Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

“Besik Belik” ( Tradisi Jawa, Srengat Kab. Blitar Jawa Timur: tradisi menjaga dan memelihara sumber air)


Terminology ini berasal dari kata Besisk dan Belik (bhs. Jawa). Besik merupakan kata dasar, yang memiliki arti menyiangi, atau membersihkan. Secara umum kata Besik lebih tepat diartikan membersihkan. Sedangkan kata belik memiliki arti sumber. Sumber yang dimakasud di sini adalah sumber air. Jadi kata Besik Belik berarti adalah membersihkan sumber.)

Di desa Banyu Urip, Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar memiliki kebiasaan sebuah Tradisi Besik Belik. Tradisi ini merupakan tradisi tahunan masyarakat setempat. Tradisi ini biasanya dilakukan setiap akan memasuki Mangsa Rendeng atau musim penghujan. Besik Belik merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan bersih desa. Tradisi besik Belik memiliki keterkaitan dengan asal-usul desa Banyu Urip.

Nama adalah sebuah harapan. Itulah yang sekiranya selalu terniang dalam benak masyarakat Banyu Urip. Nama desa Banyu Urip memiliki arti sebuah pengharapan akan desa yang mereka tempati. Banyu Urip berasal dari dua kata Banyu dan Urip. Banyu berarti air dan Urip berarti hidup. Banyu Urip berarti Air yang hidup. Banyu Urip adalah sebuah terminologi harapan masyarakat, mereka berharap bahwa di desa yang mereka tempati air akan terus hidup. Tradisi Besik Belik merupakan sebuah tradisi yang bertujuan untuk menjaga sumber air supaya air itu tetap hidup dan memberi kehidupan bagi masyarakat.

Dibalik dari tradisi Besik Belik dan asal-usul desa Banyu Urip terdapat sebuah legenda yang turun-temurun dikenang oleh masyarakat desa Banyu Urip. Legenda ini memiliki hubungan dengan nama desa Banyu Urip. Suatu ketika salah satu pangeran Kerajaan Majapahit yaitu Pangeran Joyokusumo pulang dari melakukan semadi di daerah Candi Penataran. Bersama dengan para prajurit dan rombongan Pangeran Joyokusumo ingin pulang kembali ke kota raja dengan melewati jalan yang lain, sekaligus untuk melihat kehidupan rakyat Majapahit. Rombongan melewati jalur yang tidak biasa. Dalam perjalanannya mereka melewati sebuah desa yang sangat miskin. Di desa itu masyarakat hanya memanam singkong dan pisang itupun hanya waktu musim hujan. Di desa itu keadaan sangat memprihatinkan, lading mereka sangat tandus dan kering.

Melihat keadaan rakyatnya Pangeran Joyokusumo sangat sedih, ia memilih untuk tinggal di desa itu. Ketika tinggal disitu Pangeran Joyokusumo benar-benar merasakan penderitaan rakyat. Suatu saat Pangeran merasa sangat haus dan ingin minum, tetapi tidak ada air sedikitpun yang ditemukan, bahkan sumur-sumur telah kering. Untuk mendapatkan air mereka harus berjalan jauh menuju sungai Glagah. Akhirnya pangeran Joyokusumo ingin melakukan sesuatu supaya desa ini mendapat air.

Akhirnya pangeran Joyokusumo memutuskan untuk melakukan semadi untuk meminta pertolongan dari Hyang Widi. Pangeran Joyokusumo bersemadi selama 7 hari 7 malam dengan berpuasa. Akhirnya pada hari yang terakhir itu hapanya terkabul, dalam semadinya itu Pangeran bertemu dengan orang tua yang memberinya sebuah keris. Pangeran diminta oleh orang tua itu untuk menamcapkan keris itu dtengah ladang. Segera setelah menyelesaikan semadinya itu benar saja ada sebuah keris di pangkuan Pangeran Joyokusumo.

Berusaha untuk menwujudkan apa yang menjadi pesan dalam semadinya, Pangeran Joyokusumo kemudian menuju sebuah ladang yang sudah tandus karena kekeringan. Kemudian Pangeran Joyokusumo menamcapkan keris itu, dan seketika itu juga dari tancapan itu keluar air yang sangat berlimpah. Semenjak keadian ajaib itu warga desa sudah tidak pernah kekeringan lagi, bahkan di musim kemarau pun air masih sangat berlimpah. Menurut cerita keris yang ditancapkan itu menjadi sebuah pohon besar dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Dan semenjak saat itu juga pangeran Joyokusumo menamakan desa itu Banyu Urip, dan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat selalu mengadakan ritual Besik Belik.

Untuk tetap menjaga air itu masyarakat Banyu Urip mengkeramatkan sumber air itu dan mengadakan ritual Besik Belik. Ritual besik Belik selalu dilakukan bersamaan dalam kegiatan Bersih Desa. Tradisi Besik Belik adalah sebuah ritual dimana masyarakat berbondong-bodong untuk membersihkan sumber air yang mereka miliki. Sumber air bagi mereka adalah kehidupan. Dengan menjaga sumber iar berarti mereka menjaga kehidupan itu sendiri. Mereka mengakui akan adanya Sang Kehidupan itu yaitu lewat sumber air itu. Sosok realitas tertinggi yang mereka pahami adalah bahwa sang Kehidupan itu ada dalam sumber air. Sebagaimna Sang Kehidupan itu memberi hidup masyarakat juga merasa bahwa sumber air itu memberikan kehidupan. Masyarakat sangat menghormati sumber air itu sehingga mereka mengkeramatkan tempat itu. Mereka melarang orang mandi di sumber air itu dengan sabun, kemudian orang tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak senonoh di tempat itu. Mereka merasa bahwa sumber air itu suci, suci seperti kehidupan itu sendiri. Masyarakat jawa pada umumnya menghargai sesuatu yang bagi mereka dianggap sebagai yang memberi kehidupan adalah hal yang patut untuk dihormati secara lebih. (bdk.Suwardi,2015: 182). Salah satu bentuk dalam menghargai atau menghormati Hyang Widi satau Sang Kehidupan adalah dengan Manembah. Manembah adalah sikap yang menunjukan kerendahan diri di hadapan Sang Pencipta atau Sang Paraning. Bentuk Manembah itu bermacam-macam, salah satunya adalah tradisi Besik Belik yaitu menjaga sumber air. Menjaga sumber air adalah sama dengan menjaga kehidupan.

Air memang merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Mungkin kita tidak bisa membayangkan bila tidak ada air bersih. Banyak orang akan mengalami kesulitan, jadi sekira dapat dimengerti bila masyarakat Banyu Urip menganggap bahwa air adalah Sang Kehidupan. Sehingga bagi mereka menjaga iar adalah menjaga kehidupan. Paus Fransiskus dalam Laudato Si juga menyinggu soal air. Dalam Laudato Si bagian kedua artikel 27-31 menyinggung pentingnya air dalam kehidupan. Air adalah kebutuhan utama manusia. Sehingga air menjadi hal yang sangat berharga dalam hidup. Dalam seruan Laudato Si sangat dianjurkan untuk menjaga air, dan jagan sampai air dikotori sehingga menjadi cemar.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Bayuadhy,Gesta,2015. Tradisi-Tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa. Yogyakarta : Dipta: Endraswara,Suwardi, 2016. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta : Cakrawala.

    _________________, 2015. Agama Jawa. Yogyakarta: Lembu Jawa

    Harun,Martin (penerjemah) 2015.Eksiklik Laudato Si. Jakarta: Obor

    Purwadi.M,Hum, Dr, 2005. Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Bina Media.


    Lihat Juga

    Dahyangan (Tradisi Jawa, Ponggok Kab. Blitar Jawa Timur : kepercayaan adanya penjaga hutan)  “Derep” (Tradisi Jawa, Ngadirejo Blitar Jawa Timur : tradisi memanen padi)  “Ngeleb Saben, Nguri-uri kali” (Tradisi Jawa, Ngadirejo Blitar Jawa Timur: wejangan untuk memelihara tanah dan sungai) 

    Oleh :
    Yusep Septiawan ()