Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

“Neka Poka Pu’ar Boto Mora Usan (jangan menebang hutan supaya hujan turun)” “Neka Tapa Satar Boto Mata Kaka (jangan membakar padang supaya burung tetap hidup)”


Ungkapan neka poka pu’ar boto mora usan” “neka tapa satar boto mata kaka merupakan bentuk larangan bagi masyarakat Manggarai agar tidak menebang hutan ataupun membakarnya. Ungkapan neka poka pu’ar boto mora usan” “neka tapa satar boto mata kaka secara harafia diartikan sebagai berikut neka poka pu’ar boto mora usan berarti jangan membakar hutan supaya hujan turun; neka tapa satar boto mata kaka berarti jangan membakar padang supaya burung tetap hidup. Namun ungkapan ini tidak sebatas larangan agar masyarakat di tempat tersebut tidak melakukan pembabatan dan pemabakaran hutan secara tidak bertanggung jawab; melainkan ungkapan ini bermakna agar masyarakat menjaga serta melindungi kelestarian alam dari kekuasaan dan kerakusana manusia sendiri. Oleh karena itu, terminologi ini (neka poka pu’ar boto mura usan dan neka tapa satar boto mata kaka) sangat tepat untuk menghentikan tindakan manusia yang tidak baik atau yang selalu menghancurkan keindahan alam tersebut. Ungkapan naka poka pu’ar boto mora usan dan neka tapa satar boto mata kaka merupakan ungkapan untuk melestarikan alam. Pelestarian alam adalah bagian dari suatu gaya hidup yang melibatkan kemampuan untuk hidup bersama dan dalam persekutuan (Fransiskus 2015:169., no. 228).

Di kabupaten Manggarai Timur, kecamatan Elar Selatan, Desa Golo Wuas yang kurang lebih 80 km dari pusat kota; untuk menjaga kelestariaan alam ada satu ungkapan yang sangat melekat dalam setiap pribadi masyarakat di daerah tersebut yaitu “neka poka pu’ar boto mora usan” “neka tapa satar boto mata kaka”. Ungkapan ini begitu melekat dalam kehidupan masyarakat di daerah itu, sehingga alampun masih sangat hijua dan terlindung. Masyarakat di daerah ini (kampung Nio) yang hampir seluruhnya adalah petani ladang (bercock tanam), mempunyai relasi yang baik dengan alam. Alam menjadi tempat mereka mencari nafka.

Ungkapan neka poka pu’ar boto mura usan dan neka tapa satar boto mata kaka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Nenek moyang Manggarai (khususnya di kampung Nio) adalah orang-orang yang keseharian bekerja kebun dan berburuh. Tindakan-tindakan yang demikain selalu berkaitan dengan hutan. Hutan menjadi sasaran dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat manggarai pada zaman itu.

Ungkapan neka poka pu’ar boto mora usan merupakan ungkapan cinta yang mendalam dan satu bentuk kepedulian bagi masyarakat Manggarai untuk menjaga keindahan alam. Orang Manggarai yang kesehariannya adalah bercocok tanam (kerja kebun) sebagai mata pencarian yang utama (Nggoro 2016:24), melihat alam sebagai ibu (bdk. Riyanto 2013: 30) yang memberi kehidupan dan yang menyediakan seluruh kebutuhan hidup mereka. Alam menjadi sumber kebutuhan mereka setiap hari. Ungkapan neka poka pu’ar boto mora usan berlatar belakang dari pekerjaan orang Manggarai yang merupakan bercocok tanam; karena bercocok tanam berarti mengelola alam untuk menghasilkan makanan guna mempertahankan hidup baik pribadi, keluarga maupun kelompok. Dengan demikian ada kesempatan bagi masyarakat Manggarai untuk mengelola alam sekehendaknya. Melihat pemahaman yang demikain, maka munculah ungkapan neka poka pu’ar boto mora usan sebagai bentuk larangan agar masyarakat Manggarai bisa mengontrol diri selain mengelola juga perlu merawat alam agar tetap indah dan memberi kehidupan.

Neka poka pu’ar boto mora usan satu pemahaman yang sungguh sangat luar biasa karena bagaimanapun juga pada zaman-zaman itu masyarakat Manggarai belum mengenal pendidikan, tetapi mereka bisa sampai pada pemahaman yang demikian indah yaitu ketika

terjadi pembabatan/penebangan hutan maka akan meyebabkan kekeringan; hutan dipahami sebagai sumber terjadinya hujan, maka dengan demikain kehancuran hutang karena menebangnya secara liar akan mepengaruhi kehidupan merka sendiri yang penghasilannya adalah bercocok tanam (kerja kebun) yang selalu membutuhkan hujan untuk memberi kesuburuan bagi pekerjaan mereka. Ungkapan neka poka pu’ar boto mora usan merupakan ungkapan yang tidak lahir pada dewasa ini; melainkan unkapan ini (neka poka pu’ar boto mora usan) sudah diwariskan oleh nenek moyang orang Manggarai sejak dulu.

Sedangkan ungkapan neka tapa satar boto mata kaka memiliki latar belakang yang berbeda dengan ungkapan sebelumnya. Nenek moyang Manggarai pada umumnya adalah orang-orang yang sangat pandai dalam berburuh. Dalam berburuh ini mereka menbunuh binatang-binatang liar yang hidup di hutan maupun yang ada di padang. Cara mereka berburu yaitu dengan menunggang kuda (saka jaran) dan membawa tombak (kurun) jika berburuh di hutan sedangkan jika berburuh di padang dengan cara membakar padang agar binatang yang ada di dalamnya mati. Tentu tindakan ini menghacurkan atau merusak keindahan alam itu sendiri. Selain itu juga, semua jenis binatang yang ada di padang tersebut habis terbakar karena api. Maka dari situ, muncul ungkapan neka tapa satar boto mata kaka ini. Ungkapan neka tapa satar boto mata kaka merupakan bentuk kesadaran nenek moyang Manggarai akan pentingnya melindungi semua ciptaan Tuhan yang hidup di bumi ini.

Konteks berburuh nenek moyang Manggarai saat itu adalah berburuh babi hutan (ngaruk) rusa (dalam basaha manggarai juga disebur rusa) dan kerbau hutan (dokong mila). Tiga jenis binatang ini menjadi sasaran perburuhan mereka pada zaman itu. Selain karena daging yang enak juga karena pada zaman mereka dulu tiga jenis binatang ini sangat banyak. Dalam perburuhan ini tidak pernah pergi sendiri-sendiri; melainkan selalu bersama-sama lima sampai sepuluh orang. Dalam perburuhan ini khususnya ketika berhadapan dengan dokong mila dan mendapat perlawana dari binatang tersebut; maka, jika tidak ada yang menolong akan kehilangan nyawa dari orang yang bersangkutan. Sungguh nenek moyang orang Manggarai sangat pandai dalam menghadapi binatang liar. Ketika mengalami kesulitan atau berhadapan dengan dokong mila hanya sendirian maka cara supaya bebas dari perlawanan kerbau liar tersebut yang bersangkutan harus menarik napas dalam-dalam yang dalam pemahaman mereka pada saat itu sangat membantu untuk melepaskan diri dari ancaman binatang liar (dokong mila); karena dengan tindakan menarik napas maka kerbau liar/hutan (dokong mila) membiarkan yang bersangkutan terbaring di situ. Pemahaman yang demikain mengandaikan bahwa mereka telah mengenal kelemahan dari binatang-binatang liar tersebut. Untuk sampai pada pemahaman yang luar biasa ini, mengandaikan mereka mempunyai hubungan dengan binatang lair; karena untuk mengenal kelemaham dan kelebihan dari sesuatu membutukan perkenalan.

Ungkapan neka poka puar boto mura usan dan neka tapa satar boto mata kaka merupakan bentuk kepedulian dan ungkapan rasa cinta yang sangat mendalam bagi masyarakat Manggarai dalam membangun relasi dengan hutan dan binatang-binatang yang hidup di dalamnya. Pembabatan dan pembakaran hutan merupakan tindakan kerakusan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup baik untuk diri sendiri maupun kelompok. Dengan demikian menjaga alam sangat penting bagi orang Manggarai; karena dari alam mereka mendapatkan seluruh kebutuhan hidup dan alam yang menyediakan seluruh apa yang diperlukan dalam hidup mereka. Pemahaman yang demikian luar biasa ini menghantar masyarakat di daerah tersebut untuk tidak mengelola alam sebebas-bebasnya. Di daerah tersebuat alam menjadi sahabat yang selalu memberikan kehidupan bagi mereka.

Oleh karena itu, ungkapan neka poka puar boto mura usan dan neka tapa satar boto mata kaka merupakan ungkapan yang menyatakan betapa dalam dan dekatnya relasi manusia (masyarakat kampung Nio) dengan semua ciptaan Tuhan di bumi ini (bdk. Paus Fransiskus 2015:49., no 66). Relasi itu terungkap dengan tidak menebang hutan yang merupakan rumah/tempat bagi binatang untuk berkembang biak atau membakarnya guna memenuhi kebutuhan pribadi atau golongan tertentu. Alam menjadi pasangan hidup ketika dia dijaga, dirawat dan melindunginya. Tetapi relasi manusia dengan alam menjadi tidak harmonis ketika manusia melihat alam sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Harmoni antara penciptaan, manusia dan semua ciptaan dihancurkan karena kita mengira dapat mengambil tempat Allah, dan menolak untuk mengakui diri sebagai makhluk yang terbatas. Hal ini juga yang menyebabkan salah pengertian atas mandate untuk “menaklukkan” bumi (kejadian 2:28), untuk “mengusahakan dan memeliharang” kejadian 2:25). Akibatnya, hubungan yang awalnya harmonis antara manusia dan alam, berubah menjadi konflik (lihat kejadian 3:17-19) (Paus Fransiskus 2015:49., no 66)”.

  • Bibliografi
  • Lihat Juga

  • Bibliografi

    Nggoro, Adi M. 2016. BUDAYA MANGGARAI SELAYANG PANDANG, Ende: Nusa Indah.

    Paus Fransiskus. 2015. ENSIKLIK LAUDATO SI’ Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Martin Harum OFM (penerjemah) Jakarata: abor.

    Riyanto, Armada CM. 2013. MENJADI-MENCINTAI Berfilsafat Teologis Sehari-Hari. Yogyakarta: Kanisius.


    Lihat Juga

    Porak Bakok (kulit batang pisang putih)  SOPEL (Denda)  Rasan di’a-di’a kope (mengasahi parang baik-baik) 

    Oleh :
    Venansius Vikroltus ()