Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Nglarung (Jawa, Yogyakarta: ritual memohon berkah dari Laut Selatan bagi kedamaian Yogyakarta)


Nglarung merupakan upacara tradisional dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Nglarung dalam Kamus Basa Jawa berarti nglabuh ana ing banyu (Jawa: menghanyutkan sesuatu di air, Balai Bahasa Yogyakarta. 2005: 452). Nglarung sering disebut juga sebagailabuhan (Jawa: hal memohon berkat pada yang kuasa). Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (2004: 37) menuliskan bahwa labuhan berasal dari kata labuh, yang berarti memberikan persembahan di laut, sungai, maupun kawah gunungbagi kekuatan supernatural. Dalam pengertian ini, nglarung adalah labuhan yang dilakukan di laut ataupun sungai, karena ia hanya dapat dilakukan di air. Kamus Basa Jawa memiliki pengertian yang berbeda. Labuh berarti tiba, mangsa ngarepake rendheng, lan gawe kabecikan sarana melu nandhang lara lapa(Jawa: jatuh, masa menantikan hujan, dan berbuat baik dengan ikut menderita, lih. Balai Bahasa Yogyakarta. 2005: 441). Dengan demikian, pengertian labuh dalam Kamus Basa Jawa tidak sesuai. Namun, kata dilabuh dalam kamus tersebut tampak memiliki pengertian yang lebih tepat. Dilabuh berarti dicemplungake ing segara, kawah, lsp kanggo sesaji (Jawa: dihanyutkan di laut, kawah, dsb untuk persembahan). Jadi, nglarung adalah upacara menghanyutkan sesaji di laut. Upacara ini dalam berbagai buku disebut labuhan. Akan tetapi dalam pengalaman saya sebagai orang abangan, kata nglarung lebih tepat karena sesajen (Jawa: persembahan) sungguh-sungguh dihanyutkan di laut. Kata labuhan agak kurang tepat, karena labuhan dapat dilakukan di laut, sungai, maupun kawah gunung.

Di Parangkusuma, Bantul, Yogyakarta nglarung biasa diadakan setahun sekali, yaitu pada hari ulang tahun penobatan Sri Sultan (Jawa: raja).Triyoga (bdk. 2010: 120) menuliskan bahwa labuhan diadakan secara rutin setiap tahun sekali pada tanggal penobatan Sri SultanHamengkubuwana IX tanggal 25 Bakdamulud (Jawa: salah satu nama bulan dalam kalender Jawa). Dalam upacara tersebut, sesajen dibungkus dengan daun pisang dan ditempatkan dalam anyaman bambu. Barang-barang yang menjadi sesajen antara lain adalah pakaian putri Jawa, kemenyan, dan minyak wangi. Yang bertugas dalam upacara ini adalah Abdi Dalem Jajar (Jawa: utusan raja yang bertugas di daerah Jajar) beserta dengan Abdi Dalem Magangan (Jawa: utusan raja yang bertugas di daerah Magangan). Pada tahun yang ke delapan (atau sewindu sekali) upacara ini berlangsung lebih meriah (bdk. Proyek Penelitian. 1981: 133). Selain memperingati ulang tahun penobatan Sri Sultan, nglarung juga diadakan untuk menyambut tahun baru Jawa, yaitu tanggal satu Sura (Jawa: bulan pertama dalam kalender Jawa). Nglarung atau labuhan tanggal satu Sura ini disebut Suran. Suran diadakan di Parangtritis, Parangkusuma, Pandansimo, Samas, dan Baron. Suran diadakan pada puncak tengah malam dengan pesta cahaya dan tari Gambyong. Pada pukul 00.00 WIB, diadakan nglarung (bdk. Perhimpunan. 2004: 37). Sesajen dilarung (Jawa: persembahan dihanyutkan) ke tengah laut.

Pemilihan pantai selatan Jawa, terlebih Parangkusuma, Bantul, Yogyakarta sebagai tempat melangsungkan nglarung bukan hal yang disengaja. Nama Parangkusuma berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu parang (Jawa: batu) dan kusuma (Jawa: bunga). Parang menunjuk pada batu-batu karang, dan kusuma mengacu pada bunga-bunga persembahan yang biasa dipakai untuk semedi atau laku tirakat (Jawa: hal mengolah kebatinan orang Jawa). Maka dari itu, Parangkusuma berarti batu karang tempat para bangsawan mengolah kebatinannya untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tempat ini disebut tempat para bangsawan karena Panembahan Senopatilah (Jawa: raja pertama kerajaan Mataram) orang pertama yang menggunakannya sebagai tempat semedi. Ketika itu, Panembahan Senopati perlu menenangkan diri dan mengolah kebatinannya agar dapat memimpin dengan baik. Dalam semedinya, Beliau bertemu dengan Nyai Roro Kidul (Jawa: Ratu pantai selatan, salah satu dewi atau makhluk supranatural yang sangat dihormati orang Jawa, bdk. Proyek Penelitian. 1981: 132-133). Dari pertemuan inilah Nyai Roro Kidul mulai dihormati dan menjadi pelindung kerajaan-kerajaan Jawa, terutama yang berasal-usul dari kerajaan Mataram. Selanjutnya, nglarung dilakukan untuk menghormati Nyai Roro Kidul, bersyukur atas terjaganya kedamaian di seluruh kerajaan, dan memohon tetap terjaganya kedamaian Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Jawa: nama resmi pemerintahan D.I. Yogyakarta).

Nglarung dalam kaitannya dengan Filsafat Etika, memiliki dua nilai. Pertama, ia bernilai sebagai etika lingkungan hidup. Nglarung adalah upacara penuh doa syukur atas alam yang menjaga kedamaian hidup manusia Jawa, khususnya Yogyakarta. Hal ini tampak dalam diri Nyai Roro Kidul yang dihormati sebagai penjaga para nelayan, kecukupan air bersih, dan menghindarkan Yogyakarta dari bencana alam. Kedua, ia bernilai sebagai etika komunitarian. Dalam nglarung ada relasi kebersamaan antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah diwakili oleh para Abdi Dalem yang bertugas. Rakyat adalah orang-orang yang ikut ambil bagian dalam upacara dengan menonton ataupun turut berdoa.

Riyanto (2017: 29) mengatakan bahwa alam adalah dinamika kesempurnaan hidup manusia itu sendiri. Ritme alam menjadi ritme hidup manusia. Manusia bergantung pada alam untuk hidup sehari-hari. Melalui pengetahuannya akan musim, arus laut, dan perbintangan manusia dapat mengatur kehidupannya dengan lebih baik. Alam seolah menjadi penentu kehidupan manusia. Manusia pun menaruh hormat yang tinggi kepadanya melalui upacara-upacara, khususnya nglarung. Alam membawa manusia pada kedalaman rasa dan meditasi (bdk. Riyanto. 2017: 37). Nglarung adalah salah satu wujud meditasi itu.

Nglarung dengan nilai etika lingkungan hidup mengangkat tema kedamaian. Kedamaian itu juga bukan sekadar tidak adanya bencana alam. Kedamaian itu juga relasi antar sesama manusia, antara pemerintah dan rakyat. Riyanto (2017: 90) menyatakan bahwa damai itu berkaitan dengan hidupku pribadi yang tidak terpisah dari tata hidup bersama sesamaku. Damai dalam diriku menjadi mungkin ketika relasiku dengan sesama pun damai. Kedamaian bersama pun memiliki fondasi langsung dalam pengalaman damai pribadiku.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Balai Bahasa Yogyakarta, 2005. Kamus Basa Jawa, cetakan kelima, Yogyakarta: Kanisius.

    Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, 2004. Jogja Self Guide, Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.

    Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1976/1977, 1981. Adat Istiadat Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Riyanto, Armada CM, 2017. Menjadi-Mencintai Berfilsafat-Teologis Sehari-hari, cetakan kelima, Yogyakarta: Kanisius.

    Triyoga, Lucas Sasongko, 2010. Merapi dan Orang Jawa Persepsi dan Kepercayaannya, Jakarta: Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia.


    Lihat Juga

    Urip Iku Kudu Sing Sembada (Jawa, Yogyakarta: hal menasihati anak-anak agar hidup dengan sepantasnya) 

    Oleh :
    Alvarian Utomo ()