Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Adat pati ( Dayak Kebahan, Kalbar: Hukum adat ganti rugi bagi yang mati dibunuh )


Di suatu wilayah di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Melawi, Kecamatan Sayan, Desa Nanga Pak, Dusun Runting, terdapat sebuah kebiasaan yang menandakan suatu peristiwa rekonsiliatif hidup bersama. Kebiasaan itu ialah acara adat pati atau Hukum adat ganti rugi bagi yang mati dibunuh. Acara adat pati ini sudah ada sejak kampung dibangun dan diberlakukan untuk siapa saja. Namun acara ini akan diadakan, apabila ada kasus atau persoalan khusus yang terjadi, seperti kasus pembunuhan. Baik kasus pembunuhan dalam keluarga maupun kasus pembunuhan orang lain di luar kampung.

Dalam pelaksanaan acara adat pati ini biasanya, yang bertanggungjawab sepenuhnya ialah temenggung atau kepala adat dan juga kepala dusun. Namun kepala dusun tidak berhak sepenuhnya dalam kasus semacam ini, maka peran kepala adat menjadi sangat penting. Bagi orang setempat (dayak Kebahan), dalam kasus khusus seperti membunuh, tidak bisa diselesaikan dengan hukum yang ada (Negara), melainkan ada hukum khusus yaitu hukum adat pati (hukum adat ganti rugi bagi yang dibunuh).

Dalam hukum adat ganti rugi ini, terlebih dahulu harus ada kesepakatan yang pasti dari kedua belah pihak baik dari pihak keluarga yang dibunuh dan pihak keluarga yang membunuh. Apabila kedua pihak setuju atau sepakat maka hukum adat akan bisa dilakukuan. Akan tetapi apabila salah satu pihak yang bersangkutan tidak setuju akan diadakan acara adat pati ini, maka biasanya yang terjadi aksi saling membunuh atau darah ganti darah, perang saudara. Maka hal yang paling penting adalah kesepakatan untuk menghindari perang saudara atau bahasa daerahnya bebunuh. Kemudian yang paling penting juga yang harus disiapkan dalam pelaksanaan acara adat pati ini adalah, bagi pihak keluarga yang membunuh harus siap sedia dalam tuntutan apapun, semisalkan diminta bayar pati dengan uang dalam jumlah yang banyak atau bayar pati dengan seratus ekor babi atau bayar pati yang lain-lainnya. Tidak ada sikap membantah akan apa yang disampaikan oleh temenggung atas tuntutan yang sudah diberikan.

Demikian juga untuk pihak yang keluarganya dibunuh, tidah boleh menuntut semaunya sendiri, dalam artian minta ganti rugi dengan jumlah yang tidak bisa dinilai. Misalkan harus memberikan apa yng dimiliki oleh keluarga yang membunuh. Hal itu tidak dibenarkan dan dalam hukum adat pati tidak dibolehkan. Dalam acara adat pati, setelah aturan dan syarat-syarat dibacakan oleh temenggung atau kepala dusun, akan ada upacara pembukaan yaitu upacara nyemeluk (upacara hitung adat pati). Dalam upacara hitung adat pati ini, akan dibacakan apa saja yang menjadi alasan utama mengapa dikenakan biaya atau hukum adat dengan membayar ganti rugi.

Dilihat dari kasus atau persoalan utama mengapa sampai ada kasus membunuh. Apabila kasusnya dianggap karena kesalahan dari yang dibunuh, maka akan ada kemungkinan biaya bayar pati sedikit saja. Tetapi apabila kasus membunuh memang kesalahan besar atau sifatnya fatal dari si pelaku yang membunuh maka akan dikenakan sanksi atau bayar adat pati dalam hitungan jumlah yang sangat besar. Tetapi sebelum hitung adat pati dimulai, sebelumnya temenggung dan kepala dusun biasanya sudah terlebih dahulu menanyai soal kasus yang terjadi kepada kedua belak pihak yang bersangkutan, sebelum semua yang terjadi dibacakan di depan orang banyak yang mengikuti acara adat pati.

Biasanya pada saat pembacaan hukum adat pati, pelaku atau pihak yang membunuh menyiapkan alat-alat atau barang ganti rugi secukupnya saja, yang masih bisa dibawa. Semisalkan ayam satu ekor, besi atau parang satu bilah, beras satu kulak ( satu kilo), kain batik atau songket, piring dan mangkok, tempayan, dan juga sedikit uang (uang tergantung dari kesanggupan sementara dari pihak yang membunuh). Setelah barang-barang alat pati diserahkan, temenggung biasanya juga menghitung ulang apa yang diserahkan oleh pihak yang membunuh dihadapan banyak orang, sekaligus memberutahukan bahwa inilah bentuk tanggungjawab dari pihak yang membunuh.

Kemudian apabila dari pihak yang dibunuh tidak merasa puas, maka akan ada acara tambahan yaitu dengan meminta pendapat orang banyak, apakah harus ditambah atau sudah cukup atas barang-barang yang diserahkan oleh pihak si pembunuh atau pelaku. Dengan adanya acara adat pati ini, diharapkan juga kasus ini bisa ditutup dan tidak ada kasus baru, semisalkan menuntut ulang atau memusuhi keluarga yang bersangkutan.

Dalam acara adat pati ini juga temenggung bertanggungjawab sepenuhnya untuk bisa membuat kedua belah pihak untuk saling memaafkan, agar kasus ini tidak berkelanjutan. Dan apabila masih saja terjadi kasus berikutnya, maka temenggung akan mengambil sikap lain, yaitu kedua belak pihak akan diserahlkan kepada yang berwenang yaitu polisi (hukum Negara). Tetapi hal itu jarang terjadi, apabila sudah diadakan acara adat pati, biasanya kasus ini berakhir dan tidak ada persoalan lagi, walaupun pada kenyataannya ini adalah kasus berat dan tidak mudah untuk diselesaikan.Tetapi dengan adanya acara adat pati atau hukum ganti rugi, persoalan dapat diselesaikan.

Dalam acara hukum adat pati, ada nilai-nilai penting yang mau dimunculkan. Berkaitan dengan nilai tanggung jawab terhadap hidup orang lain (bdk. Idon 2008: 23). Memang dalam kasus kali ini berbeda dengan kasus lainnya. Kasus membunuh dengan menghilangkan hak hidup atas hidup orang lain. Menurut Levinas, sejak semula begitu kita bertemu dengan orang lain, kita bertanggung jawab atasnya. Bertanggung jawab atas keselamatan, bertanggung jawab dalam kesadaran intuitif bahwa orang lain itu mudah terluka ((Franz Magnis, 2000: 101).

Tanggung jawab inilah yang mau ditegaskan. Apakah dalam kasus adat pati itu juga bagian dari cara bertanggung jawab. Hal ini nampak jelas bahwa acara adat pati yang di lakukan oleh dayak Kebahan, sebetulnya mempunyai arti dan makna tertinggi dalam hal norma atau aturan dalam keselamatan atas hak hidup orang lain. Cara ini dilakukan, guna menyelesaikan persoalan, walaupun tidak setimpal dengan kasus yang terjadi.

Tetapi apa yang dilakukan sudah benar, dengan berani bertanggung jawab atas hidup orang lain, sudah menjadi bagian dari menghargai hak hidup orang lain. Tidak ada sesuatu yang baru yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan itu, berkaitan dengan nyawa orang lain. Maka bagi saya juga menjadi sangat penting acara adat pati tetap dilestarikan, guna membuka pola pikir orang banyak untuk semakin menyadari bahwa, teryata masih ada acara semacam itu untuk mempertanggungjawabkan hak hidup orang lain. Acara hukum adat pati menjadi gambaran untuk anak muda masa kini, agar semakin menyadari bahwa betapa pentingnya bertanggung jawab atas hidup orang lain. Dengan kata lain, kita diharapkan tidak semena-mena untuk melakukan suatu tindakkan yang dapat merugikan orang lain, apalagi dengan mengambil hak hidup atas hidup orang lain.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Bernabas, Idon, 2008. Kalimantan Review: Upacara bayar adat kematian, 146/XVI, Pontianak: Institut Dayakologi.

    Magnis, Franz Suseno, 2000. 12 Tokoh Etika Abad ke-20, Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Nyaho ( Dayak Kayaan, Kalbar: Upacara adat ngayo )  Beumpank ( Dayak Kebahan, Kalbar: Upacara ucapan syukur musim buah )  Tiwah ( Dayak Tamuan, Kalteng: Ritual menahan mayat ) 

    Oleh :
    Yohanes Kasra ()