Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Permainan Abui (Bahasa Dayak Abai: hal “menghargai padi”)


Abui adalah permainan yang biasanya disebut permainan mencari Raja padi. Ungkapan ini merupakan cetusan yang menggambarkan sikap menghargai tanaman padi melalui suatu tradisi, salah satunya adalah permainan Abui. Melalui permainan ini sikap manusia yang menghargai alam masih sangat kental; inilah suatu cetusan etika lingkungan hidup yang sekiranya mengantar kita pada suatu pertanyaan: apakah saya menghargai saudara alam semesta ini? (bdk. Fransiskus 2014: 8). Mari kita telusuri bersama kearifan lokal yang menjadi kekhasan suku Dayak Abai ini.

Di suatu wilayah Kalimantan Utara terdapat suatu desa kecil yang letaknya 80 km dari pusat kota Malinau. Desa ini adalah kediaman suku Dayak Abai; suku ini termasuk suku yang telah ada di wilayah Kalimantan Utara sejak dahulu. Desa Sentaban yang didiami oleh orang Dayak Abai ini, dapat dijelajahi dengan kendaraan darat (seperti sepeda motor dan mobil) dan juga kendaraan sungai (seperti ketinting, spead boat). Desa ini memiliki pemandangan yang indah dengan beberapa bukti yang mengihasi bagian utara desa; dan aliran sungai Malinau yang mengalir tenang dibagian Timur (bdk. Alfais 2008: 13). Orang Dayak Abai adalah suku yang terbiasa hidup dekat aliran sungai, mengapa? Karena sungai dahulunya menjadi sumber pencaharian hidup mereka seperti tempat mandi, mencuci pakaian kotor, sumber air untuk minum, dan juga menjadi tempat untuk mencari ikan sungai (bdk. Sitanggang 1983: 16). Seiring berkembangnya zaman, desa ini dapat ditelusuri melalui jalan darat dengan menggunakan sepeda motor ataupun mobil, yang pada zaman dulu hanya dapat ditempuh dengan kendaraan air.

Kehidupan masyarakat suku Dayak Abai pada umumnya menggantungkan diri pada alam, seperti bertani sawah, ladang gunung ataupun berkebun (bdk. Bamba 2003: 32). Pada bagian ini kita hanya melihat secara mendalam tentang proses berladang, terutama bagian memanen padi yang telah matang. Memanen padi dalam tradisi dayak Abai adalah hal yang sakral atau memiliki ritual yang harus dijalankan. Ritual ini tampak dalam suatu permainan yang membutuhkan kesepakatan diantara mereka (bdk. Kunjan 2005: 196). Permainan ini disebut permainan Abui (Bahasa Dayak Abai: mencari raja padi). Permainan ini dilakukan ketika sekelompok orang yang hendak memanen padi salah satu keluarga yang mendapat gilirannya untuk dipanen (bdk. Kunjan 2005: 114). Permainan Abui, diawali dengan adanya kesepakatan diantara mereka yang hendak memanen padi tersebut. Namun jika diantara mereka tidak menyetujuinya, permainan ini akan dibatalkan, mengapa? Karena menuntut adanya kepercayaan diantara mereka bahwa akibat permainan ini mengandung resiko yang membahayakan. Hal yang sama terjadi, jika tidak mengambil sikap serius dalam tradisi memanen padi dalam tradisi adat Dayak Ketungau (bdk. Kunjan 2005: 13). Setelah kesepakatan telah menjadi keputusan bersama, barulah permainan ini dilakukan.

Proses Permainan yang diawali kesepakatan ini, dilakukan oleh seluruh orang yang hendak memanen padi salah satu keluarga yang mendapat gilirannya. Sebelum memulai memanen, mereka membentuk dua kelompok yang nantinya memanen padi menggunakan ani-ani/rakapan yaitu alat pemotong padi (bdk. Sitanggang 1983: 42), sambil mencari padi yang disebut Abui (Raja padi). Abui ciri-ciri atau bentuknya berbeda dari padi biasanya, maka dari itu disebut raja padi. Artinya, bentuk raja padi lebih indah dari bentuk padi biasanya; memiliki butir dan tangkai padi yang besar, daunnya yang unik dan indah ketika dipandang. Permainan yang didasari kesepakatan ini, dilanjutkan dengan memanen padi. Kedua kelompok tersebut bersaing mengumpulkan Raja padi sebanyak mungkin; semakin cepat mereka memanen, maka semakin cepat pula mereka menemukan Raja padi diantara padi-padi yang lain (bdk. Kunjan 2005: 113). Menjelang siang bertepatan jam untuk makan siang, kedua kelompok tersebut menghitung jumlah Abui yang mereka dapatkan dari hasil memanen. Ketika selesai menghitung jumlah Abui, masing-masing kelompok mencari satu ekor belalang yang nantinya diikat pada kumpulan Abui tersebut. Setelah itu kelompok yang satu memberikan ikatan Abui tersebut kepada kelompok yang lain. Kelompok yang menyerahkan ikatan Abui nya mengatakan isi dari kesepakatan yang telah ditetapkan sejak awal. Isi kesepakatan itu adalah, jika kelompok yang menerima ikatan Abui tersebut tidak dapat mengembalikan jumlah Abui seperti yang diberikan, akibatnya baju yang mereka kenakan akan terbakar.

Penjelasan mengenai alasan baju yang terbakar tidak memiliki dasar yang jelas; namun hal inilah yang menjadi akibat dasar dan nyata dapat terjadi jika kelompok tidak menepati janji yang berdasarkan kesepakatan. Setelah selesai memotong padi yang biasanya hingga sore hari, kedua kelompok kembali mengumpulkan dan menghitung jumlah Abui yang didapat. Setelah selesai menghitung, kelompok yang mendapat Abui lebih sedikit hendaknya langsung memberikan baju yang dikenakan, mengapa? Karena jika tidak, baju yang dikenakan akan terbakar dengan sendirinya; hal ini sungguh-sungguh terjadi. Setelah proses permainan Abui yang menemani memanen padi ini berakhir, Abui yang telah terkumpul dan diikat dengan seekor Belalang, digantung di depan Lumbung padi keluarga tersebut (bdk. Bamba 2003: 41). Abui yang tergantung itu terlihat nyaman dan indah untuk dipandang. tidak sekedar hiasan, melainkan menggambarkan suatu usaha menghargai padi dengan suatu permainan (bdk. Fransiskus 2014: 3). Melalui permainan ini, orang Dayak Abai merasa sangat terhibur karena dapat membawa suasana kerja yang nyaman. Suasana kerja yang menghilangkan rasa lelah karena teriknya Matahari.

Panorama tradisi yang didalamnya terdapat permainan Abui ini setidaknya memberikan warna baru bagi kita untuk kembali menyadari relasi dengan alam. Permainan Abui ini layaknya pematik bagi kita untuk kembali menyalakan semangat untuk menyadari betapa dunia, bumi ini sedang menangis. Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si mengajak kita untuk segera membuka mata dan melakukan gerakan perubahan dari diri kita sendiri (bdk. Fransiskus 2014: 152). Bumi ini sangat kaya; tetapi pandangan manusia yang serakah; bumi dijadikan penghasil, dikuras dan Indonesia yang sedang mengalami penderitaan itu. Indonesia yang prakmatis karena kedangkalan etika, mengapa? Karena mentalitas kita tidak untuk melestarikan alam, tetapi menjadikannya sebagai penghasil (bdk. Fransiskus 2014: 24). Maka dari itu melalui tradisi yang didalamnya terdapat permainan Abui ini, kembali bersuara dengan dengan membawa beberapa ikat tangkai raja padi yang berusaha menyadarkan kita bahwa alam perlu dijaga.

  • Lihat Juga

  • Lihat Juga

    Tradisi Menangan (Bahasa Dayak Abai: hal “Bekerja sama”)  Tradisi Nutul dan Nyubon (Bahasa Dayak Abai: hal “menghargai alam”)  Permainan Arang dan Usag Bakul (Bahasa dayak Abai: hal “Kebersamaan”) 

    Oleh :
    Martinus ()