Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Mangase Taon (Batak Toba, SUMUT: Perayaan Tahun Baru)


Perayaan tahun baru batak adalah mangase taon, takkala pada penghujung tahun dan sebelum turun ke sawah, digelar persembahan agung horbobius (kerbau). Mangase taon artinya ialah perayaan tahun baru. Perayaan ini selalu dirayakan di penghujung tahun. Pada saat perayaan, ada pemotongan kurban agung yaitu kerbau atau dalam bahasa batak disebut horbobius. Menarik bahwa mata kurban ini dipilih dengan cermat, seekor kerbau jantan yang muda dan pilihan. Kerbau kurban, horbobius, ini harus murni dan tidak bernoda (tidak pernah berseraga dengan betina). Ia disucikan dengan pelbagai ritus inisiasi dan inaugurasi. Lewat segala upacara inisiasi dan konsekrasi, mata kurban kurban, horbobius menjadi sakral dan pusat segala perlambangan kosmos. Ia menjadi lambing seturut unsur alam dan seluruh reksa hukum alam manusia, utamanya pernikahan.

Dikandangkan di bawah kolong rumah parsidung (tuan pesta) sakralitas horbobius semakin terakumulasi lewat segala ritus penyucian dan penabalan. Dia menjadi lambang bumi lama dan bumi baru yang akan dicipta secara ritual dan real dalam upacara pengurbanan horbobius. Melambangkan gemuruh penciptaan alam semesta oleh sang khalik, Mulajadi Nabolon, diadakan ritus mandungdang. Di malam pekat tanpa bulan, sekitar pukul 20.00 WIB, seorang ahli menabuh tambur raksasa sehingga menimbulkan suara gemuruh pada malam yang sunyi. Di rumah masing-masing orang harus teduh dan bersuci hati memusatkan upacara sebagai tindak penciptaan bumi baru. Penabuhan dungdang berlangsung tujuh malam berturut-turut. Sedangkan bagian dari setiap dungdang terdiri atas tujuh babak juga (bilangan tujuh adalah lambang kepenuhan). Pada setiap babakan, diadakan dua kegiatan lainnya. Pertama adalah resistasi atau lantunan mitos penciptaan yang berisi kisah penciptaan asal-mula yang ajaib oleh Allah tinggi Mulajadi Nabolon dan para dewa. Sang khalik dimohon turun dan mewujudkan kembali penciptaan alam semesta. Kedua, adalah ritus mandudu, ritus penilikan mata kurban, horbobius yang dijadikan omen bumi baharu. Lambang terpenting kedua dari hari raya tahun baru mangase taon adalah borotan. Borotan sebagai tiang persembahan dipilih dari pohon pilihan. Pencarian dan pemilihan pohon untuk borotan bersama dengan pembenahannya, yakni memotong segala ranting dan puncak sehingga tinggal sebuah tiang besar, dilakukan dengan segala takzim dan takwa dalam sakralitas ritus yang sepadan. Tiang persembahan dipacakkan pada pusat pengasean, alun-alun persembahan, yang dipilih sanggup menampung ribuan bani. Borotan lantas didandani dengan bermacam ranting, daun-daunan simbolis warna-warni, termasuk janur dan juga kelengkapan perlambangan pelaku kayangan, masing-masing terjadi lewat ritus yang sebanding. Akhirnya, tiang persembahan tampak sebagai sebatang pohon rindang yang segar, muda dan asri. Borotan adalah lambang kuasa mencipta, kuasa penyelenggara dan kuasa sang khalik Mulajadi Nabolon dalam menjadikan kosmos. Lewat pohon penciptaan inilah Mulajadi Nabolon mendapat gelarnya”Pemula Agung Genesis Kosmos

Unsur hakiki ketiga ritus dari ritus mangase taon adalah pengurbanan dan penyambutan kurban. Setelah waktunya genap dan pada penghujung perayaan, horbobius diarak secara ritual dihadapan segenap bani ke borotan. Lewat ritus yang saling berpadanan, kembali kerbau kurban disakralkan. Ia diiring tujuh kali mengelilingi borotan, artinya tanda kegenapan waktu dan kepenuhan mutu. Kemudian diikat pada borotan dan selanjutanya ditikam dan dikurbankan. Seluruh bani terkesiap dan terserap teror ilahi takkala menyaksikan pengurbanan. Lalu mereka kembali ke kediaman mereka masing-masing dan meninggalkan para punggawa agama untuk menjagainya sepanjang malam. Pada keesokan harinya mereka berkumpul kembali untuk menyambut jambar, na margoar, porsi kurban sakral bagi keluarga masing-masing. Dengan segala hormat dan takwa “sakramentum” atau sipir ni tondi (peneguh jiwa), ini ditahtakan dan disambut oleh para anggota keluarga pada setiap rumah tangga. Beberapa makna bakti raya kepada sang khalik ini dapat dilukiskan. Menurut penghayatan batak, yang tertuang dalam mitos (kisah figuratif) penciptaan kosmos perdana, pada asal mula ajaib, sang khalik telah menjadikan banua tonga dengan segala isinya. Manusia diturunkan dari penghuni kayangan ke banua tonga. Si boru deang parujar, ibunda umat manusia dan suaminya si raja ihat manusia turun dari kayangan untuk menempa dan menghuni bumi (Eva dan Adam Batak). Bumi mereka adalah paradis perdana bahari (kehidupan bahagia) yang bebas dari jerih, kecemasan, penyakit dan kematian. Mereka hidup dalam paradis kebahagiaan perndana sempurna.

Perayaan tahun baru mangase taon mengandung beberapa tujuan. Perayaan ini digelar untuk memulihkan keselarasan dalam alam semesta, mengakhiri kekacauan yang timbul dari ketakselarasan kosmos. Keselarasan dimengerti sebagai berkecamuknya musibah dan kekacauan. Menurut (Vorgouwen. 1964:76), Motif-motif utama menggelar ritus-ritus kurban ini ialah paceklik dan kecemasan kegagalan panen berikutnya, penyakit menular, utamanya cacar, kolera tahun dan kesejahteraan dan sangat berhubungan dengan fungsi perayaan pembaharuan (Tobing 1956:153).

Pohon-pohon sakral yang disebut di atas ialah selalu dipandang sebagai pemunculan dan penyaluran hidup sarkal yang berasal dari Allah. Sampai kepada kehidupan Batak, Aagar melimpah hasil pertanian dan ternak, peranan pohon kehidupan dan penyelenggaraan dipuja dalam bentuk ritus dengan ranting pohon beringin (tohang-tohang) dalam sebuah ampang dan ditanamkan pada homban ni juma (sumber mata air mengairi sawah). Seampang beras, yang dipacaki dengan ranting beringin (tohang-tohang), dihantar pada hari bertuah ke tengah sawah. Ranting beringin ditanam di tanah dan dittimbuni dengan pasir basah. Inilah bunti atau santisanti (persembahan beras), semoga turunlah hujan kemakmuran (sipandan partanoan), sai gabe na niula, sinur na pinahan (subur tanaman dan ternak). Jelas-jelas bahwa fungsi ranting (beringin) mengungkapkan perlambangan pohon kehidupan dan penyelenggaraan, lewat penyuburan pertanian dan ternak, sumber penghidupan utama Batak Toba.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Sinaga Anicetus, 2004. Dendang Bakti Inkulturasi Teologi Dalam Budaya Batak, Medan: Bina Media Perintis.

    Tobing. 1956. The Structure of The Toba-Batak Belief in The High God, Amsterdam.


    Lihat Juga

    Jambar (Batak Toba, SUMUT: Hak atau Bagian)  Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon (Batak Toba, SUMUT: Kekayaan, keturunan, kehormatan) 

    Oleh :
    Joan Nami Pangondian Siagian ()