Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Ruwatan ( Tradisi Jawa, Desa Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta Jawa Tengah: “Berkaitan dengan Pembebasan Kuasa roh jahat atau Buang Malapetaka”)


Ruwatan dalam bahasa jawa kuno berarti salah atau rusak. Rinuwat artinya dirusak atau dilepaskan. Ruwat dapat diartikan dibuat tak berdaya, sedangkan kata ngruwat artinya membebaskan dari roh jahat atau malapetaka ( Reksosusilo, 2006:32). Latar belakang terjadinya rirual sebagai berikut: Ruwatan merupakan ritual khas tardisi Jawa. Tradisi ini berkaitan erat dengan mitos Batara kala. Alkisah, pada jaman dahulu kala Batara Guru dan Dewi Uma dalam perjalanan ke Kahyangan dengan menggunakan kendaraan lembu Andhini. Ketika Dewi Uma terterpa sinar matahari yang bersinar cemerlang, wajahnya menjadi sangat nampak cantik. Kejadian ini membuat Batara Guru sangat menginginkannya sehingga nafsunya sangat bergelora. Namun sayang Dewi Uma menolaknya, karena tidak tahan, dan terburu oleh napsu sperma Batara Guru keluar dan tercecer di bumi.

Masalah mulai muncul. Sperma Batara Guru yang tercecer tersebut menjelma menjadi sebuah raksasa besar. Pada suatu hari raksasa tersebut datang ke Kahyangan dan meminta makanan. Raksasa tersebut tidak makan sebagimana manusia makan. Raksasa tersebut makanannya ialah manusia. Batara guru lalu berjanji akan memberi makan. Setidaknya terdapat 60 jenis makanan Batara kala, diantaranya anak laki-laki tunggal, anak perempuan tunggal, orang yang suka membakar rambut, orang yang senang membakar jenggot, dan lain sebagainya.

Mendengar banyaknya jenis makanan Batara Kala, seorang perdana menteri yang bernama Batara Nada protes. Melihat keadaan ini Batara Guru membatasi makanan Batara Kala. Ia berpesan kepada Batara Kala, bahwa barang siapa bisa membaca tulisan matra yang ada di dadanya, berarti bisa mengalahkannya, artinya Batara Kala tidak dapat memangsa orang tersebut. ( lih Armada Riyanto, 2016:9-13) Terdapat banyak macam ruwatan, namun saya hanya akan membahas mengenai Upacara Ruwatan Murwakala. Ruwatan ini dilakukan bagi keluarga yang hanya mempunyai dua anak perempuan saja.

Berikut saya akan menuliskan Upacara Ruwatan Murwakala yang dilaksanakan di Desa Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta Jawa Tengah. Upacara Ruwatan Murwakala berupa sukerta kembang sepasang ( keluarga hanya mempunyai dua anak, kedua-duanya perempuan). Dalam acara Upacara Ruwatan Murwakala, banyak yang terlibat, baik secara langsung maupun secara tidak lansung.

Pelibat langsung ialah sesuatu yang kasat mata (tidak kelihatan) namun kehadirannya dapat dirasakan. Ia adalah Tuhan. Dia menjadi tujuan/puncak dari ruwatan, karena hanya Tuhan yang dapat membebaskan manusia dari segala bahaya. Manusia hanya dapat berusaha sedangkan Tuhan adalah Dia yang mengabulkan. Dalang menjadi tokoh sentral, karena ia menjadi penghubung/perantara kepada Tuhan yang mempunyai kekuatan di atas segala kekuatan. Dalam Tradisi Ruwatan Murwakala, dalang yang memimpin merupakan dalang turunan (turun temurun) dan diakui secara publik mampu berkomunikasi dengan mahluk-makluk gaib (Bdk Mariani, Lies. 2016:59).

Pelibat tidak langsung, ialah nereka yang hadir secara real, dapat dilihat. Mereka ialah golongan sukerta, orang tua sukerta, para penonton, para undangan, sinden, priyaga, pembuat sajen dan penyelenggara acara. Setiap orang mempunyai peran masing-masing sesuai dengan kpasitasnya. Tokoh inti dalam upacara ini ialah anak-anak sukerta, kendati demikian orang tua juga menjadi bagian penting karena mereka yang mengambil inisiatif pertama.

Keluarga bapak Jono yang sudah hidup berkeluarga selama puluhan tahun, hanya mempunyai dua orang anak perempuan. Pak Jono bersama istri sesungguhnya sangat mendambakan seorang anak laki-laki. Sebagaimana yang juga dirasakan oleh orang-orang yang hidup dalam budaya patrilinearisme, rasanya kurang komplit kalau belum mempunyai anak laki-laki. Segala usaha telah dilakukan, namun harapan tinggallah harapan, satu tahun, dua tahun, sampai bertahun -tahun ia tak kunjung mendapatkan anak laki-laki. Maka yang mereka lakukan ialah merawat pemberian Tuhan yang sudah mereka berikan dengan sebaik myungkin. Sebagai orang Jawa, Pak Jono sadar bahwa kedua anaknya perempuan, makan hal ini kurang baik. Hal ini bukan hannya merupakan sebuah mitos, namun sebuah tradisisi yang sudah mereka jalani. Maka yang dilakukan pihak keluarganya ialah melakukan ruwatan Murwakala terhadap kedua anaknya.

Pelaksanaan Ruwatan Murwakala disesuaikan dengan waktu hitungan jawa yang dianggap baik. Prosesi ruwatan ini dibagi menjadi tiga bagian penting.

Upacara pembuka. Upacara ini meliputi tiga hal, kirab, sungkeman dan golongaan sukerta kepada ki dalang. Dalam acara pembuka ini, kedua putri Pak Jono yang merupakan kembang sepasang akan melakukan kirab arak-arakan dari halaman rumah menuju tempat pagelaran wayang kulit. Mereka akan dihantar oleh cucuking lampah. Setelah sampai, cucuking lampah akan menyerahkan sukerta kembang sepasang kepada dalang pemimpin upacara. Setelah itu, orang tua atau yang mewakili akan menyerahkan kedua anak yang akan diruwat kepada dalang ruwat, dan kemudian sang dalang akan menerimanya. Setelah acara penyerahan selesai, sukerta kembang sepasang akan melakukan sungkeman kepada kedua orangtuanya, orang yang dituakan dan kepada dalang ruwat.

Bagian Inti. Upacara inti ini meliputi enam upacara yakni, pagelaran wayang, sukerto duduk dibelakang wayang, pembacaan kidung untuk dalang, sukerto menginjak bambu wung-wang, potong rambut dan yang terakhir siraman. Dalang sebagai pemimpin upacara akan menerima Dalang Kandala Buawa, setelah itu ia akan memulai perannya sebagai pemimpin upacara yakni memainkan wayang, serta beberapa upacara yang ada di dalamnya. Sementara dalang memainkan wayang, di samping kelir disediakan perlengkapan upacara sesajen. Adapun uborampe sesajen sebagai berikut: gedang, tuwuhan, sega, buah-buahan, dan beras. Dalang melakukan pagelaran dan para sukerta akan duduk dibelakang kelir sampai pagelaran wayang selesai. Pagelaran wayang terus berjalan dan sampailah pada acara dalang membaca mantra, para sukerta menginjak bambu wung-wang hingga pecah. Dengan pecahnya bambu itu, berakhir pula pagelaran waya murwakala. Acara selanjutnya, dalang akan didampingi kedua orang tua sukerta melakukan potong rambut. Setelah melakukan acara potong rambut akan dilaksanakan upacara siraman. Air yang dipakai untuk siraman merupakan air yang berasal dari tujuan mata air, air tersebut ditaburi kembang setamaa. Setelah itu, para sukerta akan mandi, sehabis mandi, mereka harus berganti pakaian karena pakaian yang dipakai selama upacara harus diserahkan kepada dalng untuk diruwat/dilarung. Upacara penutup berupa penyerahan kembali mantan sukerta oleh dalang kepada orang tua. Dengan demikian Upacara Ruwatan Murwakala sudah selesai.

Upacara Ruwatan Murwakala dilaksanakan pada bulan sura yang merupakan awal tahun penanggalan jawa. Waktu pelaksanaan ruwatan ini harus berada dalam bulan yang suci, karena mereka percaya ritual tersebut merupakan acara komunikasi dengan Tuhan, roh leluhur dan penguasa alam. Dalam upacara Ruwatan yang menjadi sumber tujuan ialah Tuhan, seberapa pun besar usaha manusia, tetapi jika Tuhan tidak berkenan maka kesembuhan tidak akan terjadi. Dalam tradisi ruwatan nampak jelas relasi antara manusia dengan sesama dan dengan tuhan. Dalang sebagai penghubungan dengan Tuhan.

Simone de Beauvoir mengatakan bahwa keberadaan laki-laki dan perempuan berbeda peran dalam kehidupan sosial. Perempuan tidak mempunyai otonomi, dihadapan masyarakat perempuan itu lemah dan tidak penting (Bdk. Armada, Marcelius, Paulus (eds) 2011:103-106) Ruwatan Murwakala diadakan karena dalam sebuah keluarga hanya mempunyai dua anak perempuan, menurut mitos hal ini akan menjadi makanan Batara Kala. Di satu sisi, dalam kebudayaan patrialinear keberadaan anak laki-laki sangat dinantikan. Terdapat perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki akan menjadi tulang punggung keluarga, orang yang bertanggungjawab terhadap kedua orang tua pada hari tuanya. Anak laki-laki juga akan mewakili keluarga untuk melakukan segala kegiatan, misal gotong royong, kerja bakti, dan banyak hal lain yang tidak dapat diwakili oleh pihak perempuan. Dengan demikian tujuan dari Ritual Ruwatan Murwakala sesungguhnya juga memohon berkat kepada Tuhan untuk memperoleh keturunan anak laki-laki.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Mariani, Lies. 2016, Upacara Ruwatan Tradisi Surakarta. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

    Riyanto, Armada, 2006. Ruwatan dalam Budaya Jawa dalam Studia Philosiphica et Theologica vol.6. Malang: STFT Widya Sasana

    Riyanto, Armada, Christy, Marcellius Ari, dan Widodo, Punjung Widodo (eds), 2011. Aku dan Liyan, Malang: Widya Sasana Publication.

    Reksosusilo, 2016. Ruwatan dalam Budaya Jawa dalam Studia Philosiphica et Theologica vol.6. Malang: STFT Widya Sasana


    Lihat Juga

    Asok tukon ( Tradisi Jawa, Desa Rogobelah, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah: “Tali Pengikat Sebelum Perkawinan”)  Ruwahan (Tradisi Jawa, Desa Rogbelah, Kecamatan Selo, Boyolali Jawa Tengah: “Berkaitan dengan Silaturahmi”)  Wiwit (Tradisi Jawa, Desa Rogobelah, Kecamatan Selo, Boyolali Jawa Tengah: “Berkaitan dengan Upacara Tanam dan Panen”) 

    Oleh :
    Prof. Armada ()