Ensiklopedia Filsafat Widya Sasana
| Tentang EFWS

Tradisi Menangan (Bahasa Dayak Abai: hal “Bekerja sama”)


Menangan adalah ungkapan yang menjadi cetusan kegiatan kebersamaan dalam kebudayaan orang dayak Abai. Tradisi menangan telah menjadi tradisi yang mewarnai kehidupan berkomunitas, bermasyarakat yang ada di desa Sentaban. Tradisi menangan ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang baru menjalani hidup berkeluarga. Melalui tradisi ini, ia (yang posisinya sebagai menantu) terlibat dalam hidup bersama di tengah masyarakat Suku Dayak Abai dalam kesehariannya.Tradisi ini mengajak kita untuk melihat dinamika relasi yang terjadi diantara mereka. Setiap orang yang hidup dalam suku ini, memperhatikan yang lain sebagai Liyan (bdk. Riyanto 2011: 36). Bukan sebagai orang asing. Seperti apakah panorama nilai baik yang mengabdi hidup berkomunitas dalam suku Dayak Abai ini? Seperti apa komponen etika komunitarian dengan relasi pada sesama? Mari kita telusuri bersama.

Kepulauan bumi Kalimantan tepatnya di Provinsi Kalimantan Utara, terdapat suatu daerah yang memiliki tradisi. Yaitu tradisi hidup saling bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan (bdk. Bonoh 1985: 9). Di wilayah Provinsi Kalimantan Utara ini, tepatnya di Kabupaten Malinau, kecamatan Malinau Barat, berdiamlah kumpulan masyarakat Dayak Abai yang hidup di suatu desa yang berada di pinggiran Sungai Malinau (bdk, Alfais 2008: 13). Desa itu adalah desa Sentaban. Desa ini berada di hulu Sungai Malinau; dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor atau mobil. Namun juga dapat ditelusuri lewat aliran Sungai Malinau dengan menggunakan perahu/sampan. Orang Dayak pada umumnya menyukai hidup di hulu sungai; sehingga kata “Dayak” pada mulanya memiliki arti “orang hulu” (bdk. Asyarie 1985: 1).Mayoritas masyarakatnya adalah orang Dayak Abai; mereka dalam hidup setiap harinya menggunakan bahasa Dayak Abai, dan pada umumnya pekerjaan mereka adalah petani ladang sawah dan gunung. Hal yang sama dengan suku-suku Dayak yang berada di Kalimantan, salah satunya adalah suku Dayak Benuaq (bdk. Asyarie 1985: 8).

Desa Sentaban yang didiami oleh Suku Dayak Abai ini memiliki tradisi yang intensinya adalah membantu sesama; gotong royong dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Berbeda halnya dengan Dayak Benuaq yang hanya menjalin kerja sama hanya berdasarkan garis keturunan (bdk. Asyarie 1985: 12). Tradisi ini dikenal dengan sebutan menangan (Bahasa Dayak Abai: hal “bekerja sama”). Mengapa tradisi menangan ini dilakukan? Sebenarnya tradisi menangan ini merupakan tradisi lanjutan dari tradisi purut (Bahasa Dayak Abai: hal ”kebersamaan”); atau istilah lainnya adalah mas kawin yang diberikan ketika diadakannya suatu perkawinan. Hal yang berbeda dengan tradisi Dayak Tonyooi yang tidak memiliki mas kawin/purut (bdk. Lahajir 2007: 46). Tradisi menangan ini pada dasarnya hanya sebagai cetusan dari ungkapan terimakasih dari seorang menantu kepada saudara suaminya (iparnya).

Proses dari tradisi menangan ini biasanya diikuti oleh setiap orang yang menjadi satu kelompok temuyun (Bahasa Dayak Abai: hal “bekerja sama”) yaitu yang dilakukan dan terjadi ketika musim berladang, tepatnya saat panen. Tradisi berladang dengan berpindah tempat adalah salah satu cara untuk menjaga kelestarian hutan (bdk. Asyarie 1985: 9). Salah seorang dari kelompok temuyun yang telah terbentuk ini, terdapat seorang perempuan yang baru saja menikah; maka kelompok inilah yang terlibat dan mewujudkan tradisi menangan. Biasanya tradisi menangan ini diikuti oleh setiap orang yang masing-masing telah memiliki keluarga inti (anak, istri, suami); namun tidak menutup kemungkinan orang yang belum menikah terlibat dalam tradisi ini.

Tradisi menangan ini terjadi ketika seseorang yang awal menjalani hidup keluarga, meminta kepada kelompok temuyun yang telah menjadi kelompoknya, agar membantunya dalam mewujudkan tradisi menangan ini. Artinya mengucapkan terimakasih kepada saudara atau saudari dari suaminya (iparnya); hal ini dapat terjadi karena ketika proses perkawinan, mereka dibantu dalam segala hal yang memperlancar proses perkawinan tersebut. Tradisi ini mirip dengan proses perkawinan suku Dayak Benuaq (lih. Asyarie 1985: 17). Tradisi menangan ini diawali suatu perjanjian antara sang menantu dengan iparnya. Artinya, memberitahukan kedatangan kelompoknya untuk melakukan tradisi menangan diantara mereka.

Perjanjian ini gunanya agar keluarga yang dikunjungi tersebut dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu. Setelah perjanjian ini disepakati, kelompok datang ke keluarga tersebut (iparnya), dengan membawa barang-barang yang sekiranya dapat membantu kelangsungan hidup mereka. Misalnya seperti sembako atau benda-benda antik yang diakui oleh suku Dayak Abai (mandau,gong, tempayan, perisai, atau sumpit). Benda-benda atau sembako yang diberikan adalah tanda kepedulian dari kelompok terhadap seseorang yang sedang belajar menjalani hidup berkeluarga; dan hal tersebut diteruskan sang menantu kepada iparnya. Hal ini bukanlah soal barter, tetapi suatu sikap kepedulian dalam hidup bersama.

Panorama tradisi menangan ini terwujud dengan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama. Pekerjaan yang dilakukan pada intinya membantu meringankan pekerjaan keluarga yang dikunjungi tersebut. Tidak peduli dengan bentuk pekerjaan yang dilakukan, asalkan hal itu dapat membantu proses hidup mereka. Namun biasanya, tradisi menangan ini dilakukan ketika musim panen padi telah selesai; maka pekerjaan yang dilakukan saat tradisi menangan ini biasanya diisi dengan merontokkan benih padi dari tangkainya (bdk. Kunjan 2005: 114). Tetapi tidak menutup kemungkinan kegiatan lain juga mengisi tradisi menangan ini.

Tradisi ini biasanya dilakukan mulai dari pagi hari sampai dengan sore hari sebelum gelap (kira-kira jam 17.00 WITA). Biasanya, barang-barang atau sembako yang dibawa oleh kelompok, digunakan untuk keperluan tradisi ini. Setidaknya membantu biaya yang dikeluarkan oleh keluarga yang dikunjungi. Mengapa hal ini dilakukan? Hal ini dilakukan agar suasana kebersamaan itu semakin terasa diantara mereka. Setelah pekerjaan yang dikerjakan secara bersama-sama tersebut selesai, maka keluarga tersebut juga memberikan benda atau barang yang mewakili ucapan terima kasih mereka kepada kelompok sang menantu tersebut. Barang/benda tersebut biasanya juga berupa benda antik seperti gong, guci/tempayan, sumpit, dan mandau (bdk. Sitanggang 1983: 81). Barang/benda ini hanya menjadi simbol kebersamaan mereka yang diharapkan dapat terus dijaga bersama dalam hidup saling membantu. Lalu apa makna dari tradisi menangan ini?

Kita telah melihat panorama hidup gotong royong yang dilakukan oleh suku Dayak Abai dalam hidup mereka sehari-hari. Hidup gotong royong itu tercetus dalam sebuah tradisi menangan. Tradisi ini mewakili akan adanya nilai hidup komunitarian diantara mereka; hidup yang tidak hanya mementingkan kebutuhan diri sendiri (bdk. Riyanto 2011: 36).Tradisi menangan ini juga menjadi cetusan dari arti hidup bersama, hidup berkomunitas yang sesungguhnya. Tradisi ini diawali dengan perjanjian, kesepakatan yang dilakukan oleh dua orang.

Melalui kesepakatan ini juga kita diperlihatkan, diajak (tidak jadi penonton tradisi menangan), agar memupuk sikap saling percaya dan dialog pada sesama; seperti maksud yang diungkapkan ASK agar bekerja bersama-sama membangun tata hidup manusia (bdk. Riyanto 2014: 3). Bahkan barang/benda yang diberikan oleh kelompok temuyunsang menantu kepada keluarga yang dikunjungi, adalah suatu simbol persaudaraan, ikatan yang terjadi dijaga agar tidak putus; hidup yang didasari kesadaran, bahwa manusia, siapapun dia, tidaklah bisa hidup seorang diri.

  • Lihat Juga

  • Lihat Juga

    Tradisi Nutul dan Nyubon (Bahasa Dayak Abai: hal “menghargai alam”)  Permainan Arang dan Usag Bakul (Bahasa dayak Abai: hal “Kebersamaan”)  Permainan Abui (Bahasa Dayak Abai: hal “menghargai padi”) 

    Oleh :
    Martinus ()