Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

“Derep” (Tradisi Jawa, Ngadirejo Blitar Jawa Timur : tradisi memanen padi)


Derep (bhs. Jawa) adalah kegiatan memanen padi. Derep biasanya menggunakan alat yang bernama ani-ani. Ani-ani adalah alat dari sekeping kayu dan bambu kecil dengansebilah logam di pinggir kayu yang berfungsi sebagai pisau. pisau inilah yang digunakan untuk memotong bulir padi dari batangnya. Sebagaimana tandur, derep juga diambil perannya oleh ibu-ibu tetapi juga sudah mengalami perkembangan bahwa kaum laki-laki juga ikut berpartisipasi. Ibu-ibu yang derep biasanya akan mendapatkan upahnya seper sepuluh dari hasil yang ia dapatkan. Upah ini namanya bawon. Dalam kebiasaannya ibu-ibu yang derep adalah mereka yang dulunya ikut tandur.

Di Desa Ngadirejo kec. Kepanjen Kidul kota Blitar memiliki suatu kebiasaan yang di sebut derep. Kebiasaan ini adalah kebiasaan para petani. Memang dapat dimengerti bahwa mayoritas pekerjaan masyarakat di Desa Ngadirejo adalah sebagai petani. Sebagai petani, mayoritas jenis tanaman yang ditanam adalah padi. Dalam setahun masyarakat ngadirejo bisa memanam padi sebanyak 2-3 kali dalam setahun. Kondisi tanah yang subur serta sumber air yang melimpah menjadi berkah bagi para petani sehingga memampukan mereka untuk bisa menanam padi sesering mungkin dalam satu tahun.

Menanam padi memang menjadi sebuah kebiasaan yang sering dilakukan bagi para petani di desa Ngadirejo ini. Sehingga masyarakat di desa ini secara khusus para petani memiliki tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang masih dipelihara sampai saat ini. Sebuah kebiasaan atau tradisi yang mengandung sebuah nilai etis dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat di desa Ngadirejo memiliki kebiasaan dalam menanam padi. Bagi mereka menanam padi bukan suatu yang asa-asalan tetapi memiliki suatu prosedur yan harus dilakukan. Dalam prosedur itu sebenarnya juga mengandung sebuah nilai etis. Menanam padi bukan hanya sekedar melempar benih kemuadian dibiarkan begitu saja tetapi diuri-uri atau dipelihara dan dirawat.

Dalam menanam padi dibagi menjadi tiga bagian yaitu wiwid/tandur, Nguri-uri dan Derep. Setiap bagian ini memiliki sebuah prosedur tersendiri. Salah satu yang ingin dibahas di sini adalah tentang Derep. Seperti yang telah disampaikan diatas, derep merupakan sebuah kegiatan memanen padi. Memanen di sini bukan hanya memanen begitu saja tetapi memiliki suatu prosedur yang harus dilakukan. derep tidak dilakukan sendiri oleh pemilik tanah tetapi dilakukan oleh banyak orang. Mereka yang melakukan derep biasanya masih ada hubungannya dengan yang melakukan tandur atau menanam padi.

Derep biasanya diawali dengan sebuah bancakan atau mbancaki. Mbancaki adalah kegiatan seperti slametan atau mengucapkan syukur karena masih mendapat berkah bisa memanen padi. Biasanya bancakan yang dilakukan cukup sederhana yaitu ada tumpeng kecil dan sesajen. Bancakan sering kali dilakukan di sawah yang padinya akan dipanen. Mereka yang ikut bancakan adalah mereka yang akan derep dan beberapa petani yang saat itu berada di sekitar area memanen. Bancakan biasanya dilakukan dengan ngujudke syukur atau memanjatkan syukur kemudian menikmati tumpeng yang telah disediakan. Meskipun sederhana Bancakan mengandung suatu nilai yang besar yaitu bersyukur kepada Hyang Widi, kemudian juga berbagi berkat dengan sesame lewat tumpeng.

Setelah bancakan orang akan memulai dengan ngerit. Ngerit adalah memotong batang padi atau bulir padi. Ngerit biasanya dilakukan pada malam hari atau pagi hari. Alat yang digunakan adalah sabit atau ani-ani. Memang saat ini terjadi suatu perubahan. Dulu rang menggunakan ani-ani tetapi saat ini orang justru menggunakan sabit. Pemilihan menggunakan kedua alat ini dipengaruhi dengan cara mengilah padi. Menggunakan ani-ani karena orang akan menggunakan lesung ketika akan menjadikan beras. Sedangkan menggunakan sabit orang lebih cepat karena lebih mudah untuk merentokan padi. Menggunakan ani-ani petani bisa lebih selektif dalam memilih tangkai bulir padi sehingga yang belum bisa dipanen bisa ditunda beberapa waktu lagi. Sedangakn menggunakan sabit jauh lebih efisien dalam hal waktu, tetapi bisa mengurangi hasil produksi karena ada padi yang belum siap panen yang akan tersabit atau terpotong. Setelah disabit padi yang masih menempel dengan tangkai akan dikumpulkan di satu tenpat.

Setelah ngerit maka padi yang masih bertangkai tadi akan dikumpulkan baru akan digeblog. Nggeblog adalah suatu cara untuk merontokan bulir padi dari tangkai. Caranya batang padi yang berbulir akan dipukulkan pada rengkek. Rengkek adalah sebuah kayu berbentuk kubus segitiga yang kayunya dibuat renggang. Kerenggangan pada rengkek dapat membuat bulir padi rontok dari tangkanya. Biasanya dibawah rengkek akan dialasi terpal supaya padi dapat langsung dihimpun.

Setelah selesai Nggeblog maka selanjutnya gabah atau bulir padi akan diinteri. Nginteri adalah membuang padi yang kopong atau kosong. Cara menginteri adalah bulir padi akan diayak atau di bersihkan dari dedaunan yang kering karena Nggeblog tadi. Kemudian, gabah atau bulir padi akan dituangkan dari atas sambal ditepasi supaya padi yang kopong tadi tidak bercampur dengan bulir yang berisi. Sekam atau gabah kopong nantinya akan dibuang untuk dijadikan pupuk. Batang padi biasanya disebut dengan damen. Damen biasanya akan dibuat untuk makanan ternak atau dipakai untuk pupuk.

Dalam derep ini mengandung nilai etis komutarian. Disini orang mekukan sebuah pekerjaan Bersama-sama. Mereka yang derep biasanya tidak mendapat upah dalam artian uang, tetapi dapat upah bawon atau sepersepuluh dari hasil panen. Disinilah suatu bentuk gotong royong yang dibangun dalam tradisi derep. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Purwadi bahwa gotong royong membangun suatu masyarakat yang peduli dan rasa memiliki. Gotong royong sudah tidak bisa lagi dibeli dengan uang (Dr. Purwadi, 2005:111). Gotong royong adalah sebuah nilai etika yang saat ini sangat diperlukan dalam masyarakat Indonesia. Dalam gotong royong orang tidak lagi bertanya siapa kamu? Apa agamamu?.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Bayuadhy,Gesta,2015. Tradisi-Tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa. Yogyakarta : Dipta:

    Endraswara,Suwardi, 2016. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta : Cakrawala.

    Harun,Martin (penerjemah) 2015.Eksiklik Laudato Si. Jakarta: Obor.

    Purwadi.M,Hum, Dr, 2005. Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Bina Media.


    Lihat Juga

    “Besik Belik” ( Tradisi Jawa, Srengat Kab. Blitar Jawa Timur: tradisi menjaga dan memelihara sumber air)  Dahyangan (Tradisi Jawa, Ponggok Kab. Blitar Jawa Timur : kepercayaan adanya penjaga hutan)  “Ngeleb Saben, Nguri-uri kali” (Tradisi Jawa, Ngadirejo Blitar Jawa Timur: wejangan untuk memelihara tanah dan sungai) 

    Oleh :
    Yusep Septiawan ()