaan yang banyak tidak akan terasa. Handop yang penuh sukacita tak jarang menjadi buah bibir warga kampung selama berminggu-minggu.

Nilai yang dimunculkan dalam handop adalah gotong royong dan kebersamaan. Warga kampung bekerja sama di ladang bukan karena upah atau makanan, melainkan kesadaran sebagai satu keluarga. Tuan rumah pun tak segan menyediakan makanan yang enak karena sukacitanya bisa berkumpul dan bekerja bersama warga kampung. Dalam hal ini, hitung-hitungan ekonomi bukanlah tolok ukurnya.

Gotong royong merupakan nilai yang sudah mulai pudar dari kehidupan masyarakat modern. Individualisme dan modernisme merasuki kehidupan manusia modern, bahkan sudah mulai memasuki kehidupan masyarakat Uud Danum. Syukur bahwa kegiatan handop ini masih tetap dilakukan dan diikuti oleh banyak orang muda juga hingga hari ini. Handop hadir sebagai antitesis individualisme yang merasuki manusia. Di tengah dahaga sikap cuek manusia, masyarakat Uud Danum masih mencoba hidup dalam kebersamaan.

Handop juga mengajarkan nilai penting mengenai persahabatan manusia dengan alam. Dunia modern menawarkan mesin-mesin canggih dan besar agar pekerjaan pertanian bisa diselesaikan dengan efisien. Handop justru menunjukkan kebalikannya. Handop membawa manusia untuk menyentuh bumi dan tumbuhan dengan tangan dan keringat sendiri. Tidak perlu mesin-mesin raksasa agar manusia dapat berdialog dengan alam. Handop menawarkan keintiman dengan alam yang sudah semakin hilang dari kehidupan manusia modern. Persahabatan intim semacam ini tentu diharapkan abadi karena dari alam manusia hidup

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Dewan Adat Dayak (DAD) Uud Danum. 2002. Hukum Adat Masyarakat Dayak Uud Danum Kecamatan Serawai dan Ambalau. Sintang: Dewan Adat Dayak Kabupaten Sintang.

    Dove, Michael R., 1994. Kata Pengantar, Ketahanan Kebudayaan dan Kebudayaan Ketahanan, Dalam: Paulus Florus (ed), Kebudayaan Dayak, Aktualisasi dan Transformasi, Jakarta: LP3S-IDRD dengan Gramedia Widiasarana Indonesia.

    Soemarwoto, Otto. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Yogyakarta: Penerbit Djambatan


    Lihat Juga

    Hopong(Dayak Uud Danum Kalbar: Upacara Penerimaan Tamu)  Kempunan (Bahasa Dayak Uud Danum Kalbar: Hal Menghargai Rejeki dan Kehidupan) 

    Oleh :
    TRIO KURNIAWAN (-)