Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

TUAK PEKEJANG (Dayak Lebang Nado, Kalimantan Barat)


Menyambut atau menerima tamu yang datang berkunjung sangatlah penting bagi masyarakat Dayak Lebang Nado. Oleh karena itu tata cara penerimaan tamu sangat diperhatikan. Tamu yang dimaksudkan disini adalah tamu istimewa yang bisaanya hanya datang sesekali ke suatu kampung atau desa, misalnya gubernur, bupati, camat, kepala desa, uskup, pastor, anggota dewan, dsb. Ketika tamu-tamu tersebut datang, maka mereka akan diterima dengan tata cara/upacara adat, yang disebut dengan Tuak Pekejang.

Dayak Lebang Nado merupakan salah sub suku Dayak yang tinggal di Pulau Kalimantan Barat. Secara umum, suku Dayak Lebang Nado tinggal di sekitar kaki bukit Lalau Batu. Secara Geografis bukit Lalau Batu tidak jauh letaknya dari Bukit Kelam. Selain itu, suku Dayak Lebang Nado juga tinggal di sepanjang pinggir Sungai Inggar dan Sungai Nuak. Kedua sungai ini adalah anak dari Sungai Kayan, sedangkan sungai Kayan adalah anak dari sungai Melawi. Sungai melawi merupakan anak dari sungai Kapuas, yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Barat. Suku Dayak Lebang Nado ini tersebar di 17 kampung. Ketujuh belas kampung itu ada di kecamatan Kayan Hilir dan Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang (Alloy, dkk. 2008: 220).

Tuak Pekejang adalah minuman alkohol yang diisi dalam sebuah mangkok yang cukup besar. Mangkok yang dipakai juga bukan sembarang mangkok, melainkan mangkok yang telah dipakai turun temurun dari para leluhur. Tuak Pekejang tersebut diletakkan dalam sebuah tempat yang menyerupai rumah akan tetapi tidak memiliki dinding, hanya memiliki atap saja. Ketika tamu yang hendak diterima akan memasuki kampung, maka kepala adat dan sejumlah masyarakat akan bersiap-siap menyambut tamu tersebut di gerbang masuk menuju kampung. Ketua adat akan mengucapkan selamat datang, yang kemudian dilanjutkan pemberian Tuak Pekejang kepada tamu tersebut. Tamu tersebut wajib meminum Tuak Pekejang tersebut, tetapi tidak harus habis (mengingat isinya cukup banyak). Tamu tersebut dapat membagikannya kepada rombongan yang menyertainya. Upacara Tuak Pekejang bisaanya dilakukan di gerbang masuk menuju kampung. Bagian lain dari upacara Tuak Pekejang adalah pemotongan tebu yang diletakkan sebagai palang di depan gerbang. Setelah meminum Tuak Pekejang, tamu yang disambut akan memotong tebu tadi menggunakan Mandau. Mandau adalah senjata khas yang dimiliki oleh semua suku Dayak. Bentuknya menyerupai pisau panjang. Yang sangat unik dari madau adalah apabila ia diikatkan di pinggang, maka mata pisau yang tajam selalu terarah ke atas atau ke atas dan tidak ke bawah sepertinya halnya pada senjata-senjata jenis pisau lainnya (Muhrotien 2012: 15). Setelah upacara Tuak Pekejang selesai, bisaanya tamu akan dikalungi bunga, lalu dipersilahkan masuk ke kampung.

Upacara tuak pekejang memang terlihat sangat sederhana dan sangat singkat. Namun demikian, maknanya sungguh sangat dalam dan kaya. Dengan meminum tuak pekejang, tamu yang datang benar-benar diterima sebagai saudara dan keluarga oleh masyarakat setempat. Tuak, sekali lagi merupakan symbol persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan meminum tuak pekejang, tamu masuk ke dalam budaya masyarakat setempat. Ia menjadi bagian dari masyarakat tersebut selama ia berada di kampung atau desa tersebut. Orang Dayak, dalam kesehariannya sebenarnya hidup dalam semangat cinta kasih, tidak ada perbedaan perlakuan satu sama lain (Muhrotien 2012: 22). Terhadap setiap orang yang datang berkunjung, orang Dayak Lebang Nado Nado mesti menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang baik. Untuk mengungkapkan rasa hormat dan penghargaan tersebut, masyarakat Dayak Lebang Nado memiliki cara tersendiri, yakni dengan menyuguhkan Tuak Pekejang. Tuak Pekejang yang diletakkan dalam sebuah tempat yang menyerupai rumah akan tetapi tidak memiliki dinding, hanya memiliki atap saja, memiliki arti bahwa masyarakat menerima tamu tersebut datang ke rumah ataupun ke wilayahnya. Sedangkan gerbang yang dipalangi dengan tebu dan dipotong menggunakan Mandau, memiliki arti bahwa segala rintangan dalam bentuk apapun, sesulit dan sesusah apapun dalam hidup dapat dihadapi dan diatasi oleh manusia. Intinya adalah manusia dapat menghadapi rintangan yang datang menghalangi. Selain itu, makna yang ingin ditonjolkan dari upacara Tuak Pekejang ini adalah persahabatan. Orang Dayak Lebang Nado sangat menghargai persahabatan dengan sesamanya, termasuk sesama yang berasal dari kampung atau daerah lain. Sesama benar-benar dipandang sebagai bagian dari dirinya. Dalam persahabatan, “engkau” tidak lagi sebagai pribadi “lain” yang berbeda dari aku, melainkan menjadi aku yang lain (Riyanto 2011: 192). Manusia Dayak Lebang Nado sebenarnya sangat menghidupi paham kesederajatan dalam diri setiap manusia. Masyarakat Dayak Lebang Nado menyadari bahwa subjek-subjek yang lain sama seperti aku adalah subjek. Kesamaan ini tidak sekedar mengatakan kesederajatan, melainkan meneguhkan pengakuan atas keberadaan orang lain dalam kekhasannya, dalam keseluruhan keunikannya (Riyanto 2011: 192). Begitulah kebersamaan dan persahabatan dihidupi oleh manusia Dayak Lebang Nado, sesama dipandang sebagai aku yang lain, yang turut meneguhkan keberadaanku.

  • Bibliografi

  • Bibliografi

    Alloy, Surjani, dkk., 2008. Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, Institut Dayakologi: Pontianak.

    Cici, Kristiana, 2016. Tradisi dan Budaya Dayak Lebang Nado, dlm http://kristianacici.blogspot.co.id/2016/11/tradisi-dan-budaya-dayak-lebang-nado.html (diakses 6 Maret 2017)

    Muhrotien, Andreas, 2012. Rekonstruksi Identitas Dayak, TICI Publication: Yogyakarta.

    Riyanto, Armada, 2011. Berfilsafat Politik, Kanisius: Jogjakarta


    Oleh :
    Robertus Moses (robertmoseslazaris@gmail.com)