Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

WENGI TELU KA API TE’U GHALE LOWO (Tiga Hari Lagi Akan Diadakan Upacara Api Te’u di Kali)


Di suatu wilayah di daerah perbatasan antara Kabupaten Ende dengan Kabupaten Sikka, tepatnya di kampung Ranggase, desa Nggela, kecamatan Lio-wolowaru, kabupaten Ende. Di kampung Ranggase, terdapat sebuah ritual yang menandakan suatu peristiwa pertobatan dalam hidup bersama.Ritual ini terjadi biasanya pada bulan-bulan tertentu misalnya, pada pertengahan bulan Agustus. Di wilayah ini sangat terkenal dengan acara atau ritus yang dinamakan Wengi Telu Ka Api Te’u Ghale Lowo (Tiga Hari Lagi Akan Diadakan Upacara Api Te’u di Kali). (Arndt, 2002: 185).

Acara atau ritus Wengi Telu Ka Api Te’u Ghale Lowo (Tiga Hari Lagi Akan Diadakan Upacara Api Te’u di Kali) merupakan salah satu ritual Joka Ju (mengusir atau menolak hama pada tanaman). Hal ini dilakukan jika terjadi bala hama mengancam tanaman are, (padi/beras), jawa(jagung), uwi kaju (ubi kayu),muku (pisang), ndora (ubi tatas), rose (ubi talas), dan lain sebagainya, yang dimiliki oleh masyarakat. Upacara ini dilakukan oleh mosalaki pu’u / ata laki pu’u(tua adat) atas masukan dari masyarakat setempat, demi menghasilkan hasil yang baik bagi kehidupan masyarakat.Ritual ini dilaksanakan pada saat musim menanam telah tiba, dimana para mosalaki pu’u / ata laki pu’u(tua-tua adat) dari kampung Ranggase dan kampung-kampung sekitar mengumumkan kepada seluruh masyarakat bahwa akan diadakan acara atau ritualjoka ju(tolak Bala dan Hama pada tanaman). Sesuai dengan nama ritualnya, hal ini semata-mata dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat kampung Ranggase dan kampung-kampung yang berdekatan.(Mbete, 2004:98).

Tokoh utama dalam penyelenggaraan ritual ini adalah pertama-tama mosalaki pu’u /ata laki pu’u(ketua adat, mosalaki ria bewa (wakil ketua adat) dari kampung Ranggase dan kampung-kampung tetangga dan seluruh masarakat ke tiga kampung tersebut. Masyarakat pun dibagi dalam beberapa kelompok yakni ana lo’o (anak-anak), nuwa muri ko’o fai(pemuda dan pemudi), ata du’a ria dan fai ngga’e (bapak dan ibu), mamo, kajo (kakek dan nenek), serta ana kalo fai walu (anak yatim dan para janda). (Arndt, 2002: 186).

Apabila waktu menanam benih akan tiba, mosalaki pu’u / ata laki pu’u(ketua adat utama) dari kampung Ranggase mengumumkan hari pesta Joka Ju (Tolak Bala dan Hama) kepada masyarakat. Hal ini bertanda bahwa akan diadakan acara atau ritual tersebut. Waktu menanam tiba biasanya terjadi pada hari sesudah bulan sabit pertama.).

Sesudah bulan sabit pertama para mosalaki pu’u / ata laki pu’u(Tua Adat) berkumpul di rumah pemuka kampung untuk merencanakan dan menentukan waktu yang tepat dan juga untuk mempersiapkan semua perlengkapan yang diperlukan untuk acara atau ritual pesta.Sesudah itu, mereka memaklumkan atau mengumumkan tanggal pesta kepada semua orang dari kampung-kampung tetangga atau orang yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan mereka. Orang yang memberi pengunguman itu pergi ke hanga (salah satu ruangan depan pada rumah adat) sambil berdiri ia berseru:

Ebe mena! (wahai, kamu yang ada di sebelah timur!), Ebe ghale! (wahai kamu yang ada di sebelah barat!), Ebe lau! (wahai kamu yang ada di sebelah selatan), Ebe ghele! (wahai kamu yang ada di sebelah utara), So lelesai leisawe!, (dengarlah semua!), Wengi telu ka api te’u ghale lowo! Tiga hari lagi kita akan mengadakan upacara api te’u di kali!) (Arndt, 2002: 186).

Sebelum acara ritual atau pesta dimulai, Keli (pemimpin pesta) akan mengirim nuwa muri imu rua (dua orang pemuda) ke kampung-kampung sekitar dengan membawa sebuah rembi mere (bakul besar) dan ke’a niolo’o(sebuah tempurung kelapa kecil) untuk mengumpulkan are bara (beras putih). Pengumpulan beras ini disesuaikan dengan jenis binatang yang ada di rumah itu. Misalnya jika di rumah itu ada yang memelihara wawi (binatang babi), maka ia harus menyumbangkan se rembi are bara (satu rantang beras putih), kalau di rumah tersebut memelihara manu (binatang ayam) maka ia harus menyumbangkan se rembi are bara mogha (satu rantang beras putih juga), dan se rembi are bara tau ata ghale one lepa (serta satu rantang untuk penghuni rumah), jadi semuanya berjumlah rembi telu are bara (3 rantang beras putih). Selain itu, meminta juga sumbangan telo manu nua (telur ayam kampung) dan somu sunga (bawang merah dan bawang putih).Apabila selesai dikumpulkan maka mereka membawa ke hanga (tanah datar di pelataran rumah adat) dan meletakan di atas pekuburan.Atalaki/mosalaki Keli (ketua adat atau pemimpin pesta) dan Bawi memperoleh se kidhe are bara(senyiru beras putih) dan seeko manu nua (seekor ayam kampung). Keduanya berjalan keliling mengumpulkan beras tadi kemudian membuat sebuah kotak dari pelepah pinang untuk dhe are bara (merendam beras putih) agar menjadi lembek. Ke dalam rendaman itu ditaruh juga wunu telu pu’u kaju seko dan jita (tiga potong kulit pohon seko dan jita agar nantinya nasi terasa ba’i (agak pahit).Kemudian beras itu dibawa ke kali(ke sungai). Di sana mereka memotong dua ruas bheto dan peri (sejenis bambu) yang akan digunakan sebagai alat masak. Beras itu diisi ke dalam ruas-ruas bambu dengan ae selo’o (air sedikit) lalu meletakan di samping watu ria(sebuah batu besar) dan memasang api ria(api yang besar. Setelah itu mereka membelah sedikit dan mengambil se kepo are bara(segenggam nasi putih)dan manu nua(ayam kampung) sebagai kurban untuk mereka makan. Kemudian mereka kembali ke kali (ke sungai) untuk membawakan persembahan berupa segenggam nasi tadi dan ate manu nua ( hati ayam kampung), dan bele manu nua (sayap ayam kampung) diletakan dalam sebuah kowa lo’o (perahu kecil) yang mereka taruh gheta wawo ae (di atas air). Kedua ruas bambu itu dengan are sisa io latu ghale one bheto (sisa nasi yang ada di dalamnya) bersama dengan uta ae (sayur-sayuran)teo gheta wawo pu’u kaju belimbing(digantungkan di atas pohon belimbing). Kemudian setelah itu be bhale deghea nua ebe mesa-mesa (mereka semua kembali ke kampung mereka masing-masing).

Dalam upacara ini pun dikenal dengan istilah joka Ju (membuang sial), dimana ritual ini sebagai upacaraa syukur yang lazim dilakukan terhadap Du’a Ngga’e (Tuhan Allah). Upacara ini merupakan pesta rakyat yang dilakukan pada Bulan sabit pertama atau pada bulan Juli yakni pada waktu liburan sekolah yang dalam bahasa Lio disebut Wula Base Gega( bulan Juli). (Oringbao, 1974: 26).

Dalam acara tersebut semua orang diusahakan untuk mengenakan pakaian yang baik dan sopan dengan tujuan supaya acara atau ritual dapat berjalan dengan baik dan khidmat serta khusuk suasana hati dan batin hal ini berlaku untuk masyarakat, sedangkan untuk mosalaki pu’u / ata laki pu’u (ketua adat) wajib mengenakan pakaian adat seperti ragi ( sarung), lesu (kain kecil untuk kepala), dan semba (kain yang dipakai menyamping), lambu bara lima bewa (baju putih lengan panjang).

Makna yang tersirat dari acara atau ritual ini adalah bahwa mau dikatakan kepada seluruh masyarakat Lio-Ende bahwa supaya masyarakat di jauhkan dari segala macam masalah mengenai tanaman lokal yang terkena musibah akibat hama tanaman yang berlangsung setelah tanaman itu di tanam. Dengan adanya kegiatan acara atau ritual seperti ini diharapkan agar walaupun terjadi hama terhadap tanaman lokal tapi tidak separah amat sehingga masyarakat dapat menuai hasil dari yang mereka tanam selama ini sehingga dapat menghidupi keluarga mereka masing-masing. Masyarakat diharapkan supaya hasil panen pertama harus dikumpulkan untuk dilakukan acara syukuran bersama di rumah adat dengan diadakan misa syukuran yang dihadiri seluruh masyarakat baik dari anak-anak, muda-mudi, orang tua, kakek-nenek dan anak yatim piatu serta para janda.Pada umumnya anak yatim piatu dan para janda diperhatikan oleh para mosalaki pu’u / ata laki pu’u (para ketua adat), sebab itu merupakan salah satu kewajiban dari mereka

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Arndt, Paul. Wujud Tertinggi dan Upacara Keagamaan di Wilayah Lio (Flores Tengah), (judul asli: Dua’ Nggae, Das Hochste Wesn Im Lio-Gebiet (Mittel-Flores), diterjemahkan oleh Yosef Smeets, SVD, dan Kletus Pake. Maumere: Puslit Candraditya, 2002.

    Mbete, Aron Meko, dkk.,Khazanah Budaya Lio-Ende. Ende: Pustaka Larasan dan Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Ende, 2004.

    Oringbao, sareng,Peranan Religi dan Magi Dalam Pertanian Tradisional Suku Bangsa Lio. Ende: Nusa Indah, 1974.


    Lihat Juga

    LOKA PO’O BHORO (Hutan Larangan Adat Untuk Masak Nasi Bambu) 

    Oleh :
    Agustinus Ga’a Della (-)