Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Wee tua ngere sua wua, maku ngere watu lowo (bahasa Lio: hal “kesatuan”, kerja sama)


Ungkapan Wee tua ngere sua wua, maku ngere watu lowo biasanya dilakukan atau diucapkan oleh kepala suku di suatu daerah tertentu, biasanya ungkapan ini dilakukan pada saat hendak membuka kebun, bangun rumah atau kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan secara bersama lainnya dalam suatu wilayah atau kampung tertentu.

Di suatu wilayah di Nusa tenggara Timur tepatnya di kota Ende, terdapat suatu ungkapan yang dimaksudkan untuk melakukan sesuatu secara bersama agar kesatuan dalam hidup bermasyarakat semakin kuat. Ungkapan ini biasanya terjadi atau dilakukan pada saat daerah-daerah tertentu pada bulan-bulan tertentu untuk membuka ladang baru, membangun rumah baru dan kegiatan kebersamaan lainnya.

Pada suatu hari ketika musim hujan datang, masyarakat Ende Lio mulai berkumpul dalam satu rumah adat untuk bersama-sama berbicara mengenai bagaimana harus mengolah ladang. Pembicaraan tersebut biasanya dimulai oleh kepala adat masyarakat setempat baru kemudian para tokoh lain mengemukakan pendapatnya. Pembicaraan yang dilakukan oleh kepala suku biasanya dimulai dengan suatu pepatah di mana pepatah tersebut merupakan suatu bentuk motivasi agar masyarakat dapat bersama-sama dengan sehati-sejiwa dalam mengolah ladang.

Ucapan pertama yang diucapkan oleh kepala suku biasanya demikian; “woe tua ngere sua, maku ngere watu lowo” maksudnya adalah kebersatuan akan memperkukuh suatu kekuatan serta mampu menyelesaikan apa pun yang terasa rumit. Ozias (1990:31) mengatakan bahwa untuk lebih memperkuat kebersamaan dan pemersatuan dalam melakukan segala hal dipakai pula ucapan “ woe rua delu telu, woe rua mae bowa, dole telu mae welu” semua bersatu menjadi lebih kuat, seperti lidi berikat dan seperti tali berpintal tiga yang menjadi lebih kuat, dan tidak gampang dipatahkan atau diputuskan. Beginilah warga-warga masyarakat seia sekata, akan menjadi lebih kuat dan dapat lebih berhasil menjalankan suatu pekerjaan betapapun sulitnya seperti terlukis dalam kata-kata “pongo sewiwi lowo, uju sewara nongo”. Untuk mencapai sesuatu yang dapat dirasakan bersama perlu diadakan musyawarah, yang disebut “mera bou mondo” atau “bou tebo mondo lo” yang artinya berkumpul bersama (Ozias, 1900: 30-31).

Masyarakat Ende Lio memiliki rasa tolong-menolong yang sangat luar biasa. Tolong-menolong untuk masyarakat Ende lio yang biasa di sebut “ rapa laka” yaitu sikap yang bukan dalam arti timbal balik. Artinya bahwa dalam melakukan suatu pertolongan mereka sama sekali tidak mengharapkan imbalan. Bagi mereka, menolong sesama adalah suatu kewajiban yng harus dilakukan dalam kehidupan bersama. Tolong-menolong yang dipraktekan oleh masyarakat Ende Lio dilakukan atas dasar saling cinta (wua mesu), dimana beri-memberi dalam bentuk materi dibuat lewat tradisi yang telah mapan, seperti dalam urusan kawin mawin, pesta, kedukaan, dan sebagainya.

Pemikiran untuk hidup secara sosial bersama dalam masyarakat Ende Lio sudah ada dan itu diwariskan secara turun temurun. Pemikiran yang demikian akan melahirkan pula musyawarah. Munculnya biasanya pada saat sebelum sutau kegiatan penting dilakukan dalam keluarga atau suku. Yang diundang hadir adalah mereka yang termasuk orang penting dalam keluarga atau suku. Sering terjadi mereka datang secara spontan dan suka rela tanpa diundang. Kehadiran mereka dalam musyawarah dihormati dan dihargai, sekaligus mereka memperkuat serta menjamin ikatan kekeluargaan dan kerukunan keluarga serta suku. Mereka pasti hadir kalau tak berhalangan, karena kehadiran mengangkat kewibawaan diantara sesama anggotanya ( Ozias, 1990:45-46)

Orang Ende Lio berpikir secara konkret dalam hubungannya dengan seisi kampung oleh kawin-mawin atau oleh letak geografis. Dalam urusan perkawinan misalnya, banyak pihak ikut melibatkan diri karena suka rela, demi kerukunan dan persaudaraan dalam kampung. Pengadaan acara “ minu ae petu” atau minum air panas, juga “ bou tebo” yaitu menghimpun anggota-anggota keluarga dan suku, biasanya sebagai langkah awal keterlibatan semua anggota suku, sebelum pesta nikah. Tujuannya ialah mengumpulkan materi, ide serta menyusun rencana. Sumbangan yang diberikan biasanya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Masyarakat Lio mengenal juga kerja sama dalam membuat kebun, di mana orang secara suka rela mengulurkan tangan untuk membantu. Sikap semacam ini pun sekarang kian menyusut. Kerja kebun atau “kema uma” mempunyai beberapa cara seperti kerja sama bergotong royong, bersama-sama menyiangi rumput dan menginjak padi beramai-ramai. Dalam urusan kematian, orang datang secara spontan melayati si mati dan turut serta berbelasungkawa, yang disebut dengan “mbana nangi”.

Masyarakat Lio dalam hal ini memiliki kekayaan dalam hal adat-istiadat yang luar biasa dan unik. Seluruh karifan budaya itu bertumpuh pada nilai-nilai kemanusiaan yang mereka tunjukkan lewat kerja sama untuk kebersatuan dalam masyarakatnya. Mereka saling menghormati antara satu sama lain, penghormatan kepada lingkungannya dan juga penghormatan kepada Wujud Tertinggi (Tuhan). Dalam keseharian hidupnya mereka juga sangat bergantung pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat setempat (Bdk. Da Gomez, 2007: 281).

Ozias (1990:62) mengatakan bahwa orang Lio sangat menjunjung tinggi keramah-tamahan sebagai penghormatan terhadap orang lain. Bila bertemu di jalan mereka saling menyapa dengan “moo tau da mba. Atau “kau baru tei bu”. Sering kali ajakan tidak bersifat serius tetapi hanya dimaksudkan sebagai pernyataan adanya kontak batin antara mereka. Dari tingkah laku sehari-hari dari upacara-upacara adat terlintas pikiran tentang keharmonisan hidup. Pesta “ka uwi” makan ubi, diselenggarakan sekali setahun oleh seluruh masyarakat demi kerukunan antara sesama warganya.

Selain menjalin kerukunan antara anggota kerabat yang masih hidup, juga dengan nenek moyang, sanak saudara yang sudah meninggal. Pesta ini pula mengandung nilai keterbukaan hati untuk seia sekata mensyukuri hasil panen baru dan untuk saling berterima kasih atas kerja sama yang telah dilakukan bersama sejak mulai membuka kebun hingga usai petik panen.

Ungkapan Wee tua ngere sua wua, maku ngere watu lowoini memang sangat penting bagi masyarakat Lio. Mengapa dikatakan penting? Karena hal ini menunjukkan bahwa mereka dalam hal apa pun selalu melakukan secara bersama-sama sesulit apa pun sesuatu yang akan dikerjakan. Kepala suku atau yang mewakili yaitu tua adat sangat tegas dalam melakukan atau mengucapkan ungkapan ini. Hal itu dilakukan agar anggota masyarakat mau mengikuti setiap kegiatan secara bersama-sama tidak ada yang tidak.

Mengikuti kegiatan bersama-sama dalam suatu kesempatan di sini bertujuan agar semua anggota atau warga masyarakat turut merasakan bersama gampang atau sulit pekerjaan tersebut. Mereka dituntut untuk selalu hadir apabila ada kegiatan bersama terutama kegiatan dalam kampung tersebut. Jika ada anggota keluarga yang tidak hadir tanpa ada alasan yang jelas maka ia akan dianggap atau dicap memiliki mental yang uruk dalam tatanan hidup bersama.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Fernandes, Stephanus Ozias, 1990. Kebijaksanaan Manusia Nusa Tenggara Timur Dulu Dan Kini, Maumere: STFK Ledalero.

    Da Gomez, E.P, 2007. Sepanjang Jalan Kenangan: Rekaman Proses Suksesi Bupati Sikka (1959-2003) Dari P.S. Da Cunha Hingga DRS. Alexander Longginus, Maumere: Yayasan Kasimo Cabang Sikka.


    Lihat Juga

    Ka Uwi (Bahasa Lio: Makan ubi)  Tsana Ka Watu Pesa (Bahasa Lio: Dimakan tanah dan ditelan batu) 

    Oleh :
    Yohanis Yustinus Doi (-)