Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

IRANIA (PERSAUDARAAN) (Suatu Kisah Hidup Persaudaraan Orang Maybrat)


Irania (persaudaraan) merupakan sebuah kisah yang dihidupi orang Maybrat-Papua. Mereka menjadi bagian dari 251 suku bangsa atau etnis yang mendiami tanah Papua. Mereka mendiami wilayah Pedalaman Kepala Burung-Papua. Suku ini terletak di antara Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari. Jika melihat peta Papua suku Maybrat letaknya persis bola mata peta Papua. Mayoritas penduduk setempat hidup dalam kehomogenan dan menganut kepercayaan Kristiani yaitu Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Mata pencaharian mereka adalah petani ladang. Kisah ini dapat menggambarkan realitas kehidupan persaudaraan yang dihayati dan dapat dilakukan di setiap kehidupan orang Maybrat di wilayahnya. Persaudaraan hidup orang Maybrat pertama-tama adalah menjaga keberlanjutkan hidup identitas mereka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada jaman dahulu menjadi kisah kehidupan turun temurun yang dapat dihidupi dari generasi ke generasi berikutnya. Kisah kehidupan ini meninggalkan bukti yang menjadi sejarah hidup suku tersebut, salah satunya adalah pembayaran maskawin. Kisah ini sekarang menjadi bagian hidup orang Maybrat untuk menyatakan hubungan irania (persaudaraan) mereka hingga sekarang. Irania (persaudaraan) yang dapat dilihat ialah dengan pembayaran maskawin.

Kehidupan manusia dalam menjalin ikatan pernikahan mempunyai berbagai tradisi yang diturunkan secara turun temurun dari para leluhur, mulai dari maskawin sampai tata cara perkawinan. Hal ini terjadi pula pada orang Maybrat yang mempunyai tradisi dalam melakukan pembayaran maskawin. Maskawin merupakan ikatan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan dan sekaligus sebagai tanda bahwa mereka menjadi suami-istri yang sah. Disini menunjukkan “bukti kesiapan laki-laki untuk bertanggungjawab dan melangsungkan perkawinan itu. Dalam pembayaran maskawin bukan saja orang tua laki-laki yang berperan tapi juga sanak keluarga dari orang tua dan juga relasi atau pihak- pihak yang pernah dibantu orang tua dari calon pengantin pria” (Yabsenang, 2015:43).

Sebelum terjadi ikatan perkawinan, keluarga dari pihak laki-laki mengutus perantara untuk dapat bertemu dengan pihak perempuan berdiskusi tentang kapan pembayaran maskawin berlangsung, jenis-jenis benda apa saja yang dibayar dan jumlah benda yang dibayar. Setelah pertemuan yang mencapai suatu kesepakatan maka proses pembayaran maskawin pun berlangsung. Bisanya mereka dapat memilih waktu pada awal bulan kapan saja, sebab yang terpenting bagi mereka awal bulan selalu dianggap hari yang baik untuk memulai sesuatu di hari berikutnya. Setelah itu, mereka juga memilih tiga jenis benda yang digunakan untuk pembayaran maskawin yaitu pertama, poo (kain timur). Poo (kain timur) adalah benda yang digunakan masyarakat adat orang Maybrat yang diwariskan sejak dahulu kala hingga kini. Disini poo (kain timur) memiliki beberapa jenis yaitu: wan (pusaka). Wan merupakan kain timur yang dimiliki setiap marga yang ada dalam suku Maybrat. Wan diyakini sebagai pusaka karena diberikan oleh Yefun (Tuhan) melalui ripau (tempat-tempat sakral) dengan muncul tiba-tiba dan hilang lagi. Ketika muncul akan memakan korban nyawa bagi salah satu orang marga yang menerima kain pusaka tersebut, misalnya marga Taa atau Turot yang menerima maka salah satu dari mereka menjadi korban. Disinilah pusaka diidentikan dengan membayar nyawa manusia dan menjadi kekayaan suatu marga, sedangkan jenis kain timur yang lainnya merupakan turunan yang bisa di tenun oleh orang Maybrat sendiri, pokek (kain kelas dua), topa, (kain kelas tiga) karok (kain kelas empat) haven (kain kelas lima), porom (kain kelas enam), posrinta (kain kelas tujuh), kain blok (kelas delapan) kain sarung (kelas sembilan) kain-kain ini bisa digunakan untuk pembayaran maskawin kecuali Wan tidak digunakan sebagai maskawin, ia dimiliki tiap-tiap marga sebagai suatu kekayaan marga, digunakan untuk membayar nyawa manusia. Kedua, Matiaf (burung Cendrawasih). Burung cendrawasih dikenal juga dengan burung surga karena keindahan bulunya, sehingga ia dijadikan simbol keindahan, sehingga orang Aifat berharap perkawinan itu juga indah sehingga harus dipertahankan sampai mati. Ketiga, Weh (manik-manik). Manik-manik digunakan oleh keluarga-keluarga perempuan sebagai perhiasan adat pada waktu pesta-pesta adat. Weh (manik-manik) memberi simbol kecantikan dan keperkasaan ketika digunakan oleh pria maupun wanita di dahi dan badan. Setelah ketiga benda di atas dapat disepakati maka selanjutnya menentukan jumlah seperti jumlah pada umumnya 40 lembar poo (kain timur), 4 matiaf (burung cenderawasih), 4 weh (manik-manik). Setelah kesepakatan diambil maka proses pembayaran pun berlangsung dengan membuka tikar yang dibuat dari daun pandan dan daun kelapa di depan halaman rumah pihak laki-laki lalu ada yamu (paman) dari pengantin laki-laki yang mewakili keluarga. Upacara diawali oleh yamu yang menyampaikan: “Sekarang kami buka pembayaran maskawin dan mari lihat”, setelah itu yamu dan keluarga pihak laki-laki meletakan poo (kain timur), matiaf (burung cendrawasih) dan weh (manik-manik) sesuai jumlah yang telah ditentukan. Dengan membuka dan meletakan benda di depan umum ini semua saudara dan siapa saja yang datang meletakan poo (kain timur), matiaf (burung cendrawasih) dan weh (manik-manik) di atas tikar atau daun kelapa yang telah disediakan. Setelah terkumpul yamu (paman) dari pihak laki-laki dan mamu (paman) dari pihak perempuan dapat menghitung apakah jumlahnya sudah sesuai dengan kesepakatan atau belum, jika sesuai langsung diterima jika belum mereka menunggu untuk ditambah lagi sampai sesuai ketentuan lalu diterima. Maskawin yang dibayar merupakan lambang ikatan perkawinan, artinya dengan menerimanya maka pria itu menjadi suami saya dan wanita itu menjadi istri saya secara sah dihadapan publik. Maskawin ini bukan hanya diambil oleh ayah dan ibunya, melainkan om, tanta dan ipar. Hal ini dilakukan sebagai tanda atau hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang tak terpisahkan atau diputuskan.

Dengan membayar maskawain menunjukkan “titik pusat dari segala aktivitas kehidupan orang Maybrat. Maskawin memberi jaminan kehidupan dalam keluarga dan sesama yang lainnya. Masing-masing keluarga baik pihak pria maupun wanita dapat menjaga perkawinan yang telah dibangun dengan pembayaran maskawin tersebut berjalan hingga akhir hidup. Pembayaran maskawin memberi penegasan akan sistem persaudaraan yang terus dibangun dengan menjaga proses peredaran kain timur dan hubungan kekeluargaan. Pembayaran maskawin menimbulkan dua hal yaitu di satu pihak mendatangkan keuntungan materi bagi pihak penerima dan di pihak yang lain menyebabkan naiknya prestise pemberi” (Wasuway, 2012:40).

Kisah pembayaran maskawin memberi makna arti irania (persaudaraan) dalam kehidupan orang Maybrat. Pembayaran maskawin yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ada nilai yang harus dijaga orang Maybrat yaitu keharmonisan, keakraban, kekeluargaan dalam kehidupan mereka untuk terus terjalin, tetap terpelihara dan terus berlanjut. Pembayaran maskawin adalah momentum irania itu dapat dinyatakan dengan memberi yang diartikan sebagai dia adalah saudaraku. “Irania sebagai ungkapan persaudaraan yang menjadi tumpuan dalam kehidupan orang Maybrat. Ini berarti orang Maybrat mempunyai konsep bahwa hidupnya tidak seorang diri melainkan masih ada sesama yang lain. Kata Irania sering digunakan dengan sebutan kita bersaudara” (Boelaars,1986:15).

Dengan demikian, “dalam keseharian hidup orang Maybrat baik berjumpa, bercerita pengalaman hidup, berbagi rasa kegembiraan hidup kepada sesama yang lain, memberi dan menerima merupakan bagian dari representatif persaudaraan yang dihayati. Irania dipandang sebagai sebuah nilai yang sakral yang patut dihargai dan dapat dilakukan dalam keseharian hidup orang Maybrat” (Heriyanto, 2003:36). Disini menunjukkan bahwa nilai keberadaannya sendiri dan sesama menjadi amat sentral dalam kehidupan mereka.

Disini irania dimengerti sebagai hidup bukanlah seorang diri melainkan menjadi bagian yang penting bagi kehidupan orang Maybrat karena bersumber dari Yang Ilahi. Orang Maybrat menyebutnya Yefun (Allah) sebagai tokoh yang mengikat persaudaraan ini. Ini berarti irania merupakan instrumen utama dalam menunjukkan sikap saling membangun persaudaraan dengan sesama. Irania dipandang sebagai sebuah nilai yang sakral yang patut dihargai dan dapat dilakukan dalam keseharian hidup orang Maybrat. Ketika persaudaraan telah terbangun akan memberi rasa gembira kepada diri sendiri dan sesama. Kegembiraan ini dapat berdampak pada kenyamanan dan sukacita yang dirasakan dalam kehidupan orang Maybrat. Ini berarti hubungan irania pun tetap dilakukan setiap orang Maybrat kini dan disini. Irania merujuk pada sutau relasi yang bangun dengan sesama adalah relasi menyangkut seluruh aspek kehidupan yang ada, karena seseorang tidak bisa hidup sendirian tanpa orang lain. Orang Maybrat memaknai relasi dengan sesama merupakan anugerah sangat besar, sehingga mereka selalu mengungkapkan bahwa irania kaket frok tuoh pahai mati e (relasi dengan sesama adalah baik dan mengikat tidak terputus oleh apapun, hanya maut yang memutuskan relasi itu).

  • Bibliografi

  • Bibliografi

    Boelaars, Jan. 1986. "Manusia Irian - Dahulu, Sekarang, Masa Depan". Jakarta: Gramedia.

    Heriyanto, Albertus. 2003. Kepercayaan Asli Orang Maybrat. Jurnal Antropologi Papua, vol 2. No. 4.

    Wasuway, Hendrina. 2012. Perempuan Maybrat dan Dominasi Patriarki, dari Perspektif Feminis. Tesis S2: Universitas Indonesia.

    Yabsenang, Yudha. 2015. Tradisi Perkawinan Masyarakat Karon Kabupaten Tambraw Papua Barat. Diterbit oleh: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Tambraw


    Oleh :
    Imanuel Tenau (tenauimanuel@yahoo.co.id)