Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Dahyangan (Tradisi Jawa, Ponggok Kab. Blitar Jawa Timur : kepercayaan adanya penjaga hutan)


berasal dari kata dasar Dhanyang (bhs. Jawa) yang memiliki arti penjaga, pemilik atau penguasa. Dalam hal ini Dahanyangan berarti penguasa. Dalam budaya Jawa Dahnyangan adalah sesok entah manusia atau mahkluk yang lain yang menjadi “penunggu” atau “penjaga” sebuah tempat yang dikeramatkan. Dahnyangan adalah sebuah konsep dalam budaya Jawa yang ingin menggambarkan eksistensi sebuah realitas yang tinggi (bdk. Suwardi 2015:211).

Di desa Maliran, kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar ada suatu kepercayaan mengenai adanya Dahnyangan. Di desa Maliran ini ada hutan yang sangat luas dan masih cukup lebat. Pepohonan yang ada di hutan ini cukup bervariatif. Usia pepohoan di hutan ini cukup sangat tua. Menarik bahwa hutan ini sangat dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Dari dulu orang tidak sembarangan untuk menebang pepohonan yang ada di hutan Maliran ini. Mereka mempercayai bahwa hutan ini sangat angker dan ada Dahnyangan yang menjaga hutan ini. Bila ada orang yang dengan sembarangan menebang pohon ini maka merea akan ‘diganggu’ oleh Dahnyangan yang menunggu di hutan Maliran ini.

Bagi masyarakat desa Maliran mereka benar-benar mempercayai adanya Dahnyangan. Di desa Maliran tepatnya dipinggir hutan Maliran ada sebuah punden, di punden itu orang sering berkunjung untuk memohon selamat ketika akan melakukan hajatan. Mereka mempercayai bahwa Dahnyangan itu berada di punden itu. Adanya kepercayaan Dahnyangan ini merupakan tradisi yang turun-temurun sejak nenek moyang. Roh Dahnyangan akan selalu berada di Hutan Maliran ini untuk menjaga hutan. Kepercayaan ini tak lepas dari sejarah atau asal mula desa Maliran.

Desa Maliran adalah satu-satunya desa di kabupaten Blitar yang masih memiliki hutan yang lebat. Di desa ini hutan memamng terjaga karena adanya kepercayaan tentang Dahnyangan. Asal-usul desa ini adalah berawal dari perang Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro kalah perang melawan penjajah, sebagian pasukan atau prajurit Diponegoro yang tersisa melarikan diri sampai ke Jawa Timur. Salah satunya adalah pasuka yang di pimpin oleh Nyi Gadung Melati. Bebrapa orang yang menjadi pengikut Nyi Gadung Melati ini melarikan diri dengan masuk ke sebuah hutan yang berada di wilayah kabupaten Blitar yang saat itu masih masuk Karesidenan Kediri. Tujuan mereka masuk hutan adalah supaya tidak tertangkap oleh penjajah yang mengejar mereka. Mereka meyakini bahwa penjajah tidak akan mengejar mereka sampa ke dalam hutan.

Ketika mereka masuk hutan, mereka tidak menyangka bahwa hutan yang mereka masuki adalah sebuah hutan yang sangat ‘gawat kaliwat-liwat’ atau berbahaya. Bahkan hutan ini memang belum pernah terjamah oleh manusia. Ketika mereka masuk hutan ini mereka mulai merasakan sebuah keanehan-keanehan. Keanehan itu adalah hilangnya satu persatu orang-orang yang mengikuti Nyi Gadung melati. Awalnya mereka tidak menyadari keanehan itu mereka mengira bahwa mereka yang menghilang karena ingin hidup bebas dan lepas dari kepasukanan dari Nyi Gadung Melati. Sampai akhirnya yang tersisa adalah Nyi Gadung Melati dan salah satu prajuritnya. Akhirnya mereka sadar akan keanehan itu, yaitu bahwa mereka melewati jalan yang sama ketika mnyusuri hutan itu.

Akhirnya Nyi Gadung melati melakukan semadi di bawah salah satu pohon yang sangat besar. Ketika melakukan semadi Nyi Gadung Melati mengalami banyak gangguan, tetapi karena niat yang sudah bulat akhirnya Nyi Gadung Melati melewati gangguan itu. Nyi Gadung Melati adalah salah satu senopati kerajaan Mataram yang sangat sakti. Sehingga ia tidak begitu kuatir dengan setiap ganguan. Dalam semadinya itu Nyi Gadung Melati bertemu dengan seorang manusia yang sangat buruk sekali rupanya, manusia ini sangat aneh rupanya. Ketika ditanya manusia itu mengaku Hyang Togog penguasa tanah jawa.

Pertemuan Hyang Togog dan Nyi Gadung Melati menghasilkan sebuah perjanjian yaitu bahwa Nyi gadung melati boleh membangun pedukuhan asalkan tidak membabad hutan sembarangan. Nyi Gadung Melati diminta untuk meng-uri-uri hutan itu. Kesepakatan itu terjadi, Nyi Gadung melati di suruh mencari pohon Jati yang tumbuh dan batangnya saling bersinggungan. Ternyata benar bahwa keanehan itu merupakan karena ulah dari penunggu hutan itu. Setelah semadi orang-orang pengikut Nyi Gadung Melati kembali satu persatu. Nyi Gadung memutuskan untuk membuka sebuah pedukuhan di hutan ini, setelah menemukan pohon yang dimaksud dalam semadinya itu Nyi Gadung Melati akhirnya membabad sebagian hutan itu dan dijadikan pedukuhan Bersama dengan pengikutnya. Sesuai dengan lokasi itu yaitu adanya dua pohon jati yang yang saling bersinggungan dan berderit Nyi Gadung melati menamai pedukuhan itu dengan nama Jati Gerot. Inilah asal-usul desa Maliran entah kapan nama Jati gerot berubah menjadi Maliran.

Ajaran Nyi Gadung Melati yaitu bahwa setiap orang yang tinggal di desa Maliran atau Jati Gerot tidak boleh sembarangan merusak hutan. Mereka harus Nguri-uri hutan ini sebagaimna telah menjadi perjanjian dengan Hyang Togog sebagai Dahnyangan di hutan itu. Sehingga samapai saat ini warga desa sangat menghormati dan menjaga hutan ini. Mereka telah menjaga warisan leluhur ini. Disini sebenarnya dapat diambil suatu nilai yang baik mengenai kepercayaan dengan adanya Dahnyangan. Suatu nilai etika tentang lingkungan hidup. Dengan adanya kepercayaan akan adanya Dahnyangan orang menjadi tidak berani sembarangan untuk merusak hutan mereka takut jika merusak hutan akan memndapat celaka.

Dari sudut etika hal ni baik untuk menjaga hutan. Kita tahu bahwa saat ini banyak hutan yang dulunya lebat kini menjadi gundul karena keserakahan manusia. Adanya kepercayaan dengan Dahnyang keserakahan manusia unutk merusak hutan dapat dibatasi. Dalan Laudato si Bab I bagian yang ke II dikatakan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati disebabkan oleh keserakahan manusia. Hutan adalah salah satu tempat bagi keanekaragaman hayati. Tetapi karena ulah manusia yang serakah membuat hutan menjadi rusak dan keanekaragaman hayati menjadi hilang.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Endraswara,Suwardi, 2016. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta : Cakrawala.

    Harun,Martin (penerjemah) 2015.Eksiklik Laudato Si. Jakarta: Obor.

    _________________, 2015. Agama Jawa. Yogyakarta: Lembu Jawa.

    Purwadi.M,Hum, Dr, 2005. Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Bina Media.


    Lihat Juga

    “Besik Belik” ( Tradisi Jawa, Srengat Kab. Blitar Jawa Timur: tradisi menjaga dan memelihara sumber air)  “Derep” (Tradisi Jawa, Ngadirejo Blitar Jawa Timur : tradisi memanen padi)  “Ngeleb Saben, Nguri-uri kali” (Tradisi Jawa, Ngadirejo Blitar Jawa Timur: wejangan untuk memelihara tanah dan sungai) 

    Oleh :
    Yusep Septiawan ()