Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Umaq Taotn (Dayak Tunjung Kaltim : Ladang Tahun)


Ungkapan Umaq Taotn merupakan suatu ungkapan dari suku Dayak Tonyoy-Rentenuk (Tunjung Linggang) di desa Melapeh, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur mengenai aktivitas perladangan yang mereka laksanakan sebagai bagian dari aktivitas kehidupan mereka (Lahajir 2001: 221). Ungkapan Umaq taotn secara etimologis berarti Ladang tahun. Istilah ini menunjukan suatu siklus perladangan yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Oleh karena itu aktivitas berladang selalu berkaitan dengan alam sebagai lahan perladangan. Siklus pengolahan perladangan ini biasanya di laksanakan pada bulan Mei dan diawali dengan kegiatan menebas.

Menebas adalah suatu kegiatan pembersihan lahan dari rumput dan semak belukar. Kegiatan menebas adalah kegiatan pertama dalam proses pembukaan lahan perladangan. Kegiatan selanjutnya adalah menebang pohon. Biasanya lahan yang dijadikan sebagai lahan perladangan adalah lahan yang masih berbentuk hutan rimba. Maka pohon-pohon besar harus ditebang agar ketika nantinya padi mulai tumbuh, sinar matahari dapat membantu pertumbuhan padi. Setelah kegiatan menebang selesai, lahan perladangan akan dibakar pada bulan Agustus. Tujuanya adalah agar tekstur tanah menjadi lebih subur saat proses menanam padi dimulai. Cara membakar lahanpun memiliki teknik tersendiri yaitu dimulai dari pingir menuju ke tengah. Teknik ini dilakukan agar api tidak menjalar kemana-mana sehinga dapat menimbulkan kebakaran hutan. Selanjutnya pada bulan September, mulailah kegiatan menugal atau menanam padi, dan pada bulan Februari padi sudah siap untuk di panen

Orang Dayak Tonyoy- Rentenuk tidak sembarangan menentukan kapan aktivitas perladangan itu di mulai. Mereka memiliki cara tersendiri untuk menentukan kapan waktu yang baik untuk berladang. Orang Dayak Tonyoy- Rentenuk menentukan waktu untuk aneka ragam aktivitas kehidupan berdasarkan petunjuk bintang-bintang di langit. Atau berdasarkan pertanda-pertanda bintang. Hal ini sudah dilakukan secara turun temurun. Alat-alat yang digunakan untuk membuka lahan perladangan juga sangat sederhana seperti kampak beliung, parang (Mandau),tugalan (alat untuk menanam padi) dan sebagainya. Sesudah panen suku Dayak Tonyoy-Rentenuk melaksanakan pesta panen sebagai rasa syukur atas hasil panen yang mereka dapat dari hasil perladangan.

Kegiatan berladang atau pembuka lahan perladangan merupakan suatu wujud pengungkapan identitas diri orang Dayak Tonyoy Rentenuk. Ladang menjadi simbol melebur dan menyatunya manusia dan alam. Dari alam, orang Dayak Tonyoy- Rentenuk menerima segala hasil bumi yang diberikan alam kepada mereka. Maka tidak heran jika banyak upacara yang dilaksanakan berkaitan dengan penghormatan terhadap alam. Relasi antara manusia dan alam ciptaan mewujud dalam kehidupan orang Tonyoy Rentenuk melalui cara mereka menentukan kapan kegiatan perladangan harus dimulai dengan membaca gejala alam dan bintang di langit. Jika kita telusuri secara mendalam, kegiatan berladang bukan sekedar bagaimana manusia mampu mngolah alam (Lahajir 2001: 225-229).

Kegiatan berladang sesungguhnya ingin berbicara tentang kekayaan adat istiadat dan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kepada mereka secara turun temurun. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai upacara ritual sebelum dan sesudah kegiatan berladang ini dilaksanakan misalnya makaan tanaa yaitu upacara memberi makan tanah atau memohon ijin kepada roh-roh penunggu hutan dengan memberi sesajian. Tujuannya agar kegiatan berladang dapat berjalan dengan baik dan tidak mendapat hambatan. Demikian juga upacara erau yaitu pesta panen sebagai rasa syukur atas hasil ladang. Kedua upacara ini sengaja tidak kami singgung dalam tulisan ini karena pembahasannya terlalu panjang dan sedikit rumit untuk menjelaskannya. Oleh karena itu orang Dayak berupaya untuk mempertahankan ekosistem sebab dari situlah mereka secara turun temurun membangun hidup sejak generasi masa lalu, kini dan masa Depan (Widjono 1998: 26). Persentuhan yang mendalam antara orang dayak dengan hutan atau alam ciptaan melahirkan suatu bentuk sistem perladangan, yaitu sebuah model kearifan tradisional dalam pengelolaan sumber daya hutan yang bersumber pada hukum adat. Hukum adat ini mengatur segala hal yang berkaitan dengan hubungan alam dan manusia yang mengolahnya termasuk berbagai upacara ritual yang mempertontonkan bagaimana masyarakat Dayak memperlakukan alam seperti saudara mereka sendiri. Maka jika orang dayak Tunjung melupakan budaya perladangan atau tidak lagi memandang ladang sebagai sebuah identitas, maka Kedayakannya perlu dipertanyakan.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula yang memberi pendapat negatif tentang sistem perladang orang dayak Tunjung. Kegiatan perladangan dengan menebang pohon dan membakar hutan seperti yang dilakukan orang dayak tunjung secara tidak langsung adalah suatu bentuk pengerusakan atas hutan. Kegiatan perladangan dipandang sebagai kegiatan yang rendah teknologi dan tidak produktif (bdk Widjono 1998: 28). Berangkat dari pendapat ini, orang dayak tunjung secara perlahan-lahan diarahkan untuk meninggalkan sistem perladangan dan beralih ke sistem pertanian yang modern dalam bentuk persawahan dan perkebunan yang berorientasi pada industri. Pergeseran dari masyarakat ladang ke masyarakat industri tak pelak menjadi faktor penyebab melemahnya kelembagaan adat. (bdk Widjono 1998: 27)

Perpindahan dari masyarakat ladang ke masyarakat industri membawa perubahan dalam sistem kehidupan masyarakat Dayak tunjung. Perubahan ini secara perlahan mengubah sifat dan bentuk dari corak hidup masyarakat yang dalam peziarahannya membuahkan krisis ekologis terhadap nilai-nilai yang sudah mereka bangun sebagai warisan kebudayaan leluhur (bdk. Widjono 1998: 30). Namun melalui kesadaran akan identitas sebagai orang Dayak, krisis ekologis tidak membuat masyarakat dayak meninggalkan cara lama dalam mengolah alam yang sudah diwarisi secara turun temurun. Jika kita tinjau dari sudut etika, persoalan perubahan dari masyarakat ladang ke masyarakat industri terletak pada pelaku atau pelaksana kegiatan perladangan itu sendiri. Artinya dalam menanggapi perubahan yang terjadi, orang Dayak tunjung harus berpegang teguh pada apa yang telah mereka hidupi secara turun temurun dan tidak terpengaruh oleh berbagai perubahan. Orang Dayak tunjung-Rentenuk harus mengerti dengan sungguh mengapa mereka harus bertahan dalam sistem perladangan dan bukan sistem pertanian industri. Melalui etika, masyarakat Dayak Tunjung dibantu untuk lebih mampu untuk mempertanggung jawabkan kehidupan mereka (Karnedi 2010: 78)

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Lahajir, Etnoekologi perladangan orang Dayak Tunjung Linggang, Yogyakarta: Galang Press, 2001.

    Widjono AMZ, Roedy Haryo, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: Grasindo, 1998.

    Karnedi, Dieng Antonius, Lingkungan Hidupku Kajian Etika dan Moral dalam A. Widyahadi

    Seputra dkk (edt.), Kajian Lingkungan Hidup, Tinjauan Dari Perspektif Pastoral Sosial, Jakarta: Sekretariat Komisi PSE/APP-KAJ, 2010.


    Lihat Juga

    Upacara Telun Lekuu (Dayak Bahau Kaltim: Upacara Ikat Gelang)  Nyahuq ( Dayak Benuaq Kaltim :Roh yang memberi kabar baik dan buruk) 

    Oleh :
    Ronalius Bilung ()